
"Kau tak perlu melakukannya karena aku sendiri yang akan menyiapkan kebutuhan suamiku di rumah. Jadi jangan pernah masuk ke kamarnya untuk alasan pekerjaan. Apa kau paham nona Yura?" Ujar Milea tegas dengan mata tajamnya. Kening Yura mengrenyit.
"Maaf nyonya, tapi yang saya masuki adalah ruang kerja tuan muda. Bukan kamarnya. Tak ada aturan yang melarang seorang asisten pribadi memasuki kamar kerja tuannya karena itu sudah sesuai dengan prosedur saya nyonya." Bukannya takut dengan perkataan tajam Milea, Yura malah balik menatapnya berani dan menyatakan jawabannya yang tentunya membuat Milea meradang.
"Ruang kerja suamiku adalah kamarnya juga." sergah Milea yang sudah dikuasai emosi tanpa sebab. Entah kenapa dia jadi kesal mendengar bisik-bisik para ART yang memuji kecantikan Yura tadi.
"Owwh ..itu artinya anda juga tinggal di ruang kerja tuan muda ataukah mungkin...anda pisah ranjang dengannya?" Asisten ini amat lain. Bagaimana bisa seorang asisten yang seharusnya patuh pada istri majikannya malah berani mengulik masalah pribadinya? Kali ini Milea sangat ingin menjambak rambutnya dan menjatuhkannya ke lantai.
"Itu bukan urusanmu nona Yura! Aku hanya ingin kau tak lagi masuk ke ruang kerja suamiku!" terdengar sekali nada tak suka dari bibir Milea. Semua pelayan serempak menundukkan kepalannya, tapi lain halnya dengan Yura yang tetap menatap istri majikannya itu datar.
"Yang mempekerjakan saya adalah tuan muda Rafael nona. Perintah beliaulah yang saya turuti. Maafkan saya jika mengucapkan ini." ucapnya penuh penyesalan walau wajahnya sama sekali tak nampak menyesal.
"Terserah kau saja!" dan Milea berjalan cepat menuruni tangga, mengetuk pintu ruang kerja suaminya lalu membukanya. Dia hanya ingin bicara empat mata dengan Rafael sekarang.
__ADS_1
"Kak...." suara Milly tercekat di tenggorokan saat melihat Rafael keluar dari kamarnya dengan bertelanjang dada. Tubuh bawahnya hanya berbalut handuk saja.Tampaknya pria tampan berwajah kebulean itu baru saja menyelesaikan mandinya dan buru-buru mengambil ponselnya yang ada di meja kerjanya. Tatapan keduanya bertemu. Tapi Rafa seolah tak peduli dan tetap berjalan ke arah benda pipih iti berada lalu menyentuh tombol hijau di layarnya. Milea dibaut rikuh karenanya.
"Hallo dad..." Rupanya dady Nando yang menelepon. Setelah salam dan sapaan, Rafa lebih banyak diam mendengarkan perkataan dadynya diseberang sana. Wajah tampannya terlihat amat serius sekarang.
"Tentu saja. Yura sudah banyak membantuku hari ini dad. Dan bisa kutebak jika pilihan dady tak salah. Selain cantik, dia rajin dan cekatan." Milea melengos mendengar Rafael memuji wanita lain di hadapannya. Hatinya terasa panas.
"Baiklah dad, sampaikan salamku pada momy. Sampai jumpa besok." Setelah menutup panggilannya, Rafa meletakkan ponselnya lalu menatap lurus Milea yang masih mematung ditempatnya.
"Ada apa Milly?" Salahkah Milly jika sekarang otaknya jadi blank? Jangankan menanyakan soal Yura, membuka mulut saja dia sudah salah tingkah.
"Baiklah, tunggu aku ganti baju dulu." Tanpa menunggu jawaban Milly, Rafa segera masuk ke kamar yang dia gunakan beristirahat. Milly bisa melihat bagian dalamnya karena pintu yang tak tertutup sempurna. Disana, Rafa membuka lemari pakaian yang bahkan hanya seperempat lemari yang ada di dalam kamarnya sendiri. Ranjang yang dia pakai juga tak sebesar ranjang king size di kamarnya. Walau tak sempit, kamar diruang kerjanya juga hanya berukuran dua kali kamar mandi di kamarnya karena fungsinya memang hanya untuk istirahat sementara. Milea merasa memperlakukan Rafael dengan buruk dan tidak adil selama tinggal di rumahnya. Sekarang dia tau kenapa dady Nando tak pernah bersikap ramah padanya. Dia sudah bertindak keterlaluan sebagai seorang menanti yang baru masuk ke dalam keluarga konglomerat itu.
"Kenapa kau masih berdiri disana? duduklah!" Milea tergagap. Dia terlalu asyik melamun hingga tak memperhatikan kedatangan suaminya. Tubuh kekar itu sudah kembali ke hadapannya dengan polo shirt warna putih dan celana selututnya.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Rafa yang sudah lebih dulu duduk kembali bertanya.
"Untuk apa Yura masuk ke kamar kakak?" akhirnya, pertanyaan itu terlontar juga meski dihinggapi ketakutan. Milea memberanikan diri menatap wajah tampan Rafael.
"Itu memang tugasnya." jawab sang tuan muda Hutama santai. Bolehkah Milea meradang sekarang? kenapa jawaban suaminya sama dengan Yura tadi? apakah ada sesuatu yang tidak dia ketahui?
"Tapi kak...ini kamar kakak. Asisten pribadi tidak bisa keluar masuk....."
"Dia akan tetap begitu meski kau melarangnya. Jangan lupa jika ini juga ruang kerjaku Milea." potong Rafael cepat membuat Milea terdiam seketika. Entah kenapa ada yang terasa sakit di sudut hatinya.
"Permisi tuan muda." Rena sudah berdiri membawa nampan berisi secangkir kopi yang asapnya masih mengepul mendekat lalu meletakannya di meja. Kini Milealah yang merasa tertampar. Bahkan dengan statusnya sebagai seorang istri dia tak pernah melakukan kewajibannya dengan benar. Untuk kopi saja Rafael dibuatkan pembantu, bukan dirinya.
"Jadi Milly, kau sendiri bukan yang minta agar kita tak saling ikut campur? kurasa kau tak perlu terlalu mengatur Yura. Dia profesional dan punya etika yang baik." lanjut Rafael sembari menyeruput kopinya.
__ADS_1
"Baik kak." Apa lagi yang bisa Milly lakukan? Protes? sudah percuma. Dia bahkan sudah cukup malu pada dirinya sendiri karena merasa amat lalai dan tak bertanggung jawab sebagai seorang istri.
"Aku...permisi." Rafa mengangguk. Memang lebih baik begitu bukan? dia tak harus berlama-lama di dekat Milea.