
Milly menatap suaminya yang makan sangat lahap malam itu. Mungkin karena udang adalah salah satu menu favoritnya, tapi Rafa terlihat amat lapar malam itu. Berbulan-bulan tinggal bersama membuat Milly tau jika suaminya amay mengatur pola makannya. Tak ada porsi banyak dimalam hari. Tapi malam ini, Rafael melanggar kebiasaannya di kediaman Hutama. Jika ditanya apa Milly suka? tentu dia sangat suka karena Rafa bahkan memakan semua masakannya tanpa sisa, artinya kerja kerasnya memasak tak sia-sia.
"Ini kopimu mas." Rafael menerima cangkir kopi dari tangan Milea setelah menghabiskan air putihnya. Sungguh perutnya terasa kenyang saat itu. Tapi Mily sudah terlanjur membuatkannya kopi. Tak baik jika dia menolaknya. Berlahan diseruputnya kopi hitam itu dan menikmati rasa pahit dan manisnya penuh perasaan.
"Kenapa pulang malam?" Rafael menoleh pada istrinya yang menatapnya intens.
"Apa papa sudah tidur?" Bukannya menjawab mantan CEO Hutama grup itu malah balik bertanya.
"Sejak jam tujuh tadi papa sudah tidur. Dokter memang menyarankan banyak istirahat agar cepat pulih." Rafael mengangguk. Walau jarak kamar utama dan ruang makan lumayan jauh, tapi Rafael harus menjaga semua kemungkinan termasuk saat papa Ken tiba-tiba muncul walau itu tak mungkin. Suster Mega pasti akan muncul duluan sebelum papa mertuanya itu keluar dari kamar.
"Aku pulang malam karena ada sedikit masalah di pabrik." Jelas Rafa tenang sambil kembali menyesap kopinya.
"Masalah? sampai semalam ini?" Rafa menganggukkan kepalanya.
"Beberapa mesin mengalami kerusakan dan tak bisa dioperasikan. Mekanik pabrik sudah keluar dan tak ada yang mau menggantikannya. Rupanya mereka tau jika Bimantara mengalami masalah. Tepaksa aku dan karyawan yang membenarkannya." Milea mengikuti langkah Raffael yang menuju teras samping. Rumah besar itu terasa lengang. Semua penghuninya sedang beristirahat, tak terkecuali Leon yang malam ini menemani papanya karena suster Mega juga butuh istirahat setelah beberapa hari ini menjaga papa Ken.
"Memangnya mas Rafa bisa?" Rafael menarik sudut bibirnya mendengar pertanyaan lugu Milea.
"Sedikit-sedikit. Aku penah belajar soal mesin saat di London dulu." Jika mau jujur, dia juga lulusan sekolah tehnik waktu itu. Tapi sikap rendah hati selalu membuatnya enggan menjelaskan apapun tanpa diminta. Yang jelas dia masih bisa memperbaiki mesin-mesin itu agar bisa dioperasikan secara layak.
__ADS_1
"Kenapa tak memanggil mekanik lain?" buru Milea. Dia cukup tau mesin-mesin besar yang terlihat mengerikan di pabrik pengolahan baja.
"Milly, Bimantara sedang dalam masalah besar. Kami terlilit masalah keuangan yang cukup signifikan. Kami harus berhemat untuk bertahan. Karyawan yang tersisa bahkan rela digaji separuh saja demi kelangsungan Bimantara. Jika mereka saja rela berkorban kenapa aku tidak?" Tenggorokan Milea tercekat. Leon benar, suaminya sedang tak baik-baik saja sekarang.
"Itu alasan mas Rafa makan menu tadi?" Apa suara rendah Milly yang terus bertanya dan meminta jawaban adalah bentuk perhatiannya? Ahhh...Rafael tak berani menyimpulkan apapun. Kondisinya yang terpuruk dan sikapnya yang pernah menyakiti Milly membuatnya tak berani berharap terlalu banyak.
"Mas ...." Ulang Milea ingin tau.
"Hmmmm ....mulai sekarang aku harus banyak berhemat agar bisa menafkahimu Mil." Walau ada senyum tersungging di bibir sang tuan muda yang terbuang, tapi siapa yang tau jika hatinya sangat pedih sekarang. Dia bukan hanya harus berjuang mengeluarkan Bimantara dari kepailitan, tapi juga harus berjuang untuk mendapatkan maaf sang istri juga. Karena dirinya pula Milly jadi ikut kehilangan haknya sebagai menantu keluarga Hutama dan kembali ke rumahnya sendiri dengan posisi membawa dirinya yang sama sekali tak bisa berbuat apa-apa.
"Maafkan aku Milly." lirihnya penuh penyesalan yang mendalam.
"Soal Shania....aku..."
"Satu lagi, jangan tidur ditempat terpisah. Dirumahmu aku juga menempati kamarmu, maka akupun akan melakukan hal yang sama. Jangan bilang aku bertindak tak adil dikemudian hari." Lanjut Milea tanpa menatapnya. Rasanya ingin sekali memeluk tubuh indah itu saat ini karena luapan kebahagiaan yang membuncah dihatinya. Tapi dia tak punya nyali untuk melakukannya. Rafael merasa amat kecil bagi Milea.
"Sudah malam, sebaiknya mas Rafa cepat istirahat." Rafael menahan tangan Milea yang akan beranjak dari sampingnya hingga wanita muda itu berbalik menatapnya.
"Maafkan aku Milly...aku sungguh menyesali semuanya." lirih Rafael dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Bawalah Bimantara menjadi lebih baik, maka aku akan memaafkanmu." Senyum Rafael terkembang. Walau berat, tapi dia optimis bisa. Pengalamannya bekerja pada sang opa, Teguh Hutama sudah membuatnya belajar banyak hal. Bimantara memang tak bisa disehatkan secara instant, tapi setidaknya perusahaan itu bersih dari korupsi dan pikiran jahat. Bimantara dipenuhi oleh orang-orang yang tulus mempertahankannya.
Rafa bergegas memburu langkah cepat Milea ke dalam rumah. Kali ini dia bahkan merasa terbang saat memasuki kediaman Ibrahim yang dipenuhi nuasa coklat itu hingga termangu di ujung tangga. Rafael sudah kehilangan jejak Milea yang sudah lebih dulu memasuki kamarnya. Ragu...diketuknya pintu kamar itu lalu membukanya. Milly baru saja menutup lemari pakaiannya saat Rafael mendudukkan dirinya di sofa.
"Ini..." Rafael dibuat membeku ditempatnya saat Milea menyodorkan selembar kertas padanya. Kertas yang sama seperti pemberian Leon kemarin.
"Ini....."
"Aku tau kak Leon sudah berinvestasi pada Bimantara dengan warisan dari mama."
"Tapi kau tak perlu melakukannya Milly..." desis Rafael gusar. Bagaimanapun uang itu diberikan Ken untuk masa depan anak-anaknya. Sekarang kakak beradik itu malah kompak memberikan investasi padanya tanpa rasa ragu sedikitpun setelah perbuatan menyakitkan yang dia perbuat. Sebenarnya terbuat dari apa anak-anak keluarga Ibrahim itu hingga sama sekali tak sakit hati padanya? Mily yang kemarin amat dingin dan menghindarinya merubah sikapnya saat tau bagaimana kondisi dirinya. Seolah gadis itu tak pernah menyerah menyemangatinya walau dibalut sikap dingin dan wajah datarnya. Perhatian yang sama, cinta yang sama dan perjuangan yang sama seperti dia masih menjadi tuan muda Hutama.
"Milly...aku tak bisa menerimanya." Tolak Rafael seraya mendorong tangan Milly halus. Jika itu punya Leon dia masih bisa terima. Tapi ini adalah milik Milea, wanita yang seharusnya dia bahagiakan dengan memberinya nafkah yang cukup seperti wanita beruntung yang dipersunting keluarga kaya.
"Jika aku tak bisa memberikannya sebagai seorang istri karena aku sama sekali tak punya tempat dihatimu, maka anggaplah aku memberikannya sebagai investor yang menginginkan keuntungan dari Bimantara."
"Milly...apa yang kau katakan sayang?" desis Rafael penuh kemarahan. Kenapa Milly selalu saja merasa begitu?
"Aku mengatakan kebenaran mas. Aku tau hatimu...."
__ADS_1
.........grepppp.......
"Hatiku?? Hanya kau yang ada dan bertahta disana Milea." bisiknya sambil memeluk erat wanitanya, menepiskan semua rasa yang berkecamuk dalam rongga dadanya. Milly harus tau jika hari ini, detik ini...dia sudah jatuh cinta pada ketulusannya. Mungkin tak akan ada wanita setulus Milea baginya. Wanita yang sama sekali tak meninggalkannya saat jatuh dan terpuruk. Ya, dia sudah jatuh cinta tanpa bisa mengungkapkannya.