
"Ini bekal untukmu dan pak Man, Yura." Ujar Milea sambil mengulurkan dua kotak bekal yang tadi dibawanya pada Yura yang berdiri di sisi pintu mobil. Gadis itu mengangguk hormat pada Milea lalu menerimanya.
"Terimakasih nyonya muda." balasnya singkat. Yura sedikit menyingkir saat Rafael masuk ke mobilnya.
"Anda tak perlu repot-repot menyiapkannya untuk saya nyonya." lanjut Yura.
"Aku perlu menyiapkannya Yura. Begitu pula untuk pak Man karena kalian yang bertugas menjaga suamiku nantinya. Aku bukan hanya menganggap kalian pekerja, tapi juga saudara. Jadi Yura, lakukan tugasmu dengan baik karena aku mempercayakan suamiku pada kalian. Ingatlah, kepercayaan itu sangat mahal harganya." ucap Milea lembut, namun penuh tekanan. Hampir tiga kali dia menekankan kata suami saat berhadapan dengan Yura. Milea seperti memberikan pagar betis untuk menegaskan jika pernikahan keduanya baik-baik saja dab Rafael adalah miliknya. Yura mengangguk hormat.
"Baik nyonya muda." balasnya penuh rasa hormat.
"Sekarang berangkatlah. Semoga kalian selamat sampai tujuan juga hingga kembali kerumah." Milea menunggu semua pintu tertutup. Ditatapnya Rafael yang juga balik menatapnya penuh rasa takjub. Pria tampan itu melambaikan tangannya dan dibalas dengan hangat oleh Milea. Nyonya muda yang anggun dan penuh ketulusan.
Dari dalam rumah, bibi Desi membawa empat kotak susulan yang langsung dimasukkan ke dalam mobil kedua, tempat para pengawal yang akan menyertai Rafael pergi. Tentu saja semua tak luput dari pengamatan Yura, Sofia dan Fernando yang memang masih berdiri di beranda. Fernando memeluk lengan istrinya erat. Sebuah senyum smirk menghiasi bibir sang tuan besar Hutama itu saat sejak tadi melihat interaksi menantunya, juga mendapati Yura yang biasanya mencari gara-gara dengan Milea menunduk hormat pada menantunya yang terus tersenyum lebar dihadapannya. Milea menunjukkan kwalitasnya, dia memperjuangkan posisi dan harga dirinya dengan amat elegan.
"Mom...dad...mari masuk. Kita belum sarapan." Milea merangkul tubuh kedua mertuanya dengan wajah semringah. Seperti Sofia, Nandopun teringat pada Farah. Kelopak matanya berkaca.
__ADS_1
"Milly, kau tak perlu repot menyiapkan apapun untuk kami. Momy bisa sendiri." Sofia melarang menantunya membuatkan kopi dan susu hangat untuknya karena berniat membuatnya sendiri. Tapi Milea lebih cekatan dan mengerjakannya.
"Momy duduklah. Aku senang melakukannya. Tidakkah momy ingin menemaniku hari ini? Kak Rafa pergi ..aku jadi merasa kesepian." Sofia terkekeh pelan. Dia tau Milea hanya menginginkan teman bicara, bukannya kesepian karena tak ada suaminya. Hubungan mereka tak sebaik itu.
"Milly, sebenarnya momy mau. Tapi sungguh, hari ini momy harus ke rumah sakit. Ada jadwal operasi jam sembilan nanti. Tapi jika kau ada waktu, kita bisa ke mall untuk belanja selepas makan siang." tawar Sofia seraya menyendokkan makanan untuk Fernando.
"Benarkah mom? Ahh...baiklah, aku akan menyusul momy kesana siang nanti." wajah girang Milea membuat hati Sofia menghangat. Menantunya itu amat mirip dirinya dimasa muda. Bedanya Milea lebih ekspresif dan agresif. Tak seperti dirinya yang banyak diam. Tapi lihatlah semangat di matanya. Semua yang melihatnya pasti tau jika gadis itu pejuang yang pantang menyerah. Ahhhh....angan-angan Sofia melayang pada Fransisca. Ibu mertunya itu juga bersikap amat baik padanya. Dia juga ingin begitu. Memperlakukan menantunya bak putri sendiri. Dan dia yakin hal itu sama sekali tak sulit dia lakukan karena sifat Milea yang penyayang pada siapapun.
Setengah jam kemudian, Milea mengantar mertuanya ke pintu utama. Richard sudah datang menjemput walau tak disuruh. Seragam mengajarnya yang dulu membuat Milea amat terpesona melekat pas pada tubuh athletisnya. Jika dulu Milea sering berlama-lama menatapnya dengan tatapan memuja, hal itu tidak berlaku sekarang. Milea hanya menatapnya datar tanpa ekspresi. Richard sama sekali tak lagi menarik dimatanya.
"Jangan lupa susul momy nanti Milly. Asalamualaikum." Sofia mengelus kepala menantunya sebelum masuk ke dalam mobil.
"Bik, apa kalian semua sudah makan?" Milea menoleh ke arah Desi yang sejak tadi berdiri dibelakangnya.
"Belum nyonya." Milea melirik jam dinding. Sudah pukul delapan.
__ADS_1
"Kalau begitu cepatlah sarapan." Namun sesaat kemudian Milea menyadari sesuatu. Semua menu yang dimasaknya sudah hampir habis karena dibawakan untuk bekal dan sarapannya tadi. Kenapa dia lupa jika dirumah itu ada sepuluh pegawai yang tersisa? Ahhh...bodohnya!!
"Yul sedang menyelesaikan memasak nyonya. Kami akan segera sarapan setelahnya." Milea sedikit bernafas lega. Langkah panjang membawanya ke dapur.
"Apa yang kau masak Bi?" Yul yang asyik memasak segera memberi hormat pada majikannya.
"Tahu bumbu merah dan oseng kangkung nyonya." jawabnya tak enak hati. Sejujurnya Yul takut dikatakan lancang karena memasak tanpa minta ijin dulu dari sang nyonya muda. Milea menatapnya tajam.
"Masih ada persediaan udang dan ayam dikulkas bik. Masaklah untuk kalian." Yul terkesiap. Ayam maupun udang yang dimaksud nyonyanya adalah daging kwalitas terbaik yang hanya dimakan untuk majikan saja. Dulu sebelum bekerja dirumah itu dia juga koki dikeluarga pejabat, tapi untuk makanan mantan majikannya itu tak akan mencampur adukkan menunya dengan menu pekerja. Semuanya berbeda.
"Tapi nyonya...apa tidak sebaiknya kami membeli ayam atau udang biasa saja dipasar tradisional? Mungkin yang dikulkas terlalu mahal untuk kami." Milea menggeleng.
"Semua menu makananan dirumah ini sama. Apa yang kami makan, kalian juga boleh memakannya. Jangan pernah membedakan makanan bik." tegas Milea kemudian.
"Baik nyonya." Desi segera membantu Yul mengeluarkan persediaan ayam saja. Meski nyonya mereka memberikan kebebasan, tapi keduanya cukup tau diri dan hanya mengambil salah satunya. Toh mendengar keputusan Milea saja sudah membuat mereka senang. Setidaknya majikan mereka sangat peduli dan baik hati.
__ADS_1
Ponsel Milea berbunyi. Sebuah notifikasi dari platfrom berwarna hijau. Senyum cantiknya terkembang untuk kesekian kalinya saat nama Rafael tertera di sana. Bergegas dia membuka pesan itu. Sebuah foto yang menunjukkan Rafael memangku kotak makannya, menghabiskan nasi, lauk dan desert bikinanya.
'Terimakasih Milly, sarapannya sangat enak.'