
"Bagaimana keadaan papa?" Ken ibrahim tersenyum lebar saat Rafael datang seraya mencium punggung tangannya. Beberapa kali bahkan pria tua itu menepuk pundak menantunya, sebelum memeluknya. Ken memang belum boleh terlalu banyak bergerak pasca operasi.
"Papa baik, nak. Milly bilang kau baru pulang dari Taipe karena suatu pekerjaan. Syukurlah kau pulang dengan selamat." Rafael melirik Millea yang berdiri di dekatnya. Istrinya sama sekali tau bereaksi meski tau Rafa miliriknya. Wanita itu bahkan sudah membohongi papanya demi menyelamatkan nyawanya.
"Momy bilang papa sedang drop, karena itu aku memutuskan pulang lebih cepat. Maaf tak bisa menemani papa saat operasi kemarin." Ken tertawa ringan.
"Harusnya kau katakan itu pada istrimu. Lihatlah, matanya jadi bengkak karena terus menangisi papa. Dan lagi...kenapa bukan Milly yang menghubungimu?" Rafael terkesiap, tak menduga Ken akan menanyakannya secara detail.
"Aku sangat panik saat itu, pa." potong Milly cepat karena sama sekali tak ada suara dari Rafael.
"Nyonya Sofia yang mengoperasi papa saja tidak panik dan masih sempat menggubungi Rafa. Kenapa kau malah panik? Sepanik itu hingga tak ingat mengabari suamimu sendiri? atau...kalian sedang ada masalah?" buru Ken ibrahim saat merasa ada yang tidak beres pada Milea maupun Rafael.
"Kami baik-baik saja." Balas Rafa sambil tersenyum manis pada Milea. Tangan besarnya bahkan meraih jemari Milly dan mengecupnya lembut. Siapa yang tau jika setelahnya Milly malah mengusapkannya di rok panjangnya beberapa kali. Jijik.
"Sebaiknya kalian pulang saja. Leon akan menjaga papa." Ken telah menguap dua kali saat mengatakannya. Matanya bahkan sudah memerah karena serangan rasa kantuk akibat pengaruh obat tidur.
__ADS_1
"Saya ingin menunggui papa bersama Leon malam ini." Rafael harus melakukannya. Tinggal di rumah sakit dengan alasan menunggui sang mertua tak buruk di dengar. Setidaknya dia masih punya tempat menyandarkan dirinya malam ini. Entah besok pagi dia akan mencari tempat tinggal dimana. Tak diakui lagi sebagai bagian keluarga Hutama membuatnya tau diri. Dia tak punya hak untuk menempati dan menggunakan semua fasilitas keluarga Hutama. Tanpa dimintapun Rafa sudah menyerahkan semuanya termasuk rumah, apartemen dan mobilnya.
"Itu tidak perlu Raf. Istirahatlah di rumah, besok pagi saja gantikan aku karena aku ada meeting jam sembilan." Leon yang barusan masuk dan mendengar pembicaraan mereka bertiga segera menimpali. Dia tau Rafa perlu waktu untuk berdua dan menyelesaikan masalahnya dengan Milly. Sebagai seorang kakak, Leon sangat menginginkan kebahagiaan adik semata wayangnya itu.
"Tapi Lee ..." Tentu Rafa bimbang. Tapi semakin menolak, itu hanya akan memancing kecurigaan Ken. Maka Rafa memilih menganggukkan kepalanya.
"Pakai saja mobilku." bisik Leon sambil menyerahkan kunci mobilnya secara diam-diam pada Rafa. Mobil itu pula yang tadi dipakai Milly untuk menjemputnya.
Milly berjalan lebih dulu setelah pamitan. Enggan rasanya berjalan di dekat suaminya. Dia memilih berjalan cepat ke area parkir lalu menunggu di dekat mobil Leon di parkirkan. Milea segera masuk begitu pintu di buka dari dalam.
Tak ada pembicaraan apapun antara keduanya hingga Rafa membelokkan kendaraan ke arah yang berlawanan. Kening Milly mengerut karenanya.
"Kita mau kemana?" Tanya Milly makin penasaran. Tapi lagi dan lagi tak ada sahutan. Milly mengeram kesal.
"Sebenarnya kita mau kemana mas? Jawab!!!" Milly menyentak lengan Rafael penuh kekesalan hingga si pria membelokkan mobilnya ke sebuah hotel bintang tiga yang tak begitu jauh dari rumah sakit.
__ADS_1
"Malam ini kita menginap disinia saja." Kata Rafael pendek. Milly hingga harus tertegun karenanya. Menginap? hotel bintang tiga? apa Milly tak salah? Tuan muda Hutama, pemilik Alexa hotel, resto dan mall yang punya ribuan cabang di dalam maupun luar negeri malah menginap di hotel yang bisa dikatan tak berkelas seperti ini?
"Aku tidak mau!!" Rafael menarik nafas panjang.
"Kau tak suka? atau malu masuk kesana?" tanyanya dengan nada rendah.
"Kita punya rumah, untuk apa sewa hotel?" Rafael menundukkan kepalanya sesaat. Sebentar kemudian dia menatap lurus Milea yang juga menatapnya penug tanya.
"Milly....sejak peristiwa itu momy sudah mengusirku dari rumah. Semua aset sudah kukembalikan pada keluarga kami setelah richard resmi diangkat jadi CEO baru. Jadi aku sudah tak punya apa-apa lagi. Aku bahkan bingung harus membawamu kemana. Tentang hotel ini...maafkan aku yang harus banyak berhemat. Aku hanya punya keuntungan saham yang tak seberapa karena belum mendapat pekerjaan." Apa Milly harus trenyuh karenanya? Pria yang mulai dia cintai, bahkan sudah mengambil seluruh hatinya itu terlihat sangat bersedih dihadapannya. Tapi wajah melas Milly berubah garang saat mengingat Shane.
"Menginaplah disini karena aku akan pulang ke rumah papa. Aku masih punya rumah dan tak perlu menyewa hotel untuk bermalam." Baru saja hendak mengatakan sesuatu, Milly sudah keluar dari mobil kakaknya lalu berlari kecil mencegat taksi yang lewat. Tak dia hiraukan teriakan Rafael yang menyuruhnya berhenti.
.....ting!...
Rafa bergegas mengeluarkan ponsel dari saku celananya ketika mendengar notifikasi masuk.
__ADS_1
"Milly..."gumamnya.
'Jangan menyusulku ke rumah papa karena keluargaku juga sudah tidak menerimamu.'