Love You More, Husband

Love You More, Husband
Telur


__ADS_3

"Kemarilah. Untuk apa berdiri disitu?" Milea berjalan berlahan mendekati suaminya yang sudah duduk di sofa panjang sambil mengulurkan tangannya, namun Milea enggan menggapainya.


"Kenapa? apa kau juga tak mau duduk menemaniku?" tanya Rafael lirih mengarah pada rasa sedih yang tentu membuat sesuatu dalam dada Milea bergolak perih.


"Bukan. Aku belum mandi. Biarkan aku mandi dulu." dan tanpa menunggu jawaban suaminya Milea sudah berlari kecil menaiki tangga. Wanita muda itu memekik tertahan saat melirik jam dinding kamarnya menunjukkan pukul enam pagi. Tak biasanya dia terlambat bangun, apalagi tampil dengan muka bantal didepan suaminya yang bahkan sudah selesai mandi dan mencukur jambangnya. Milea mandi dengan tergesa, berganti pakaian lalu memoleskan bedak tipis di wajah ayunya. Dia harus bergegas turun.


"Milly." panggil Rafael saat Milly akan menuju dapur. Sontak putri bungsu Ibrahim itu menghentikan langkahnya. Rupanya Rafael masih duduk ditempat yang sama, entah menunggunya atau memang hanya menghabiskan waktunya disana.


"Ya?"


"Apa kau sungguh tak mau sekedar duduk bersama denganku?" Milea meruntuk dalam hatinya. Kenapa dia malah menuju dapur? Padahal jelas-jelas dia ingin menemui Rafael selepas mandi. Tubuh langsingnya beringsut menghampiri sang suami lalu mendudukkan tubuhnya di samping si pria.


"Apa kau sudah baikan?" Milea mengulurkan tangan untuk memeriksa suhu tubuh suaminya. Normal. Bercak-bercak merah ditubuhnya juga berangsur menghilang walau masih menyisakan beberapa disana.


"Hmmm...aku sudah biasa mengalaminya." sahut Rafael seraya tersenyum samar. Tak bisa memakan jenis telur dari kecil memang membuatnya tak bisa menikmati olahannya hingga pada jenis cake sekalipun. Jika dia sangat ingin, maka momy Sofia akan memberikannya juga obat alergi itu agar dia baik-baik saja.


"Maafkan aku. Ini tak akan terulang lagi." balas Milly dengan wajah dipenuhi penyesalan yang dalam. Dia ingat betapa Rafael sangat tak nyaman semalam. Rafael meraba pipi kanannya lalu membelainya.


"Aku malah ingin makan telur lebih banyak lagi hari ini." Mata coklat Milea melebar. Sontak dia mencengkeram tangan Rafael kuat sambil menggelangkan kepalanya.


"Tidak. Aku bahkan akan membuang semua persediaan telur dirumah ini." ancam Milea panik.

__ADS_1


"Milly, jika makan telur tiap hari bisa membuatku terus bisa memelukmu saat tidur, aku rela memakannya sampai kapanpun sayang..." Milea mengerjabkan matanya, bibir merah Rafael bahkan sudah beralih mengecup jemarinya penuh perasaan.


"Bik, sediakan aku telur mata sapi. Aku ingin sarapan." perintah Rafael saat melirik bi Desi memasuki rumah utama. Sang koki segera memberi hormat.


"Baik tuan muda." ucapnya sebelum melenggang memasuki dapur.


"Mas....kau tak perlu melakukan semua ini. Jangan makan telur lagi."


"Tidak jika kau mengijinkan aku memelukmu saat tidur." balas Rafael keras kepala. Milly bersungut kesal karenanya.


"Terserah jika kau tak mau diingatkan. Aku bahkan tak akan menolongmu jika hal kemarin terjadi." Rafael diam dan membiarkan Milea beranjak pergi dari sampingnya. Sudut bibirnya terangkat sebelum beranjak mengikuti istrinya menuju dapur.


"Sudah nyonya muda." balasnya sambil menunggu perintah majikannya. Tentu bi Desi bingung karena Rafael yang memerintahkan menu telur itu. Siapa sangka Milea sudah memindahkan dua-duanya ke piring kecil, mengambil garpu untuk memakannya.


"Bisa tinggalkan kami sendiri, bi?" bisik suara bariton terdengar halus itu dekat telinga bi Desi yang berdiri dibelakang Milea. Suara sang tuan muda menyadarkan bi Desi yang segera memberi hormat lalu pergi dari area dapur itu, demikian pula Rena juga seorang asisten lain yang memilih menyingkir. Membiarkan pasangan pengantin baru itu berduaan saja di dapur.


"Kau memakannya tanpa ijin padaku Milly." Milea tekejut. Telur mata sapi yang dimakannnya bahkan tercekat ditenggorokan. Pun saat Rafael membalikkan tubuhnya lalu mengusap sudut bibirnya yang terkena minyak karena makan dengan tergesa, Milly hanya diam mematung ditempatnya. Sebentar kemudian mulutnya kembali mengunyah disertai tangannya yang langsung memasukkan potongan terakhir dengan gerakan cepat dan mengunyahnya seperti takut keduluan. Ya, Milly memang takut keduluan.


"Aku sudah menghabiskannya." katanya dengan wajah serius yang malah membuat Rafael gemas dan mencubit pipinya. Dia yang tak punya adik perempuan tentu bergerak kaku saat melakukannya.


"Mau minum?" tawar Rafael saat melihat Milea yang masih berusaha menelan secara wajar. Tanpa menunggu jawaban, Rafa segera meraih gelas, menadahkan air lalu memberikannya pada Milea.

__ADS_1


"Terimakasih." ucap Milly usai menegaknya berlahan.


"Tapi urusan kita masih belum selesai Milea Hutama." bisik si pria sensual hingga bulu kuduk Milea meremang karena hembusan nafas Rafael yang menerpa hingga belakang lehernya.


"Urusan apa mas?" tanya Milea yang berusaha beringsut, mengatur jarak agar tak terlalu dekat. Nyatanya semua itu sia-sia karena Rafael sudah mengunci tubuhnya.


"Bibirmu harus dihukum!" dan tanpa aba-aba Rafael sudah mengecup bibir ranum Milea sesaat lalu membelainya. Lagi dan lagi sudut bibir Rafael terangkat karena Milea yang menutup rapat matanya seakan menikmati ciuman sang suami.


"Bibir ini..kenapa membuatku candu?" bisik Rafael sebelum ********** kembali, kali ini lebih dalam dan membuat Milea mendesah dalam permainan lidahnya juga membalasnya tanpa sadar. Rafael benar-benar sudah membuatnya mabuk.


"Lepas mas ..." bisik Milly dengan suara tersengal saat ciuman mereka makin menggila. Dengan sedikit keberanian dia mendorong tubuh Rafael meski dalam hati tak ingin lepas darinya.


"Nanti ada yang lihat." lanjutnya takut jika Rafa salah mengartikan gerakannya sebagai penolakan.


"Berarti kau mau jika kita pindah ke kamar?" Milea menggeleng ragu hingga Rafael tergelak dan langsung membawa putri Ibrahim itu ke dalam pelukan hangatnya dengan tawa yang terus berderai. Terlihat amat bahagia pagi itu.


"Terimakasih untuk pagi ini. Aku menyayangimu." lirihnya. Milea yang menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rafael sontak mengangkatnya.


"Tapi kau tak pernah mencintaiku." ucapnya tak kalah lirih, namun masih didengar oleh Rafael yang langsung memegang dagunya. Mengarahkan agar menatap matanya.


"Siapa yang bilang hemmm???"

__ADS_1


__ADS_2