Love You More, Husband

Love You More, Husband
Diabaikan


__ADS_3

"Rumah sakit jiwa?" ulang Leon lirih. Sungguh dia tak percaya jika Shane separah itu. Rafael menceritakan semuanya pada Leon tanpa kurang sedikitpun hingga dahi sahabatnya itu berkerut. Shane yang dia kenal bukan Shane yang sekarang. Mereka memang tidak dekat. Leon baru mengenal Shane setelah Rafa bertunangan dengannya. Bisa dikatakan hubungan mereka terjalin setelah Rafa dan Shane sama-sama menempuh pendidikan di London. Sedang Leon? pemuda itu memilih kuliah di unversitas terbesar di negeri ini sambil membantu Ken Ibrahim mengurus perusahaan keluarga mereka mengingat dia adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarganya.


"Raf, aku memang belum pernah berumah tangga. Tapi ada baiknya jika kau membicarakan setiap masalah dengan Milea karena dia istrimu. Meski Milly tak bisa memberimu solusi, setidaknya dia dan kami semua tak salah paham." Rafae mengangguk lemah. Dia memang salah karena menyembunyikan masalah sebesar ini dari Milea. Tapi Rafa hanya ingin Milly tak banyak pikiran mengingat dia belum sempat menceritakan masa lalunya secara detail.


Pintu ruang perawatan terbuka. Sesosok wanita paruh baya yang masih terlihat cantik keluar dengan jas putih bersihnya, lengkap dengan stetoskop yang bergantung di lehernya. Rafael dan Leon bergegas berdiri. Rafa bahkan segera mengambil tangan kanan sang wanita dan menciumnya takzim. Tak ada tanggapan apapun dari Sofia meski tak menolak putranya. Nyonya besar Hutama itu hanya mengatupkan bibirnya rapat lalu menoleh pada Leon.


"Papamu sudah lebih baik Lee. Mungkin dua hari lagi kau sudah bisa membawanya pulang. Aku akan mengutus salah satu perawat rumah sakit ini untuk membantu papamu selama dalam masa pemulihan." Leon hanya mengangguk sopan.


"Maaf sudah sangat merepotkan tante." Sofia menepuk lengan Leon pelan. Sebuah senyum terukir di bibirnya.

__ADS_1


"Kita saudara Lee, tak ada kata merepotkan. Apapun yang tante lakukan sekarang tetap tak akan sebanding dengan apa yang mama kalian lakukan." Ingin rasanya Leon menghambur memeluk Sofia. Melihatnya sekarang seperti melihat dokter Maya dimasa hidupnya. Tapi Leon masih bisa berpikir waras. Fernando pasti akan membuat perhitungan pada siapapun yang berani menyentuh istrinya, apalagi sampai menyinggung atau menyakitinya. Meski tak secara terang-terangan, Fernando pasti sudah menempatkan orang-orangnya untuk menjaga dan melindungi istrinya.


"Terimakasih tante." Mungkin hanya sebatas itu yang bisa dilakukan Leon. Setelahnya Sofia segera berlalu pergi tanpa menghiraukan kehadiran Rafael. Sang dokter melewatinya dengan santai seolah Rafael sama sekali tak ada disana.


"Bersabarlah Raf. Temui momymu besok dan jelaskan apa yang sebenarnya terjadi." Leon merasa iba saat melihat wajah murung Rafael. Dia cukup tau jika Rafa amat menyayangi ibunya.


"Itu semua tidak perlu Lee. Isriku tak akan pernah menerimanya sebelum Milea yang memohon padanya. Itupun hanya ketika Milea mengandung penerus keluarga kami." dua pria muda itu tersentak saat Fernando keluar secara tiba-tiba dari dalam ruangan. Tuan besar Hutama itu langsung melewati keduanya tanpa kata sebelum sempat menerima salam putra kesayangannya. Pria itu berlalu cepat menyusul istrinya.


"Aku akan menyuruh Milly melakukannya." Rafael menggelengkan kepalanya saat mendengar ide sahabatnya itu.

__ADS_1


"Itu sama sekali tak ada gunanya Lee. Orang tuaku menginginkan cucu sebagi penerus nama keluarga."


"Bukannya sudah ada Jose?" Rafael tersenyum masam.


"Jose adalah anak yang lahir diluar pernikahan. Keluarga kami menganggapnya cucu luar dan tak bisa jadi penerus utama. Rich juga tau itu semua. Meskipun nantinya Rich dan Shane menikah, tapi status Jose akan tetap sama." jelas Rafael panjang lebar.


"Peraturan keluarga kalian benar-benar rumit." keluh Leon sambil merenggangkan otot tubuhnya.


"Peraturan turun temurun yang akan tetap kami pegang teguh." tegas Rafael setelahnya.

__ADS_1


"Kalau begitu temui Milly dan jelaskan semuanya. Aku yakin dia akan memaafkanmu Raf. Kalian bisa membicarakan semuanya secara baik-baik." Saran bijak Leon entah untuk yang keberapa kalinya.


"Ya." balas Rafael kemudian. Leon menarik tangannya setengah memaksa masuk ke ruang perawtan.


__ADS_2