Love You More, Husband

Love You More, Husband
Mencoba


__ADS_3

Milea melangkah menemui papanya yang masih setia menunggu kedatangan mereka di ruang tamu dengan gelisah. Ken Ibrahim terus saja mondar-mandir tak jelas ditengah kegundahan yang merasuki hatinya. Meski dengan mata sembab, setidaknya Milly sudah tak lagi menangis. Leon sudah banyak menasehatinya agar tegar. Jika ada anak bungsu yang beruntung di dunia ini, maka Milly adalah salah satunya. Dia punya ayah yang bertanggung jawab dan kakak laki-laki paling baik di jagat raya ini.


Keberadaan Shane di apartemen Rafael sudah merupakan bukti jika Rafa memang masih menyimpan perasaan pada Shane. Dengan kata lain Rafael ingin menyembunyikan wanita itu dari Milea. Yang membuat Milly sakit adalah....kenapa Rafa tak bilang terus terang saja jika masih ingin kembali pada Shane dan anaknya. Milly akan pergi dengan suka rela dan melanjutkan hidupnya meski berat. Sekarang Milly tau kenapa Rafael tak pernah menyentuhnya setelah lebih dari tiga bulan pernikahan mereka. Tapi biarlah, Milly cukup tau diri untuk terus berharap. Ternyata berjuang seorang diri itu sesakit ini.


"Nak...kau..."


"Kita akan berangkat hari ini juga, pa." Ken Ibrahim segera merentangkan tangannya menyambut Milea ke dalam dekapannya dengan tangisan bercampur tawa. Kekhawatiran itu langsung sirna. Ketakutannya juga menguap begitu saja. Leon segera menghubungi seseorang diseberang sana. Tak ada acara berkemas. Mereka hanya akan membawa pakaian dan surat-surat penting saja. Dua pekerja rumah yang nekat ikutpun hanya membawa barang seadanya. Jadilah mereka berlima Pergi ke bandara menjelang maghrib tiba.


Tak ada lagi tangisan atau wajah sedih disana. Mereka berbagi tawa seolah baru liburan di tempat favorit. Tapi jika mau jujur itulah yang mereka lakukan. Meninggalkan Indonesia entah untuk berapa lama namun merasa hanya liburan sementara. Tak apa, asal mereka bahagia.


Leon berjalan lebih dulu menemui seseorang yang sudah menunggunya. Namun insting Milea menyuruh si wanita mengejar kakaknya yang sedang bicara dengan seseorang yang memakai hoodie dan kaca mata hitam, pakai masker pula. akan sulit mengenali siapa dia. Tapi Milly hafal siapa dia hanya dengan mendengarkan suaranya saja.


"Yura!!" dan sontak dua manusia berbeda jenis kelamin itu menoleh. Yura segera mengenggam tangan dingin Milea.

__ADS_1


"Kau ...."


"Milly, sebentar lagi kalian harus berangkat. Akan ada sepupuku yang akan menyambut kalian nantinya. Jaga dirimu." Milea masih menganga tak percaya jika Yura adalah orang yang berada di balik semua ini. Rasa takut jika Yura membocorkan keberadaan mereka pada Rafael berkecamuk. Bagaimanapun Yura adalah asisten Rafa. Akan sia-sia acara lari mereka jika akhirnya ketahuan juga.


"Jangan khawatir, Yura tak seperti yang kau pikirkan." Leon menepuk bahunya, membuat Milea mengerti. Kakaknya tak pernah bertindak ceroboh.


"Yura kau....."


"Jangan banyak bertanya Milly. Waktuku tak banyak. Kita akan bertemu satu minggu lagi disana." Yura segera berbalik dan melangkah lebar menuju pintu keluar tanpa menoleh sedikitpun.


"Tapi papa dan yang lain??"


"Mereka sudah masuk. Ayo, kita harus cepat." Milea mengangguk dan mengikuti langkah sang kakak.

__ADS_1


"Kakak sangat dekat dengan Yura?" Leon terkekeh.


"Tak sebaik itu." balasnya ringan.


"Memangnya kita mau pergi kemana kak?" Leon hanya menatap adiknya sekilas.


"Tempat dimana kau bisa menatap salju juga bunga sakura disekelilingmu." Milea menepukkan kedua tanganya seperti anak kecil yang girang karena mendapat mainan. Ya, sejak masih kuliah dulu Milly sangat ingin ke Jepang. Leon tersenyum lebar melihat tingkah kekanakan adiknya. Tak apa sesekali Milea bersikap demikian. Yang paling penting adiknya bahagia.


"Tunggu...bukannya ibu Yura adalah orang Jepang?"


"Ya, amanda Larsons berasal dari sana. Yang akan kita tempati juga rumah mendiang kakek Yura. Sudahlah...nikmati saja kepindahan kita." milly tertawa kecil. Aneh rasanya bahagia ditengah kesedihan. Tapi dia harus kuat.


💞

__ADS_1


💞


__ADS_2