Love You More, Husband

Love You More, Husband
Kelvin


__ADS_3

"Kau mau kemana?" Suara bariton Rafael menghentikan langkah Milea menuju balkon. Beberapa saat lalu mereka barusan makan malam yang tertunda karena acara tidur mereka berlanjut hingga malam hari. Rafa baru terjaga setelah jam sembilan malam. Tidur yang panjang, tapi pasangan itu seperti tengah dalam fase nyaman hingga sama sekali tak terjaga secara bersamaan.


Rafa segera membangunkan istrinya. Mereka bahkan melewatkan sholat ashar dan maghrib di waktu yang sama. Selain itu Milea dan dirinya belum sempat makan. Milly memilih makan di kamar saja hingga Rafael memesan makanan lewat telephon agar di antar ke kamarnya.


"menikmati malam di balkon. Mas mau ikut?" Rafael tak menyahut. Tangannya bahkan masih sibuk mengetikkan balasan untuk pesan yang di kirimkan oleh Yura. Melihatnya, Milea tau suaminya sedang sibuk, putri Ibrahim itu memilih segera menghampiri pagar pembatas balkon dan menopangkan tubuh indahnya disana. View pemandangan kota Jogja yang indah dan asri dengan kelap-kelip lampu membuatnya betah berlama-lama disana. Saat menengok ke atas, gugusan bintang dengan bulan separuh yang membuat langit berwarna. Sungguh, Milea rindu sesuatu saat menatapnya.


"Apa yang kau pikirkan?" Bisikan lembut sudah menghentikan lamunan pendeknya. Lengan kekar Rafael sudah melingkari perutnya seolah mereka pasangan bahagia pada umumnya. Milea tersipu saat menoleh dan mendapati wajah tampan suaminya sudah amat dekat dengannya.


"Sepertinya kau sangat menyukai langit." Milea memberanikan diri menyentuh tangan kekar itu. merasakan bulu-bulu halus disana, juga kulit hangat Rafael. Hatinya bergetar.


"Ya, aku ingat mama. Kami banyak menghabiskan waktu bersama saat menunggu papa atau kak Leon pulang. Mama selalu mengajakku menatap langit saat aku mengeluh mengantuk, anehnya kantukku segera hilang saat menatapnya." Pandangan Milea menerawang. Kenangan saat bersama sang mama membuatnya menitikkan air mata. Pedih rasanya hidup tanpa seorang mama.


Rafael memeluk wanitanya, meski lirih dia bisa mendengar isakan tertahan Milea. Dengan gerakan lembut, tangah kokohnya membawa Milea menuju sofa di belakang mereka lalu mendudukkan Milea disampingnya.


"Sudahlah, lain hari kita ke makam mama ya. Ikhlaskan saja kepergian mama, ada aku yang akan menjagamu Milly." Benarkah? Milea hingga harus menajamkan pendengarannya saat kalimat itu terucap. Setelahnya dia memilih menikmati belaian lembut Rafael di kepalanya, hangat pelukannya, juga harumnya hembusan nafasnya. Jantung Milea berkejaran.


Rafael tersenyum kecil saat beberapa menit kemudian Milea tertidur dalam pelukannya dengan nafas yang teratur. Sebuah kecupan mampir di kening si wanita sebelum tubuh itu kembali melayang dalam gendongan Rafael yang membawanya rebah.


Paginya pasangan pengantin baru itu bersiap menghadiri meeting dengan Qcompany di resto hotel itu. Baik Rafa ataupun Milea memutuskan akan sekalian sarapan pagi disana. Milea yang sudah cantik dengan gamis dan kerudung modernnya menghampiri sang suami.


"Biar kupasangkan." Rafael mengulurkan dasi yang dipegangnya pada Milea yang bergerak cepat memasangnya. Milly hingga harus menahan nafasnya kala merasakan hidung di pria sudah menyentuh pipinya. Tentu saja Rafa yang berpostur tinggi harus merendahkan tubuhnya agar bisa berdiri sejajar dengan Milea.


"Cantik." bisiknya sambari mencuri sebuah kecupan singkat di pipi kanan Milea yang langsung tersipu karenanya.


"Selesai." kata Milea namun Rafael sudah menahan tubuhnya agar tak beranjak. Mata coklatnya berkilat.


"Lipstikmu terlalu tebal Milly." katanya dengan nada rendah.


"Benarkah?" Milea tentu terkejut. Seumur-umur dia tak pernah pakai lipstik. Baru setelah menikah saja dia berani memakainya. Seingatnya tadi hanya sapuan tipis yang dia pakai. Kenapa Rafael mengatakan jika ketebalan. Lagi dan lagi Rafael menahan tangannya yang akan mengusapnya, menggantikannya dengan ciuman lembut yang memabukkan.

__ADS_1


"Aku tak suka kau memakai warna terang saat keluar. Pakai saja warna itu saat kita berdua saja." Milea hanya mengangguk pasrah. Kakinya terasa lemas. Selalu begitu saat Rafael melakukannya. Andai tangannya tak melingkar di leher sang suami, mungkin Milly sudah terjatuh ke lantai.


Suara ketukan di pintu membuyarkan adegan intim keduanya. Rafael melepaskan pelukannya pelan lalu bergegas ke pintu dan membukanya.


"Putra presedir Q company sudah menunggu anda di bawah tuan muda." Yura segera melapor saat Rafael sudah berdiri gagah di depannya.


"Baiklah, kami akan segera turun." Yura melangkah cepat meninggalkan kamar majikannya. Sebagai asisten dia harus tiba lebih dulu ditempat meeting dan memastikan jika semua aman meski beberapa pengawal sudah disiagakan disana. Ruang VVIP yang dipesan Q company memang sangat nyaman untuk sebuah acara meeting.


"Selamat pagi tuan muda Hutama." Sapa seorang pria muda seusia Richard. Pria itu berdiri menyapa Rafael sambil mengulurkan tangannya.


"Anda...tuan Kelvin?" Rafael menyambut uluran tangan itu hangat.


"Anda benar. Ahh...Milea Ibrahim, kau Milea bukan?" Milly yang semula masih menatap sekeliling dibuat terkejut saat ada yang menyebut namanya. Sontak netra hitamnya membola.


"Kak Kelvin." bisiknya. Rafael melirik istrinya sekilas.


"Kalian saling kenal?" Tanyanya datar. Milly mengangguk.


"Bagaimana kabarmu Milea? lama tak bertemu. Kau masih suka menatap langit?" Milea sama sekali tak menjawab. Wanita itu malah sibuk menatap ke arah suaminya. Kehadiran Kelvin benar-benar diluar dugaannya dan membuatnya tidak nyaman.


"Aku...baik kak." tak ada pertanyaan balik selayaknya orang yang lama tak bertemu. Lidah Milly kelu. Tapi Kelvin seolah ingin membuatnya dalam posisi sulit.


"Kukira kau akan patah hati dan tak mau menikah setelah kita putus dulu. Syukurlah jika kau mau menikah. Kau juga semakin cantik dan dewasa." Milea makin merasa tidak nyaman dengan tiap perkataan Kelvin yang seperti sengaja menggodanya.


"Bisa kita mulai meetingnya tuan Kelvin?" Seketika Kelvin mengalihkan pandangannya pada Rafael.


"Ooohh...maafkan saya tuan muda. Baiklah, silahkan duduk."


"Yura...bawa istriku kembali ke kamarnya dan pesankan makan pagi untuknya." Perintah Rafael tegas. Yura yang berdiri di dekat pintu segera mendekati Milea.

__ADS_1


"Silahkan nyonya muda." Milea menatap suaminya dengan wajah sendu tapi sama sekali tak ada balasan di wajah datar itu hingga Yura menyentuh tangannya dan mengajaknya keluar.


"Kenapa anda menyuruh Milea pergi tuan muda? Apa anda merasa tak nyaman membawanya? Kalau benar begitu tolong maafkan saya. Yang tadi hanya spontanitas saja." Rafa yang sudah memasang wajah dinginnya memilih tak peduli.


"Saya sudah membaca proposal anda."


"Lalu?" Ada rona khawatir di wajah tampan Kelvin. Tentu saja begitu. Ini adalah meeting pertama para penerus perusahaan setelah kerja sama yang sudah puluhan tahun di jalankan oleh kedua orang tua mereka. Lebih tepatnya, Hutama grup adalah salah satu investor terbesar mereka.


"Seberapa dalam anda mengenal istri saya?"


"Tuan muda, tolong bersikaplah profesional." Tentu butuh keberanian ekstra bagi Kelvin untuk mengatakannya pada seorang penerus kerajaan bisnis Hutama grup. Rafael tersenyum smirk.


"Anda mengajari saya soal profesionalisme? Saya bahkan sudah mengurus perusahaan Hutama sejak masih kuliah di London." Kata Rafa dengan nada rendah namun mematikannya. Kelvin tentu saja sedikit takut karenanya. Ini debut perdananya sebagai calon CEO baru Q company. Harusnya dia tak boleh membuat kesalahan.


"Jawab saja dengan jujur dan saya akan segera menanda tangani proposal anda." Wajah Kelvin berubah girang.


"Saya mengenal Milea sejak....."


"Apa yang kalian lakukan saat pacaran?" potong Rafael masih dengan ekspresi bekunya.


"Kami beberapa kali camping, liburan, hmmmm...anda tau sendiri bukan apa yang dilakukan pasangan yang saling cinta?" Rafa terkekeh.


"Ciuman...atau mungkin menghabiskan malam berdua?" tanyanya ringan.


"Hampir setiap kali kami melakukannya. Anda tau, Milea pasangan yang sangat erotis di atas ranjang." kali ini Rafael tertawa lepas.


"Yura, kemarikan proposal itu." Yura segera mendekat dan menyerahkan apa yang diminta Rafael. Sang tuan muda segera menuliskan beberapa kalimat tambahan sebelum membubuhkan tanda tangannya.


"Sampaikan pada tuan Winata agar menemuiku nanti sore atau kerja sama ini akan berakhir."

__ADS_1


"Tapi anda sudah berjanji untuk menandatanganinya setelah saya menjawab pertanyaan anda bukan?" Kelvin Winata sontak panik kembali, bisa habis dia dihajar ayahnya jika kerja sama ini sampai berakhir.


"Menandatangani saja tuan Kelvin, bukan menyetujui."


__ADS_2