Love You More, Husband

Love You More, Husband
Menunggumu


__ADS_3

Richard Hutama berjalan tegap memasuki kantor Hutama grup yang sekarang menjadi tempat kerjanya. Gedung pencakar langit yang dihuni oleh ratusan karyawan berukuran besar itu seolah kerajaan baru baginya saat semua karyawan yang berpapasan dengannya memberi hormat dengan membungkukkan tubuh atau sekedar menundukkan kepalanya hormat. Disampingnya, si kecil Dave berjalan tak kalah gagah dalam gandengan papa tampannya dengan kelucuan khas bocah cilik yang membuat siapa saja gemas padanya.


"Selamat pagi tuan muda." Yura yang sudah berdiri menyambutnya didepan lift membungkukkan tubuhnya, bersikap sangat profesional saat bekerja sebagai sekretaris sekaligus asistennya. Setelan formal berupa blazer hitam yang dipadu dengan celana bahan berwarna senada membuatnya tampil anggun dengan rambut disanggul ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang terlihat menawan.


"Bundaaa...." Dave langsung berlari memeluk kaki panjangnya dengan tawa bahagia. Untuk sesaat Yura dibuat bingung harus bersikap bagaimana menghadapi anak dan bapak didepannya itu hingga sedetik kemudian tangannya terulur mengelus kepala Dave lembut. Tubuh tingginya segera berjongkok agar sejajar dengan si kecil lalu merangkum kedua pipi gembulnya.


"Dave sudah sarapan??" tanyanya dibalas gelengan kepala si kecil yang langsung memeluknya seolah sudah lama tak berjumpa. Padahal baru dua jam yang lalu mereka berpisah.


"Belum bunda. Apa bunda sudah sarapan juga?" tanya balik Dave yang masih terlihat tak mau jauh dari ibunya.


"Dave...panggil mama." Tegur Rich lirih membuat Dave kecil menengadahkan kepalanya menatap sang ayah penuh tanya. Jemari Rich ikut mengusap kepalanya lalu mengikuti Yura berjongkok di sampingnya. Mereka telihat seperti keluarga bahagia saat dalam posisi sekarang.


"Tapi mamaku adalah mama Shane, pa." protes Dave tegas. Sorot tajamnya menusuk manik blue ocean sang papa.


"Tapi mama Yura sudah menjadi mamamu juga, nak."


"Bukan. Bunda bukan mama." kali ini kelopak lebar itu sudah dipenuhi air mata yang siap jatuh ke pipi gembulnya hingga membuat Yura terkesiap karenanya. Benar...sebaik apapun dirinya pada Dave, anak itu tetap bukan anak biologisnya. Sebagai anak tentu Dave lebih menyayangi mama kandungnya dibanding dirinya. Apalagi dia baru beberapa hari menjadi ibu sambungnya. Tapi kenapa hati Yura terasa tercubit saat mendengarnya?


"Dave...jangan bicara begitu. Mama Yura..."


"Tak mengapa tuan muda. Saya cukup tau semuanya." pungkasnya memotong perkataan Rich. Yura kembali berdiri berlahan dan berdiri tegak dengan senyum ramah yang mati-matian dia buat senatural mungkin agar siapapun tak tau seberapa sakitnya yang dia rasakan.

__ADS_1


"Aku tak suka panggilam itu meski ini kantor." timpal Rich sangat tegas.


"Kau bukan hanya sekretaris atau asistenku..tapi juga istriku. Jadi jangan pernah memanggilku dengan sebutan itu." Yura mengangguk lalu bergegas membuka pintu ruangan dan mempersilahkan ayah dan anak itu masuk sebelum dia membacakan jadwal hari ini. Cukup tarik nafas, fokus dan lupakan. Lebih baik menurut agar semua cepat selesai.


"Aku tidak mau bunda jadi seperti mama." Gerakan Yura terhenti saat isakan Dave terdengar menyayat hati. Saat dia menoleh, anak itu sudah menangis. Air matanya turun deras membasahi pipi. Tangannya sibuk mengucek mata dan hidung mancungnya yang berubah merah seperti tomat.


"Ssssttt...diamlah jagoan. Bunda tau...."


"Tetaplah jadi bundaku. Aku tidak mau mama. Mama jahat padaku!!" Untuk beberapa detik baik Yura maupun Rich dibuat terpaku. Ada kesalah pahaman tentang sikap Dave.


"Mama selalu membentak dan memukulku lalu pergi dariku. Bunda jangan seperti mama." Yura bergerak cepat memeluk Dave yang masih berdiri diambang pintu lalu menggendongnya menuju sofa besar disana.


"Dave...memanggil bunda Yura mama bukan berarti bunda akan sama seperti mama.kata mama hanya sebutan untuk ibu sebagai pasangan papa. Tak apa jika kau tetap memanggil bunda. Tapi bagaimana jika kau panggil ayah saja pada papamu ini agar tak terdengar aneh bagi orang lain? Papa hanya tidak ingin orang tau jika bunda hanya ibu sambungmu." Yura yang sibuk menenangkan Dave dibuat terkesiap pada perkataan Rich yang entah sejak kapan sudah duduk sangat dekat disampingnya, ikut membelai putranya. Yura lupa jika Rich adalah mantan dosen juga. Pasti ada jiwa pengajar dalam dirinya.


"Aku pesankan sarapan dulu." potong Rich menginterupsi suasana mengharu biru keluarga kecilnya.


"Tapi setengah jam lagi..."


"Sayang...kita tunda meetingnya. Akira sudah mengurusnya." timpal Rich cepat.


"Akira?" gumam Yura pelan.

__ADS_1


"Ya, mulai hari ini dia akan menggantikanmu menjadi sekretaris disini."


"Kakak memecatku?" tanya Yura dengan wajah ditekuk. Dia tau jika Akira adalah mantan sekretaris Sean yang baru saja dimutasi ke bagian lain setelah Yura menggantikannya. Rupanya Rich memanggilnya kembali menempati posisinya.


"Ya. Kau hanya akan menjadi asisten pribadiku saja. Aku tak ingin istriku kecapekan." Tatapan teduh Rich..entah kenapa membuatnya sangat tenteram. Mata itu..mata yang dia impikan bertahun lamanya.


"Ohh ya Tuhan...Dave ketiduran." Yura yang terkejut buru-buru menunduk dan memastikan jika Dave benar-benar tertidur seperti perkataan Rich. Dan nyatanya?? anak sambungnya itu benar-benar tidur. Sangat nyenyak. Padahal baru beberapa menit lalu mereka bicara. Rich segera mengambil alih anaknya lalu menggendongnya masuk ke kamar pribadinya diikuti Yura dibelakangnya.


Rich baru saja berdiri setelah meletakkan tubuh Dave diatas ranjang saat sebuah tangan melingkari perutnya. Yuralah yang melakukannya. Wanita muda itu memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepalanya dipunggung kekar Rich.


"Maafkan perkataanku semalam." ucapnya lirih menyerupai bisikan. Rich memejamkan kedua matanya rapat sebelum memegang tangan sang istri dan melepaskan pelukannya. Berlahan pria tampan itu membalikkan tubuhnya.


"Kau tak perlu minta maaf. Kita jalani saja pelan-pelan. Aku tidak akan memaksamu." lagi...tatapan teduh itu merobohkan benteng pertahanannya hingga hancur berkeping-keping tanpa sisa. Kata hati memang paling tidak bisa dibohongi.


"Kau terlihat sangat pucat pagi ini. Kenapa? apa kau tidak tidur dengan baik semalam?" bagaimana Yura akan menjawab pertanyaan suaminya jika kenyataannya dia hanya tidur dua jam saja sepeninggal Rich. Pikirannya berlarian entah kemana, mengembara bersama bayangan Rich yang membuatnya sangat kehilangan.


"Tunggulah sarapan kita datang lalu istirahatlah. Kau tak perlu ikut meeting. Tidur saja temani Dave disini hingga aku datang."


"Apa kau tak merindukan aku?" suara yang bergetar penuh keraguan, Rich sangat tau itu. Rindu? Jika ada yang paling rindu disini maka Rich adalah orangnya.


"Tidak." Yura menundukkan kepalanya penuh kesedihan. Ternyata perasaannya bertepuk sebelah tangan.

__ADS_1


"Tidak ada yang kurasakan selain kerinduanku padamu." Sambung Rich seraya mengecup pelipisnya sekilas. Siapa sangka Yura bergerak cepat membalas mengecup bibir lelakinya walau hanya saling menempel saja. Tapi Rich tidak terima. Tangan kekarnya sudah meraih tengkuk istrinya lalu menautkan bibir mereka penuh perasaan.


"Aku menunggumu malam ini." lirihnya malu-malu sambil kembali menundukkan kepalanya, menyembunyikan pipinya yang memerah.


__ADS_2