
"Sayang, tidakkah sebaiknya aku ikut?" Tanya Fernando ketika mereka sudah tiba di lobi apartemen putranya. Pria yang masih terlihat gagah diusiaanya itu bahkan mencekal lengan istrinya yang hendak turun dari mobil mewahnya. Sungguh, Nando tak tega membiarkan istrinya sendirian masuk kesana.
"Hubby...percayalah, tak akan terjadi apa-apa. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Kembalilah ke kantor." Sofia mengulas senyum manis seraya membelai pipi suaminya. Tak ada yang berubah dalam diri Fernando setelah hampir tiga puluh tahun pernikahan mereka. Pria itu masih amat menyayanginya dan selalu menatapnya penuh cinta dan kelembutan. Hal yang tak pernah dilakukan tuan besar Hutama itu pada siapapun selain padanya. Diam-diam Sofia selalu mengucap syukur karena menikahi seorang Fernando, suami dan ayah yang baik bagi keluarga kecil mereka.
"Baiklah. Tapi biarkan dua pengawal menjagamu."
"Hubby..yang ingin kutemui adalah seorang wanita, bukan pria yang bisa memperkosaku. Itupun kalau mereka masih tertarik padaku." tawa Sofia berderai saat mengatakannya. Setua ini tapi Fernando masih saja posesif padanya. Bukannya tenang, Nando malah mengeram kesal pada sang istri. Sontak saja Sofia menghentikan tawannya.
"Kau lupa jika sekarang wanita lebih berbahaya dari pada pria. Dan soal pemerkosaan dan ketertarikan, aku sama sekali tak yakin ada pria yang bisa menolak pesonamu." Sofia tersipu. Sebuah kecupan dia sematkan di pipi kanan suami tampannya.
"Sudahlah hubby. Biarkan aku bicara padanya sebagai sesama wanita. Baiklah, biar mereka mengawalku." Tentu itu keputusan paling benar yang akan diambil Sofia. Dia cukup mengerti kekhawatiran suaminya mengingat mereka bukan orang biasa-biasa saja meski tak pernah punya musuh. Mungkin Nando lupa jika Sofia adalah pemegang sabuk hitam karate juga mempelajari ilmu bela diri secara mahir saat kuliah dulu. Tapi Sofia sama sekali tak mau mengingatkannya. Cukup sudah dia mengalah dengan menututi perintah suaminya. Toh semua yang Nando lakukan adalah untuk kebaikannya juga. Nando mengecup kening istrinya sebelum membuka pintu untuknya. Sofia segera keluar setelah menjabat tangannya lalu melenggang masuk ke apartemen.
"Jalan!" sopir segera menekan pedal gas setelah sang tuan memerintah setelah sekian lama mengamati istrinya hingga menghilang di dalam lift.
Sementara Sofia yang sampai ke lantai lima tempat apartemen putranya berada langsung menekan bel. Sama seperti Milea, Sofia juga harus beberapa kali melakukannya hingga pintu terbuka. Tatapan tajam sang dokter memindi tampilan wanita muda di depannya. Sebuah hotpants dan kaos kurang bahan menempel ditubuh seksinya. Sofia hingga harus beristighfar dalam hati kala menyaksikannya.
"Anda ...."
"Sofia Hutama. Kau tentu sudah mengenalku nona Shania marvels. Boleh aku masuk?" tegas dan sangat berwibawa hingga Shane kehilangan kata. Gerakannya hanya mundur dan melebarkan pintu agar tamunya masuk tanla satu katapun. Sofia menghampiri Sofa dan duduk anggun disana. Matanya menatap sekeliling. Apartemen yang amat berantakan dengan bekas bungkus makanan dimana-mana, pakaian berserakan, juga kondisi kotor yang membuatnya jijik. Bagaimanapun dia seorang dokter yang menyukai kebersihan.
__ADS_1
"Aku akan langsung ke pokok permasalahan. Untuk apa kau datang lagi dalam kehidupan kami?" Sofia sama sekali tak mengalihkan matanya dari wajah Shane. Tak ada wajah ramah juga kelembutan seorang ibu yang biasa dia tampilkan. Sofia bak gunung es yang berdiri angkuh untuk sebuah ketegasan.
"Jose...dia butuh ayahnya." Sofia tersenyum miring. Sudah dia duga. Pasti bocah kecil itu yang akan jadi senjata si wanita.
"Ayah yang mana yang kau maksudkan?"
"Putra anda." balas Shane dengan tatapan tak kalah tajam. Rupanya wanita ini sudah bisa menguasai dirinya dan kembali pada performa aslinya.
"Aku punya dua putra. Apa dua-duanya adalah ayah anak itu?" Sofia menyilangkan kakinya lalu bersandar sangat santai. Dia sudah terbiasa menghadapi tipe wanita seperti itu setelah puluhan tahun menjadi istri Fernando.
"Rafael ayahnya. Anda bisa melakukan tes DNA jika tak percaya pada omongan saya." balas Shane dingin.
"Anda tinggal percaya saja. Apa susahnya? Lagi pula saya juga tak ingin Rafa menceraikan istrinya. Cukup nikahkan kami dan akui anak ini." Shane mengatakannya dengan jumawa.
"Tak ada perceraian atau poligami dalam keluarga kami. Milea adalah menantu kami baik sekarang juga sampai nanti. Jika kau ingin menikahi Rafael baiklah! Aku bisa dengan mudah mengabulkan keinginanmu." Sofia menegakkan tubuhnya dengan senyum amat lebar, demikian pula Shane yang langsung merubah ekspresinya dengan gembira.
"Saya tau anda ibu yang bijak nyonya, terimakasih jika anda mau menerima kami." Shane hendak mendekat, namun Sofia mengangkat tangannya sebagai isyarat agar Shane tak melakukannya. Shane berhenti ditempatnya dengan wajah bingung.
"Nyonya saya hanya ingin.."
__ADS_1
"Ada satu hal yang harus kau tau nona Shania. Kau bisa menikah denga Rafael jika dia sudah kucoret dari kartu keluarga. Artinya dia bukan lagi bagian dari kami, juga bukan lagi penerus keluarga Hutama. Pergi dan menikahlah dengan putraku karena baik aku atau suamiku akan melepasnya secara suka rela." kata Sofia penuh penekanan. Shane memekik tak percaya dengan wajah marah.
"Kau...bagaimana bisa begitu? Rafael putra sulung kalian. Dia akan mendapat bagiannya jika pergi dari kalian bukan?"
"Semua yang melanggar aturan keluarga harus keluar, itupun tak membawa apa-apa. Jika kau menginginkan ayah untuk anakmu maka bawakan dia ayah. Mudah bukan?"
"Lalu bagaimana Rafa akan menghidupi kami??" teriak Shane kesal. Tapi Sofia hanya menyunggingkan senyumnya.
"Anakku punya dua tangan dan kaki yang genap. Rejeki itu milik Allah, jadi terserah kalian mau bagaimana menghidupi keluarga. Itu sudah diluar tanggung jawab kami." Shane merangsak maju dan hendak memukul Sofia saat sebuah tangan kekar menahannya. Sofia berdiri dan menatap keduanya sinis.
"Momy...kenapa disini?" Shane menghempaskan tangannya dari genggaman Rafael kesal lalu menatap garang Sofia.
"Kau tanya kenapa aku kemari Raf? tentu saja untuk memastikan siapa wanita yang kau pilih untuk jadi pendampingmu." Rafael menundukkan kepalanya. Momynya tak pernah bersikap dingin padanya sejak kecil. Tentu hati Rafael sakit karenanya.
"Momy...anak itu..."
"Kau dan aku sama-sama tau jika Richard adalah ayahnya bukan? Kau tak wajib menikahinya. Tapi obesimu pada wanita ini membuatmu buta. Masih ada waktu jika kau mau memperbaiki dirimu. Tanya pada hatimu...apa wanita ini sudah benar-benar yang terbaik untuk menemanimu menghabiskan seluruh hidupmu dalam ketiadaan atau tidak."
"Tutup mulutmu wanita tua!!" Dan tanpa di duga Shane maju dan memukul Sofia. Sekejap kemudian sebuah tubuh terlempar hingga membentur tembok. Suara raungan keras menggema.
__ADS_1
"Kau bukan tandingan wanita tua ini Shania marvels." ujar Sofia lalu berlalu dari sana dengan senyum penuh kemenangan.