Love You More, Husband

Love You More, Husband
Paula


__ADS_3

"Selamat pagi nyonya muda." sapa Yura seraya membungkukkan tubuhnya saat Milea sampai di ujung tangga.


"Pagi juga Yura. Apa kau menunggu suamiku?" Yura mengangguk. Dilihat dari posisinya yang berdiri menunggu di depan ruang kerja Rafael sudah mengartikan jika suaminya masih ada urusan di dalam.


"Kenapa kau kemari sepagi ini? bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tak lagi menjemput kak Rafa saat berangkat kerja? Suamiku bisa berangkat dan pulang bersama pak Man saja." tegur Milea keras. Sungguh, bagaimanapun Milea mencoba berbesar hati, dia tetap tidak rela jika Yura terlalu dekat dengan suaminya. Amat riskan membiarkan seorang pria dan wanita terlalu punya banyak kesempatan berduaan meski dia amat seperti apa sifat dingin Rafael pada wanita.


"Saya tau nyonya. Saya hanya mengantarkan nona Paula kemari." jawab Yura masih dengan amat patuhnya. Sudah tanggung jawabnya mengawal semua tamu majikannya sesuai tugas yang diberikan Fernando maupun sekretaris Alex padanya. Bukannya ini juga bentuk pertanggung jawabannya pad pekerjaan?


"Paula? siapa dia?" tanya Milea ingin tau. Yura menarik nafasnya sesaat sebelum mengangkat kepalanya menatap sang nyonya.


"Dia...mantan pacar tuan muda yang sekarang jadi rekan bisnisnya."


........deeeggggghhhh..........


Jantung Miea seperti berhenti berdetak. Mantan pacar? Berduaan saja di ruang tertutup? Ini tak bisa dibiarkan. Milea mengetuk pintu dan membukanya tanpa menunggu Rafael menyuruhnya masuk. Yura hingga harus menutup bibirnya karena terkejut atas tindakan istri bosnya tersebut. Dia bergegas menyusul sang nyonya masuk. Mata kedua wanita itu bahkan membulat sempurna saat melihat seorang wanita seksi dengan setelan formal yang amat minim sedang duduk dengan berani di ataa meja karja Rafael yang secara tiba-tiba langsung berdiri dari duduknya. Entah apa yang barusan mereka lakukan Tangan Milea mengepal kuat.

__ADS_1


"Maaf menganggu kalian." Milea menuju kesamping suaminya, membuat wanita itu segera turun lalu mengulurkan tangannya.


"Hallo..perkenalkan, saya Paula Harriman. Teman dekat El di London dulu. Kami sudah lama....."


"Ohhh hallo juga nona Paula. Senang berjumpa dengan anda. Apa masih ada hal penting yang ingin anda bahas dengan mas Rafa? Jika iya silahkan diteruskan.'" Panggilan yang berbeda. Milea hanya menurunkan insting. Toh momy Sofia juga acap kali menggunakan sebutan itu untuk memanggil dady Nando. Apa salahnya jika dia ikut-ikutan??


Milea menuju sofa dan mendudukkan tubuhnya dengan sangat elegan. Meski masih memakai dres rumahan, Milly sudah terlihat rapi dan segar. Lihat saja rambut sepunggungnya yang tergerai indah sehabis keramas. Sesaat Milly menatap dada Paula yang....berukuran sangat besar, bahkan hampir tumpah. Apalagi wanita itu sengaja membuka blazer bagian atasnya hingga menampilkan belahan seksinya. Hati Milea tersentil. Diam-diam dia membandingkannya dengan dada kecilnya juga ukuran bokong ratanya dengan Paula yang amat seksi bak biola Spanyol. Milea meneguk ludahnya pelan. Dia kalah.


"Yura tolong suruh bi Desi mengantar minuman kesini. Tamu kita agaknya butuh kopi." Yura baru saja akan melangkah keluar saat Paula melarangnya.


"Sampai bertemu lagi nona Milea. Senang bisa berjumpa dengan anda."


''Hmmm sama-sama nona...kalau begitu baiklah. Yura, tolong antar nona Paula. Kau bisa langsung ke kantor saja karena suamiku bisa berangkat sendiri kesana." Milea segera berdiri, berbasa-basi sebentar juga mengantar Paula ke teras depan. Dia kembali masuk setelah memastikan Yura dan Paula meninggalkan rumah mereka.


"Kakak mau kemana?" Rafa menatap Milea aneh. Dia pakai pakaian kerja, mana mungkin mau pergi main bola?

__ADS_1


"Ke kantor. Paula mengajakku meninjau proyek setelah ini." Milea mendengus kesal. Baru saja akan mulai berjuang, ada saja halangannya. Kemarin Yura, sekarang Paula. Benar-benar sial!!!


"Semog kalian bukan malah menciptakan proyek sendiri. Balikan mungkin?" sindir Milea seraya berjalan masuk ke rumah, melewati suaminya hingga pria itu menagkap lengannya dan menghentikan langkahnya.


"Apa maksudmu Milly?" tanya Rafael geram. Tapi Milly lebih geram mengingat posisi keduanya tadi. Sedikit saja dia terlambat, mungkin akan lain ceritanya.


"Kak Rafa pikirkan saja sendiri. Dada dan pantat sebesar itu pria mana yang tak tertarik. Pantas saja tidak mau menyentuhku. Ternyata punya mantannya segede itu Ckckck....Pasti kehidupan bebas di London sudah membuat kalian sangat intim." Mata Rafael melotot tajam kearahnya. Tapi Milea tak peduli. Dia juga kesal.


"Kau sok tau Milly!" sentaknya pelan namun penuh tekanan.


"Kau sendiri yang tak menginginkan aku. Apa kau pikir aku suka menggauli wanita yang hatinya bukan untukku? Kau lupa...tujuanmu menikah denganku hanya untuk mengejar cinta Richard, bukan untuk jadi istri yang baik bagiku." desis Rafael kesal. Terlihat sekali jika pria itu marah besar saat Milly menuduhnya yang bukan-bukan tanpa minta penjelasan.


"Itu hanya alasanmu saja!! Bilang saja kau tak tertarik dengan tubuh kerempengku, dada kecilku juga......"


"Ya!!! Kau benar!! Aku memang tak tertarik dengan tubuh ratamu. Apa kau puas Milly??!!!!" Dan Rafael melepas cekalannya. Pria itu berjalan lebar ke arah pintu, meninggalkan Milea yang masih berdiri dengan mata berkaca. Semua ini salahnya. Andai dia tak meminta hal aneh pada Rafael diawal-awal pernikahab mereka....tentu semua ini tak akan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2