
"Perlu karena aku butuh nafkah batin darimu secepatnya." ucap Milea tegas. Tak ada rona malu atau canggung saat dia mengatakannya. Seolah Milly tak lagi meminta tapi memerintah. Rafael tersenyum pahit manakala menyadari dirinya yang tak bisa mewujudkan permintaan Milea yang tengah menatapnya serius.
"Andai aku bisa memberikannya padamu sekarang...."
"Aku akan menunggu hingga saat itu tiba." Dada Rafael bergemuruh. Setulus itukah Milea padanya? tatapan mereka bertemu hingga jemari Milea membelai pipinya lembut. Rafael segera mengelus jemari halus istrinya dan menciumnya penuh kemesraan, mengabaikan rasa gatal dan panas yang menyerang seluruh tubuhnya.
"Sudah malam, sebaiknya mas Rafa segera tidur." Milea yang tak ingin terus larut dalam romansa tengah malam segera membantu suaminya merebahkan diri, menarik selimutnya, juga guling diantara mereka, namun tangan Rafael menahannya.
"Bolehkah aku tidur sambil memelukmu? malam ini saja ...kumohon." hampir saja pertahanan Milea runtuh karena kalimat bernada memohon juga pupy eyes yang membuat hati melemah itu menatapnya. Tapi Milly masih berusaha menguatkan hatinya.
"Aku belum bisa memaafkanmu mas. Jadi jangan meminta lebih dariku." sahutnya seraya ikut berbaring dan menarik selimutnya hingga sebatas dada. Milly tau Rafael masih menatapnya penuh kecewa. Tapi dia sudah mengambil keputusan yang tak bisa ditarik begitu saja. Cinta tak harus membuat seseorang lemah bukan?
"Aku tau kau takut tertular bukan?" Pertanyaan Rafa membuat Milea urung merebahkan diri, wanita muda itu dengan gerakan lambat memiringkan tubuhnya agar menghadap pada Rafael yang juga melakukan hal yang sama.
"Kau salah. Meski kau penderita penyakit menular sekalipun aku tak akan meninggalkanmu. Sekarang tidurlah." Rafael mulai memejamkan matanya saat jemari halus istrinya membelai pipinya, menciptakan sensasi damai dalam hatinya. Matanya memberat dengan sendirinya. Meski tak bisa memeluk istrinya, dia harus banyak bersyukur saat Milea mau sekedar membelainya. Hal yang bahkan tak pernah dia lakukan pada wanitanya.
Milea tersenyum tipis saat beberapa menit kemudian mendengar dengkuran halus dari bibir suaminya yang memang terlihat lelah malam itu. Pelan dia meraba kening Rafael, memastikan panas tubuhnya sudah turun. Ya, walau panasnya turun, tapi bercak-bercak merah ditubuhnya sama sekali belum berkurang. Milea bergidik saat membayangkan rasanya. Untunglah tadi dia masih sempat meratakan bedak dingin pada sekujur tubuh suami tampannya hingga bisa tidur senyaman sekarang. Berlahan Milly menyingkirkan guling yang membatasi mereka dan meletakannya dibelakang tubuhnya. Pun dengan gerakan amat hati-hati, tubuh langsingnya memeluk Rafael sembari terus mengelua kepalanya.
__ADS_1
"Aku akan mengabulkan apapun yang kau minta." bisiknya amat pelan hingga menyerupai gumaman lalu menarik selimutnya, tidur.
Pagi menjelang...
Mata Milea mengerjab saat mendapati dirinya terbaring seorang diri di ranjang besar kamarnya. Suara berisik di lantai bawah membuatnya segera mengumpulkan kesadarannya lalu menoleh ke samping. Tak ada Rafael disana hingga dia memutuskan segera turun bahkan tanpa merapikan rambutnya yang masih awut-awutan. Sebenarnya apa yang terjadi?
Milea terpaku ditempatnya saat melihat Richard sudah berdiri menantang tubuh athletis suaminya yang bisa dibilang lebih tinggi dan kekar darinya tanpa rasa takut. Wajah yang pernah dia kagumi itu terlihat layu namun berapi karena terbakar emosi. Rafael hanya bersedekap seraya menatapnya dengah mimik santai.
"Kenapa dia pergi secepat itu?? Kau...kau juga menutupi semuanya dariku!!" Katanya berulang kali hingga memaksa Milea melangkah pelan menuruni tangga tanpa alas kaki.
"Aku sudah berjanji pada Shane. Biarkan dia pergi dengan tenang. Tak ada yang abadi di dunia ini Rich. Mungkin ini yang terbaik bagi Shane. Doakan saja yang terbaik buatnya." Milea menutup bibirnya saat mulai mengerti apa yang dibicarakan kakak beradik itu. Mungkinkah Shane sudah tiada?
"Kau salah Rich, sangat salah! sama seperti perasaanku pada Shane yang juga amat salah."
"Salah?" beo Rich sambil berusaha menyeka air matanya. Rafael mengangguk lagi-lagi menatap manik biru sang adik yang amat menyedihkan.
''Ya. Aku mencintai orang yang bahkan sama sekali tak pernah mencintaiku. Sekarang aku tau kenapa Tuhan memisahkan kami melalui hubungan kalian. Karena Tuhan tau yang terbaik untukku. Tuhan bahkan mengirimkan orang yang sangat mencintaiku dan mau memperjuangkan cintaku. Tidakkah kau tau Rich?? Milea benar-benar membuatku tau arti semua itu."
__ADS_1
"Tanpa kau sadari jika Milea adalah pelarianmu." tukas Richard tajam. Tapi Rafael hanya terkekeh pelan menaggapinya.
"Bukan pelarian, tapi pelabuhan. Aku sudah menyandarkan perahu kehidupanku pada dermaganya lalu mengajaknya berlayar bersama mengarungi kehidupan. Kau tau...saat badaipun dia akan tetap memegang tanganku dengan cintanya. Rich ..lebih baik dicintai dari pada mencintai tapi dihianati." tutur Rafael dengan tatapan menerawang.
"Selamat pagi tuan muda. Maaf, sudah waktunya anda sarapan pagi." Rafael dan Richard menoleh bersamaan saat sosok cantik Yura masuk dengan pakaian formalnya.
"Makan? Disaat seperti ini kau masih memikirkan soal makanan?? kau ini benar-benar....sial!!!" maki Rich penuh kemarahan.
"Maaf tuan muda, saya hanya menjalankan tugas saja." balas Yura penuh penekanan. Bukannya berhenti, Rich jadi makin emosi. Dia bergegas mendekati Yura yang masih mematung ditempatnya dengan wajah mengerikan.
"Persetan dengan tugas sialan yang kau katakan!! Aku sudah kehilangan orang yang kucintai dan kau masih dengan mudahnya berkata soal makan? Dimana perasaanmu wahai nona Moraima? Pantas saja jika kau tak punya perasaan. Wajah esmu ini benar-benar menyebalkan!! Jangankan menikahimu, melirikmu saja para pria tak akan mau, dasar perawan tua tak laku!!" hardik Rich penuh kemarahan. Padahal apa salah Yura? Gadis itu juga hanya menjalankan tugasnya sebagai asisten. Yura hanya menundukkan kepalanya, mengigit kuat bibir bawahnya tanpa suara.
"Maafkan saya tuan muda." balasnya lalu berbalik pergi dengan langkah panjangnya. Tak menghiraukan teriakan Richard agar dia kembali. Yura sudah menulikan pendengarannya.
"Kau sudah menyakitinya Rich." kecam Rafael dengan wajah dipenuhi emosi. Kedua tangan sang kakak bahkan sudah terkepal erat disamping tubuhnya.
"Itu semua salahnya sendiri. Siapa yang menyuruhnya jatuh hati dan bersikap sok baik padaku. Aku muak dengannya kak!!" teriak Rich tertahan. Pria itu bahkan sudah mengacak rambutnya, frustasi. Lagi dan lagi Milea dibuat terkejut. Berarti Richard tau jika Yura menaruh hati padanya. Memangnya mantan dosennya itu cenayang? dia selalu tau soal perasaan seseorang termasuk saat dia menaruh hati pada sang ipar dimasa lalu.
__ADS_1
"Kau akan menyesal Rich." ucap Rafael penuh kemarahan.