Love You More, Husband

Love You More, Husband
Kebaikan


__ADS_3

Milea menyeka keringat suaminya yang lagi-lagi belepotan oli karena pembenahan mesin secara darurat sambil mengajari Danu dan dua pekerja lain cara memperbaiki mesin mereka yang mengalami kerusakan. Rencananya untuk segera pulang selepas mengantar makan siang suaminya pupus sudah karena melihat kesibukan Rafael. Suami tampannya itu bahkan baru saja mengucapkan salam selepas sholat dhuhurnya saat kang Asep, kepala kerjanya melaporkan jika mesin utama tak berfungsi. Tanpa berpikir dua kali Rafael bergegas masuk ke area pabrik diikuti Milea.


Suara bising dan pekerja yang bersliweran awalnya membuat Milly merasa tak nyaman. Tapi saat melihat suaminya bekerja keras memperbaiki mesin yang kelihatannya memang sudah tua dan tak terawat membuatnya betah berlama-lama berada disana menatap wajah tampan itu melakukan banyak hal.


"Minum dulu." Milea mengulurkan sebotol air mineral pada Rafael yang langsung dihabiskan dalam sekali teguk. Perbaikan itu walau tak memakan waktu lama, tapi lumayan menguras tenaga.


"Aku sudah siapkan pakaian untukmu mas. Bersihkan dirimu dulu karena Danu bilang sebentar lagi ada tamu." Milea mengulurkan paperbag berlogo butik yang cukup terkenal di dekat situ. Tadi dia buru-buru pergi membelinya saat mengetahui jadwal suaminya. Rafael harus rapi saat bertemu klien.


"Terimakasih Milly, tapi kau tak perlu repot membelinya untukku. Aku membawa cadangan baju di tas." Tentu Rafael merasa tak enak hati karena menerima pemberian istri yang bahkan hampir sebulan ini belum dia nafkahi. Milea pasti membelinya dengan uang pribadinya.


"Aku membelinya dari uangmu mas. Apa kau lupa pada kartu ini?" Milly mengekuarkan black card dari dalam tasnya dan menunjukkannya pada sang suami.


"Milly...tolong kembalikan kartu itu pada dady atau momy. Kita sudah tidak berhak memakainya." lirih Rafael sendu. Dari sekiaj banyak fasilitas yang sudah dia serahkan kembali pada dadynya melalui sekretaris Alex, kenapa dia lupa pada kartu itu?


"Aku sudah mengembalikannya pagi ini, tapi momy bilang kartu ini sudah diberikan padaku." Ujat Milly membela diri. Dia memag sudah akan mengembalikan kartu itu, tapi Sofia dan Nando sepakat memberikannya pada sang menantu, entah apa maksudnya.


"Tapi tetap saja kau tak boleh memakainya Milly. Tapi baiklah jika dady maupun momy tak mau menerimanya. Aku akan menutupnya sendiri agar kartu itu tak bisa lagi digunakan." Apa Milly kecewa mendengarnya? Menutup kartu itu berarti akses belanjanya akan berkurang. Tapi anehnya Milly sama sekali tak merasakan apa-apa. Tak ada rasa sedih ataupun menyesal karenanya. Dia sudah biasa hidup sederhana, apa adanya.


"Terserah mas Rafa saja." ujarnya singkat lalu meletakkan kartu itu di meja kerja suaminya. Rafael segera mandi dan berganti baju mengingat kliennya sebentar lagi akan sampai.

__ADS_1


Rafael masih beruntung karena Bimantara masih punya mitra bisnis yang bisa dianggap loyal, hingga saat Danu menghubungi mereka satu persatu, para pengusaha yang dulunya bekerja sama dengan pemilik lama masih bersedia untuk kembali bekerja sama. Apalagi mereka memutus kerja sama bukan karena ada masalah, melainkan karena pabrik berhenti berproduksi karena terlilit hutang.


Setengah jam kemudian, putra sulung keluarga Hutama itu sudah keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan kemeja bersih warna biru langit yang menambah pesonanya. Meski tak lagi memakai setelan jas, tapi tuan muda Hutama itu tetap tampil kharismatik dengan senyum ramahnya.


"Kau ...mau kemana?" tanya Rafael heran saat istrinya sudah menyampirkan tas selempangnya Juga merapikan penampilannya. Tadinya dia menduga Milly akan menunggunya lalu pulang bersama.


"Aku pulang dulu mas, papa sudah menungguku." Milea meraih punggung tangan kanan suaminya lalu menciumnya. Rafael malah belum sempat membalas salamnya saat istri cantiknya itu sudah berlari ke luar kantor seperti di kejar sesuatu.


"Aneh...kenapa dia panik seperti itu?" gumam Rafael seraya meraih ponselnya.


"Selamat siang pak, Tuan Han menunggu anda di hotel Grand satu jam lagi." Lapor Danu yang juga sudah kembali dengan penampilan bersihnya seakan mereka punya peraturab baru untuk membawa baju cadangab saat pergi bekerja.


"Baiklah, kita berangkat sekarang Dan." Danu segera keluar untuk menyiapkan mobil untuk atasannya.


Jangan lagi membayangkan mobil mewah berAC, yang disiapkam Danu hanya mobil iventaris perusahaan saja sebelum sebuah mobil mewah memasuki halaman Bimantara. Seorang pria tinggi kekar dengan dandanan perlente masuk ke lobi dan langsung menitipkan kunci mobilnya pada resepsionis sebelum kembali melesat pergi dengan mobil lainnya.


"Pak..pak Danu...tunggu." panggil Nur saat Danu melintas di dekat mejanya. Danu spontan mengerem langkahnya.


"Ada apa?" tanyaanya datar terlihat kesal pada sang resepsionis yang menganggu jalannya.

__ADS_1


"Ini ada titipan kunci mobil untuk pak Rafael."


"Mobil? dari siapa?" Suara bariton Rafael sudah lebih dulu menginterupsi gerakan Nur menyerahkan kunci pada Danu.


"Katanya dari tuan Leonard Ibrahim." balas Nur sopan.


"Leon???" lirih Rafael. Tangannya bergerak mengambil ponsel disaku lalu mendial nomer kakak iparnya itu.


"Raf, kau sudah terima kuncinya?" suara diseberang sana sudah lebih dulu mengagetkannya.


"Lee...apa maksudnya?" Leon tertawa gembira diseberang sana. Suara lagu yang mengalun lembut menandakan dia masih dalam mobil menuju suatu tempat.


"Milly bilang kau akan bertemu klien pertamamu. Dia sudah mengabari papa dan aku agar segera mengantarkan mobil itu. Kau tau, istrimu itu bahkan berani meneriaki aku agar cepat ke Bimantara karena begitu bersemangat. Raf, Tuan Han punya perusahaan besar di negaranya, kabar baik jika dia mau bekerja sama dengan Bimantara bukan? Papa bilang kau harus memakai mobilnya. Karena jika kau menolaknya, itu berarti kau juga menolak putri keluarga kami."


"Tapi ini terlalu berlebihan Leee...." Tentu saja rasa tak enak hati menyerang Rafael kembali. Keluarga istrinya sudah terlalu banyak membantunya meski tak sebesar bantuan yang diberikan keluarga Hutama pada mereka. Tapi bukankah sekarang keadaannya sudah berbeda? Dia bukan lagi bagian keluarga Hutama.


"Tak ada yang berlebihan bagi putra keluarga Ibrahim Raf. Kau adikku sekarang, putra papa juga." Rafael mengumamkan terimakasih. Sampai kapan mereka akan sebaik itu padanya. Bagaimana jika suatu saat papa Ken pulih dan mengingat perbuatannya? Apa mertuanya itu akan tetap bersikap baik padanya seperti Leon dan Milea? Aahh...Rafa tak bisa membayangkannya.


"Terimakasih Lee." ucapnya kemudian. Menolak hanya akan menyakiti mereka bukan?

__ADS_1


"It's oke brother. Selamat bekerja, semoga meetingnya sukses."


__ADS_2