Love You More, Husband

Love You More, Husband
Tak Suka


__ADS_3

Milea berjalan mondar-mandir di ruang tamu luas rumah barunya. Pikirannya dipenuhi kerisauan. Hampir jam sembilan malam, tapi Rafael belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Tak biasanya suaminya itu pulang telat. Beberapa kali Milea mencoba menghubunginya, hasilnya...tak diangkat. Pesannya juga sama sekali tak dibaca. Kesal, ya Milea sangat kesal memikirkannya. Apalagi saat dia mencoba mencari tau pada Yura, asisten suaminya malah memberi tau jika mereka masih di lokasi proyek jam 4 sore tadi. Yura juga dengan pintar mengombang-ambingkan hatinya dengan sengaja mengirimkan foto saat Rafael sedang berdiskusi dengan Paula walau hanya tampak punggungnya saja. Milea mencelos kesal karenanya.


Suara mobil memasuki halaman dan berhenti di garasi. Pak Man turun dan bergegas membukakan pintu untuk tuan mudanya sembari menunduk hormat. Milea bersorak girang saat pria setampan aktor hollywood itu melangkah panjang menuju pintu utama. Tangan Milea memberi isyarat pada pelayan yang ingin menyambut suaminya agar mereka pergi. Dia ingin menyambut Rafael sendiri. Jemari lentiknya memutar handle pintu sesat sebelum Rafael berhasil menggapainya.


"Asalamualaikum." Milea menjawab salam suaminya tergagap. Dia bahkan sudah menyentuh tangan besar itu dan menciumnnya sebelum salam sempat terucap. Bodoh.


"Kakak mau langsung mandi? sudah makan malam? Kakak mau dibuatkan sesuatu?" tak satupun pertanyaan Milea yang mendapat jawaban karena Rafael memilih meninggalkannya menuju ke kamar utama. Tubuhnya penat, ingin segera mandi dan merebahkan dirinya.


Pun saat Milea menyiapkan pakaian ganti, sama sekali tak ada yang berubah dari air mukanya yang datar. Pria itu berjalan lambat dan mulai berpakaian. Milea yang mengamati suaminya sedari tadi dibuat terkejut saat ponsel Rafael bergetar dengan bunyi lumayan keras. Sekilas dia melihat foto.....wanita itu. Paula. Mau apa wanita itu menghubungi suaminya malam-malam begini? Ini sudah diluar jam kerja malah. Tak ada yang mengangkat panggilan itu karena Rafa pasti masih di dalam kamar mandi, sedang Milly hanya menatapnya tanpa berniat mengangkatknya. Dia sadar, mereka punya privacy berbeda.


'jasmu tertinggal. Besok aku akan ke kantormu....."


Milea tak bisa melanjutkan membaca pesan itu Karena tak ingin membuka ponsel orang tanpa ijin. Sekarang dia baru sadar jika Rafael tak pakai jas saat pulang tadi. Ada apa dengan mantan kekasih itu? Rafa bahkan sampai melupakan jasnya ditangan mak rompang Paula. Milea merengut kesal. Niatnya untuk minta maaf menguap sudah. Yang tertinggal hanya rasa kesal yang membabi buta. Andai saja saat itu Rafael tak sedang sholat isya, pasti dia akan langsung mengajaknya bicara.


"Ada telepon dari nona Paula." Kata Milea bersamaan dengan uluran ponsel Rafa ke tangan pemiliknya. Tak ada jawaban. Pria itu hanya diam dan menerimanya lalu membalas pesannya singkat. Setelahnya dia bangkit dan meletakkan ponselnya di sisi tempat tidur. Tubuhnya lelah.

__ADS_1


"Apa yang sudah kalian lakukan hingga jasmu bisa tertinggal disana kak? Apa wanita itu mengajakmu macam-macam?'" Rafael melirik istrinya kesal. Tapi dia hanya berusaha diam dan merebahkan tubunnya. Kantuk sudah menyerangnya. Dia terlalu lelah untuk berdebat dengan Milea yang terlihat berapi-api malam itu.


"Kenapa tak menjawab? Apa kakak terlalu banyak minum air susu beruang jumbo itu hingga kekenyangan?" Ucap Milea amat geram. Giginya bahkan sudah gemletuk menahan amarah.


"Pantas saja seharian tak sempat mengangkat telepon atau membaca pesanku. Ternyata sibuk buka baju seperti saat kuliah diluar negeri dulu." Lanjut Milea makin marah karena tak kunjung mendapat jawaban dari Rafael.


"Mily, setan sedang merasuki pikiranmu. Segera ambil wudhu. Kita bicara lagi nanti." Rafael yang tadinya mengantuk kembali terduduk tegak dan menyibakkan selimutnya.


"Aku tidak mau. Bukan setan yang merasukiku tapi beruang bongsor itu!!" Milly bahkan menutup mulutnya sesaat mengucapkannya. Dia tak tau kenapa bisa semarah itu dan menolak perkataan suaminya. Milea bahkan bertambah marah saat Rafa lagi-lagi tak menjawab dan malah bergerak mendekati pintu.


"lepaskan Milea!" tapi Milea makin kuat mencengkeramnya. Rafael hingga harus menarik nafas panjang karenanya.


"Sebenarnya apa maumu Milea?" Milly mendengus kesal.


"Kakak bahkan lupa permintaanku setelah bertemu beruang jumbo itu. Bukannya aku minta kak Rafa untuk sering menelepon dan mengirim pesan? Kakak bahkan tak mau menjawab teleponku sejak dekat dengan mantan seksimu itu." sembur Milea kesal.

__ADS_1


"Maafkan aku. Tapi seharian ini aku sedang sibuk. Bukannya kemarin kau minta aku untuk belajar membuka hati untukmu? Milea...tak ada sesuatu yang instant di dunia ini. Aku juga belum terbiasa menerima kehadiranmu dan juga hubungan ini. Beri aku waktu untuk itu." jelas Rafael lembut. Tatapan teduh pria itu bahkan bisa menghipnotis Milea untuk sesaat.


"Tapi aku tetap tak suka jika kakak dekat-dekat dengannya."


"Kami tidak sedang bermain-main atau mengenang masa lalu Milly. Ini semua karena pekerjaan. Aku maupun dia harus profesional." Mileaa tetap cemberut. Andai papanya lebih kaya dari keluarga Hutama atau beruang jumbo itu, tentu dia bisa menciptakan kisah romantis sendiri seperti di novel-novel yang sering dia baca. Tapi nasib sepertinya tak berpihak padanya. Milea menundukkan wajahnya.


"Tapi anak kita tidak suka kakak berdekatan dengannya." sentak Milea sekali lagi. Entah ide dari mana yang menbuatnya seberani itu.


"Jangan menggunakan bayi tak berdosa itu sebagai alasan untuk membela egomu Milea!" Milly hampir berjingkat saat Rafael meninggikan suaranya. Dia sama sekali tak mengira kalau suaminya akan semarah itu saat dia menggunakan bayi mereka sebagai alasan. Hati Millea menciut saat mendapati mata coklat itu berkilat marah.


"Setidaknya kau bisa bersikap dewasa dengan bertanya baik-baik dan minta penjelasa padaku. Jangan bertindak semaumu." lanjut Rafael masih dengan kemarahan yang berusaha dia redam.


"Pokoknya aku tidak suka kakak dekat dengannya. Titik!!!" Air mata menggenang di sudut mata Milea. Wanita muda itu terlihat mencoba menahannya agar tidak jatuh dan tampak menyedihkan.


"Kenapa? kau cemburu? kau merasa kalah darinya? Milea itu sama sekali bukan pikiran dewasa."

__ADS_1


"Iya. Memangnya kenapa kalau aku cemburu? Aku memang kalah darinya kak. Segalanya. Tapi kupastikan aku akan menang darinya." Milea berlari menuju kamar tamu dan menguncinya. Air matanya tumpah.


__ADS_2