Love You More, Husband

Love You More, Husband
Pulang


__ADS_3

"Baru pulang?" Tanya Rafael saat berpapasan dengan istrinya di dekat tangga. Subuh baru menyapa, tapi hanya pertanyaan datar itu yang dia lontarkan pada istrinya yang semalaman tak pulang. Bahkan mata sembah dan pakaian penuh lumpur Milea sama sekali tak dia perhatikan. Pertanyaan tadi terasa hanya basa-basi semata. Milea menatap Rafael yang sudah rapi sepagi inim Ingin bertanya tapi dia enggan.


"Ya." jawab Milea pendek lalu berjalan ke kamarnya. Semalaman dia berada di makam mamanya, mengabaikan gelap, nyamuk, dan rasa takut tentunya. Disanalah tempat paling nyaman baginya. Tempat dimana dokter Maya mamanya disemayamkan.


"Hari ini berangkatlah dengan pak Man. Aku harus berangkat pagi karena ada urusan penting." Milly tak menyahut. Tertidur diantara hawa dingin pemakaman membuat tubuhnya serasa membeku. Masih ada dua jam sebelum pergi bekerja. Waktu yang bisa dia manfaatkan untuk rebahan dibawah selimut hangatnya. Ohh Ya Tuhan...dia baru ingat jika ini akhir pekan. Artinya dia bisa seharian bergelung dibawah selimut tebalnya. Persetan dengan Rafael. Tapi ngomong-ngomong....kemana suaminya akan pergi di akhir pekan?


Kenapa memikirkan hal yang menyakiti hatimu? Manusia hanya butuh hal simpel agar bahagia bukan? dengarkan apa yang patut di dengar, lihatlah apa yang patut dilihat, dan berkatalah seperlunya saja. Dan Milea akan melakukannya sekarang. Pikirkan kebahagian diri sendiri agar mentalnya waras. Hal yang baru akan dia jalani saat ini. Terserah Rafa mau melakukan apa, yang jelas dia akan tetap berlatih diam. Biar takdir yang akan bicara.


Dering ponsel membangunkan tidur nyenyak Milea. Dia meraih ponselnya dengan gerakan malas dan memincingkan matanya agar tau siapa peneleponnya.


"Hallo kakak...." sapanya dengan suara serak. Diseberang sana, Leon tertawa.


"Kau baru bangun?" Milly bangkit dan duduk di atas ranjangnya, menguap beberapa kali. Entah kenapa tidurnya kali ini sangat nyenyak. Saat melirik jam yang menunjukkan angka sembilanpun dia tak kaget.


.


"Hmmmm....aku capek kak." ucap Milly menyerupai keluhan. Dia tak bohong. Jiwanya secapek raganya. Sejujurnya dia ingin sendiri saja.


"Capek menunggui makam mama?" degh... Milly hampir menjatuhkan ponselnya, dari mana kakaknya tau jika dia mengunjungi makam mama mereka? Padahal dia pergi sendirian dan memastikan tak ada yang mengikutinya kala itu. Bagaimana jika Leon tau dia menangis dengan raungan pilu hingga berjam-jam lamanya disana? Milea menundukkan wajahnya. Sedih.

__ADS_1


"Dari mana kakak tau?" Leon terkekeh.


"Tentu saja dari suamimu. Memangnya dari siapa lagi?" Suaminya? bagaimana Rafael tau? bukannya pria itu sedang tak ada di rumah saat dia berangkat? dan lagi Milly yakin pria itu tidak mau tau.


"Mas Rafa?" ulangnya memastikan.


"Ya. Dia bahkan harus bolak-balik ke makam mama untuk memastikan kau baik-baik saja." Milea terdiam. Apa Rafa seperduli itu padanya?


"Milly, mulai hari ini pulanglah ke rumah. Rafael akan pergi untuk beberapa waktu. Ada hal penting yang harus dia kerjakan. Tadi dia berpesan agar aku menjagamu. Mungkin kau akan lebih baik jika dirumah." Milly terhenyak. Saat bertemu pagi tadi Rafa tak bilang apa-apa selain akan berangkat pagi karena ada urusan. Tapi sekarang...Leon malah mengatakan hal yang diapun tak tau. Lalu kenapa menyuruh Milly pulang? Bukannya ini rumah mereka? Lagi pula Milly tak takut walau sendirian saja. Rumah besar itu juga punya banyak pekerja dan pengawal. Tiba-tiba Milly merasa hatinya nyeri. Rafael ingin mengusirnya secara halus.


"Sudah cukup berpikirnya. Aku akan menjemputmu satu jam lagi. Ehmm...Milly...bawa saja pakaianmu yang dulu kau bawa dari rumah. Tak perlu membawa apapun dari rumah suamimu." Milea kembali dibuat bingung dengan perkataan kakaknya. Pakaiannya sendiri? Apa itu artinya.....


"Milly...dengarkan kakak. Mulai sekarang tak perlu bekerja di rumah sakit. Cukup pulang dan bersantailah di rumah." Air mata Milea kembali menetes. Dia hafal Leon. Kakaknya sedang menyembunyikan sesuatu. Leon pria yang dewasa dan sangat menjaganya. Sebagai anak laki-laki tertua keluarga Ibrahim.. Leon punya tanggung jawab besar pada dirinya juga papanya.


"Baik kak. Aku akan segera bersiap." Leon mengakhiri teleponnya. Dihadapannya seorang pria paruh baya dengan rambut memutihnya menatapnya datar.


"Apa yang kita lakukan sudah benar, pa?" tanya Leon dengan suara parau. Matanya juga semerah pria di depannya.


"Hanya ini yang bisa kita lakukan Lee. Terlalu banyak kesalahan yang akan kita lakukan jika terus mengorbankan Milea. Mamamu...dia tak akan tenang disana." Dan Ken Ibrahim mengusap air matanya.

__ADS_1


"Jual semua saham dan aset atas nama papa Lee. Bayarlah hutang perusahaan pada tuan Fernando, sisanya bisa kau gunakan untuk memajukan usahamu. Mulai sekarang papa hanya akan jadi pria biasa yang akan menikmati hari tuanya sambil menunggu anak-anaknya pulang bekerja." putus Ken seraya menandatangani sebuah surat kuasa.


"Tapi pa..."


"Kenapa? Apa kau takut tak bisa menghidupi Milly dan papa?" Leon terhenyak. Bukan itu yang dia khawatirkan. Meski semua aset perusahaan di jual, papanya tak akan jatuh miskin seketika. Masih ada beberapa ruko, tanah persawahan dan rumah sewa peninggalan mama mereka berikut uang pensiunnya. Meski tak banyak, tapi setidaknya masih menghasilkan uang bagi keluarga mereka. Perusahaan rintisannya juga berkembang cukup pesat, dia bahkan sudah membangun beberapa cabang diluar kota. Tapi berurusan dengan keluarga Hutama adalah mimpi buruk bagi seorang pengusaha. Mereka harus punya jiwa kuat saat melakukannya. Diam-diam Leon sudah menyusun skenarionya sendiri saat amarah seorang fernando meluluh lantakkan keluarga mereka. Tapi sungguh bukan nasibnya, juga papanya yang terus terlintas dalam kepalanya. Tapi Milea.


"Bukan itu pa."


"Lalu??? Apalagi yang kau pikirkan? Lee kebahagiaan anak-anak papa melibihi segalanya."


"Milly...bagaimana dia akan melanjutkan hidupnya?" lirih Leon kembali dengan suara bergetar. Bayangan tangisan Milly semalam masih menyisakan pedih dihatinya. Meski tak mendekat, dia tau Milly sangat bersedih. Yang sebenarnya bukan Rafael yang bolak-balik ke makam untuk memastikan Milea baik-baik saja. Tapi dia yang menunggui sang adik dari kejauhan hingga subuh tiba.


"Nanti akan kita pikirkan. Yang akan kita lakukan sekarang adalah membawanya pulang." ucap Ken Ibrahim tegas.


"Segera lakukan apa yang papa perintahkan karena setelah ini papa sendiri yang akan ke Singapura menemui tuan Fernando."


"Dengan mengatakan keburukan Milea?" tanya Leon sedih. Ken mengangguk.


"Itu lebih baik. Kita tak harus menyalahkan putra kesayangannya dan membahayakan diri kita. Cukup buat adikmu jadi yang bersalah." Leon kembali mengusap wajahnya kasar. Andai waktu bisa diputar kembali, Leon akan menolak lamaran bagi Milea sejak awal.

__ADS_1


__ADS_2