Love You More, Husband

Love You More, Husband
Bicara


__ADS_3

Milea membuang pandangannya saat berpapasan dengan Rafael pagi itu. Suaminya itu datang karena hari ini papanya sudah diperbolehkan pulang ke rumah dengan beberapa syarat yang dibuat dokter Sofia, besannya. Setiap hari akan ada kunjungan dokter ke rumah Ibrahim, perawat jaga yang khusus dijalankan oleh suster Mega juga penambahan beberapa asisten rumah tangga dari kediaman Hutama hingga Ken sembuh total.


"Sudah lama Raf?" sapa Leon yang terlihat barusan mandi. Dua hari ini memang Leonlah yang selalu berjaga saat malam hari, bergantian dengan suster Mega tentunya. Rafael tersenyum kecil.


"Aku baru datang." jawab Rafa kaku namun masih berusaha baik-baik saja. Dokter yang memeriksa Ken selesai memeriksa dan memohon diri hingga Ken bisa menatap anak dan menantunya yang masih berdiri di dekat pintu.


''Kau datang, Raf?" tanya sang mertua ramah. Rafael mendekat dan mencium punggung tangannya.


"Iya pa."


"Kau tak sibuk?" tanya Ken ingin tau. Dia cukup tau seberapa repotnya seorang CEO Hutama grup yang membawahi banyak perusaan. Tak semua orang bisa melakukannya. Bekerja dengan jadwal padat dan butuh kecerdasan diatas rata-rata. Tapi Ken sudah bahagia karena menantunya meluangkan waktu untuk datang menjemputnya.


"Saya akan punya banyak waktu, pa. Rich sudah menggantikan posisi saya menjadi CEO." Milea dan Leon sampai terkejut dengan perkataan Rafael yang tiba-tiba. Sungguh, raut kekhawatiran tergurat diwajah keduanya, takut jika Ken jadi shock karenanya dan berimbas pada jantungnya.


"Tapi kenapa Raf?" benar bukan??? Ken pasti ingin tau alasannya. Dan itu adalah hal yang sangat dihindari oleh keduanya. Leon hendak membuka suara menengahi pembicaraan saat Rafael kembalo bersuara.


"Saya hanya ingin hidup mandiri dan memulai segalanya dari awal." Ken terkekeh mendengarnya. Tatapannya menerawang jauh. Entah harus bagaimana mendengar jawaban Rafael. Harus menarik nafas lega atau menatap penuh tanda tanya karenanya.


"Kau membuat papa teringat masa muda. Papa meninggalkan Turki dan pindah ke Indonesia karena ingin membuka lahan bisnis baru. Jatuh bangun menjalankan usaha dengan modal pas-pasan hingga bertemu mamanya anak-anak. Tapi papa sangat bangga dengan kalian para anak muda yang sama sekali tak ingin bergantung pada orang tua. Bukankah papamu, tuan Fernando juga pernah melakukannya saat mendirikan Luxio di masa lalu?" Leon dan Rafa saling pandang. Mereka memang pernah mendengar soal Luxio, tapi tak tau pasti ceritanya.

__ADS_1


"Luxio dibangun oleh tuan Fernando setelah dibuang dari keluarga Hutama karena menikahi Emma marseden, pacarnya yang sama sekali tak disukai orang tuanya. Papamu benar-benar pria jenius dan pekerja keras. Demi cinta dia nekat keluar dari rumah, membangun usaha, mencari investor dan mengembangkannya hingga Luxio berkibar hanya dalam beberapa tahun saja. Dia pria hebat, sudah sepantasnya jika kau mengikuti jejaknya nak." Ken terlihat tersenyum bangga pada menantunya. Ternyata Leon dan Rafael adalah dua anak muda hebat yang ingin mandiri. Tak ada penyesalan dalam diri Ken karena menantunya memulai segalanya dari nol. Pria tua itu malah terlihat bahagia karenanya.


"Pantas saja ingin menikah lagi, buah jatuh tak jauh dari pohonnya." Lirih Milea ketus namun bisa di dengar jelas oleh Rafael. Pria itu hanya menghela nafas panjang karenanya, sama sekali tak ingin menanggapi.


"Sebaiknya kita bersiap pulang." putus Leon. Nanti saja acara nostalgianya. Baginya Ken sudah bisa menerima keadaan Rafa tanpa kaget saja sudah membuatnya amat bersyukur.


"Tapi kalian akan menginap bukan?" Ken masih tak rela berpisah dari anak dan menantunya setelah sampai di rumah nanti. Rupanya papa Milea itu masih ingin bercengkrama.


"Mereka akan tinggal bersama kita hingga papa sembuh." putus Leon tegas. Tentu saja membuat Ken tersenyum lebar. Sejak Milea menikah dan meninggalkan rumah dia jadi merasa kesepian. Hal yang kontras dengan Milly yang menatap horor Leon yang mengambil keputusan sepihak. Padahal kakaknya tau persis masalahnya dengan Rafael.


"Aku saja, bukan mas Rafa." Potong Milly cepat. Hal yang langsung membuat Ken kehilangan senyumnya juga membuat guratan kesal di wajah Leon karena seperti dirinya, Milly juga mengambil keputusannya sendiri.


"Itu benar, pa. Saya akan banyak berada di luar kota setelah ini. Milly akan lebih aman jika berada disini selama saya bekerja." Milly menatap suaminya jengah sebelum membantu papanya naik ke atas kursi roda lalu mendorongnya keluar tanpa mau berkomunikasi dengan suami dan kakaknya. Sampai di mobil dan perjalan pulangpun semua hanya diam.


"Kalian sebaiknya istirahat juga." kata Leon yang bersiap masuk ke kamarnya sendiri. Beberapa hari berada di rumah sakit membuat tubuhnya sakit semua dan butuh istirahat.


"Kita harus bicara." Milly menghentikan langkahnya menuju kamarnya. Dia sengaja tak ingin mengajak suaminya serta. Tak ada sahutan dari Milea. Dia memilih meninggalkan pintu kamarnya dan menuju taman belakang. Sangat sulit baginya menerima Rafael ke dalam kamarnya. Hatinya sangat sakit. Rafa mengikutinya ke taman.


"Bicara saja, disini tak ada siapa-siapa." Ucap Milea tanpa mau menatap suaminya.

__ADS_1


"Milly...aku tau akulah yang bersalah dalam masalah ini..."


"Katakan saja inti masalahnya. Jangan berbelit-belit." potong Milea dingin. Rafael menghela nafas panjang. Tak pernah dia lihat Milly sedingib sekarang. Sejujurnya Rafa merindukan suara manja dan perhatian istri cantiknya itu.


"Semua yang kau lihat saat aku bersama Shane kamarin sama sekali tak sesuai dugaanmu Milly. Aku dan Shane adalah sahabat baik sebelum bertunangan dan kandas karena penghianatan. Sejak itu rasa cintaku padanya sudah pupus dan lenyap tak bersisa. Hari itu, setelah bertemu di bandara Shane ingin bertemu dan bicara padaku. Dia menceritakan banyak hal setelah berpisah dari Rich. Dia nekat menikahi orang lain yang baru ditemuinya karena...harta. Tak taunya pria itu malah menjualnya ke rekan-rekan bisnisnya walau dalam kondisi hamil, pasca melahirkan hingga Jose sebesar sekarang. Dia nekat lari dari rumah suaminya hingga tiba dirumahnya. Tapi sayang dia tak lagi diakui sebagai anak oleh keluarga Marvels. Hari itu dia juga memohon agar diberi tempat tinggal karena sudah tak tau harus kemana. Aku bukan hanya memikirkan dia, tapi juga Jose. Anak itu masih terlalu kecil untuk menghadapi kehidupan yang keras. Ibunya trauma berat hingga bisa nekat menghajarnya atau melampiaskan kekesalanya pada siapapun seperti kemarin. Milly, aku berbohong padamu karena aku tak ingin kau berpikir yang tidak-tidak soal hubungan kami. Sungguh, aku disana karena dokter menyarankan agar memantaunya selama tiga hari agar bisa memutuskan nasib Shane setelahnya. Maafkan aku Milly..." Milea melepaskan tangan Rafa yang menyentuh pundaknya pelan. Wanita muda yang sangat cantik itu berbalik menatap Rafael teduh. Sama sekali tak ada kemarah disana.


"Boleh aku mengatakan pendapatku?" tanyanya lembut, tentu dengan gaya anggun wanita kelas atas.


"Katakanlah." Rafael menyinggingkan senyum kecil dibibirnya. Berharap Milea memaafkannya.


"Semua yang kau katakan juga wanita itu adalah kebohongan." Senyum tipis juga tergurat di bibir padat Milea saat memulai perkataannya.


"Milly...aku tidak....."


"Sama seperti aku yang mendengarkan penjelasanmu tanpa memotongnya, maka dengarkan aku hingga selesai bicara mas." Rafael terdiam, mengatupkan bibirnya rapat.


"Wanita itu berbohong soal penjualan dirinya ke para rekan bisnis suaminya karena jika dia benar-benar dijual maka dia bisa melapor ke polisi mengingat suaminya membebaskan dia pergi kemanapun. Jose juga tak pernah diurus olehnya karena selalu diserahkan ke ibu asuhnya. Juga...tak ada wanita korban traficking berujung trauma yang sangat menikmati hidup mewahnya, bahkan mempostinya dimedia sosial. Keluarga Marvels juga tak pernah merasa dikunjungi oleh putri mereka. Dari situ bisa disimpulkan jika mantan tunanganmu itu berbohong." Rafa hendak menyela, tapi Milly kembali tersenyum getir dan melanjutkan perkataannya.


"Kau bisa minta semua buktinya dari Yura dan kakak jika tak percaya pada perkataanku. Yang sebenarnya adalah....Wanita itu tak pernah puas hanya dengan satu pria. Dia mengencani semua teman suaminya hingga ketahuan dan diusir dari rumah. Tentu saja dia tak akan punya muka jika kembali pada keluarganya. Maka itu rencana ini dibuat. Dia mengejarmu dan berusaha menarik simpatimu dengan mengarang cerita palsu juga bekerja sama dengan dokter itu agar bisa mengurungmu agar bisa menjebakmu. Kupastikan....Shane tidak benar-benar gila dan masuk ke rumah sakit jiwa jika kau ingin menikahinya. Tapi tidak...rasanya hal itu tak akan pernah terjadi karena Rich adalah incarannya sekarang, bukan dirimu." Kata Milea dengan nada meremehkan. Darah Rafael tersirap.

__ADS_1


"Kau memata-matai kami?" sergahnya dengan raut putus asa.


"Tidak juga. Aku cukup diam dan mendengarkan laporan orang suruhan dady. Lagipula untuk apa aku melakukannya? Toh diantara kita tak pernah ada rasa. Pernikahan kita hanya formalitas yang tak mengharuskan aku tau atau peduli padamu. Sama seperti kau yang tak peduli padaku saat mencoba menyembunyikan wanita itu. Aneh bukan..seorang tuan muda dengan kekuasaan penuh dan kekayaan melimpah beralasan menjaga seorang wanita karena depresi? Jelas-jelas kau bisa menyewa orang..ups..bahkan seratus orang untuk menjaganya tanpa melibatkan dirimu. Tapi kau memilih membohongi dan mengabaikan istrimu untuk mengejar cinta masa lalu. Tak usah kau katakanpun aku sudah tau jika kau masih mencintai wanita itu." Milea segera berlalu, berjalan cepat menuju kamarnya sebelum air mata itu kembali jatuh. Toh semua yang ingin dia katakan sudah tersampaikan.


__ADS_2