Love You More, Husband

Love You More, Husband
Mengubah


__ADS_3

Hampir jam sembilan malam. Milea terus berjalan mondar-mandir di apartemen Rafael yang hanya menyisakan dirinya. Tak ada tanda-tanda suaminya itu akan pulang. Tapi Leon sudah mengirimkan pesan jika mereka dalam perjalanan ke apartemen dari satu jam yang lalu. Apa Jakarta semacet itu? atau mereka mampir ke suatu tempat terlebih dahulu? ahh.... Milea tak tau. Ponsel Leonpun tak bisa dihubungi.


Tubuh ramping Milea menegang saat suara langkah kaki mendekat. Tergesa dia merapikan dres selututnya dan berdiri di dekat sofa. Benar, sesaat kemudian pintu terbuka. Muncul sosok suami dan kakaknya di ambang pintu.


"Kalian sudah kembali?" Tak ada jawaban. Baik Leon ataupun Rafael sama-sama terdiam. Milly yang salah tingkah hanya bisa berdiri kaku ditempatnya, tak tau harus berbuat apa.


"Buatkan suamimu minuman jika dia pulang dari suatu tempat Milly." perintah Leon tegas. Dibesarkan dalam lingkungan keluarga membuat adiknya itu bahkan tak tau apa-apa soal kewajiban seorang istri. Milly tak menyahut. Gadis cantik itu bergegas menuju dapur lalu membuatkan dua minuman untuk mereka.


"Kak...ini teh hangat untuk kalian. Silahkan diminum." Rafael lah yang berinisiatif mengambil cangkir dan menyesap tehnya. Sungguh dia rindu teh almond yang dia bawa dari tempat opanya di London.


"Lee..ini teh almond yang pernah kuceritakan. Cobalah. Kau pasti suka." Leon juga mengambil cangkirnya. Benar...teh itu punya aroma dan rasa yang khas di lidah. Pantas saja jika Rafael amat menyukainya.


"Kalian....sudah makan?" Milea bertanya penuh keraguan. Serentak kedua pria dewasa itu menoleh.


"Kita pesan lewat aplikasi saja." jawab Rafael. Dia sudah cukup lelah untuk acara masak memasak hari itu. Pertemuan bisnis tadi cukup lama dan melelahkan baginya. Biasanya juga dia langsung menolak meeting di akhir pekan atau hari libur. Bagaimanapun Rafael masih berjiwa muda. Dia butuh refreshing walau hanya sekedar ngopi atau memancing bersama Leon. Jangan tanyakan jika keduanya sudah kecanduan basket. Mereka bisa seharian berada disana tanpa gangguan.

__ADS_1


"Tapi aku...aku sudah memasak untuk makan malam." kata Milea penuh keraguan.


" Memasak? kau yakin masakanmu bisa diterima lidah suamimu dan tak membuatnya sakit perutkan Mil?" Tentu saja Leon sebagai kakak kandungnya tau betul jika Milly tak bisa memasak. Ragu juga dirinya jika harus memakan masakan Milly nantinya.


"Tenang saja kak, aku sudah diajari momy Sofia." seketika wajah ragu Milly berubah sumringah. Tubuh langsingnya berayun ke meja makan, menata piring dan gelas minuman disana lalu mempersilahkan Leon dan Rafael duduk. Leon melangkah malas.


"Memangnya apa yang kau masak Mil?" Leon mencoba melirik meja makan. Hampir saja Leon berteriak kesal saat melihat hidangah yang dipamerkan adiknya tadi. Ya Tuhan...ayam goreng yang gosong, sup yang warnanya aneh karena makroninya terlalu lembek, sayuran yang masih keras juga ahh...sambal yang warnanya tak kalah seram.


"Milly...kau berniat meracuni kami?" hardik Leon. Milly hanya diam, salah tingkah. Tapi anehnya walau Leon yang menghardiknya, tatapan matanya malah sibuk memindai wajah suaminya yang nyaris tanpa ekspresi.


"Raf, sebaiknya aku pulang saja. Masih ada makanan layak makan dirumahku. Dan kau..kusarankan kau tak makan ini. Delivery order saja. Pulang dulu ya!" Leon segera berbalik menuju pintu dengan langkah lebarnya, tak. Peduli pada adik dan sahabatnya sama sekali.


Rafael menatapnya sekilas. Tangan kekarnya meraih mangkok sup yang amat besar itu lalu membawanya ke watafel. Milly termangu. Apa suaminya akan membuangnya? tapi Rafael tak melakukannya. Pria tampan beraksen Indo itu meniriskan air lalu memisahakan makroni dari sup lalu membuangnya ke tempat sampah. Sayuran yang masih keras itu dia siram berulang kali hingga tak meninggalkan bekas bumbu atau kuah. Entah bagaimana Milly memasaknya tadi.


Milly hanya melihat suaminya yang memblender bumbu lalu menumisnya bersama sayuran keras tadi lalu memasukkan telur dan juga mie yang sudah lebih dulu direbus. Lihat, pria itu begitu lihai memasukkan garam, saus tiram, kecap, saus juga penyedap hingga tercium bau harum yang tentu saja enak. Milly hingga harus menelan ludahnya.

__ADS_1


"Bantu aku membawanya ke meja makan." setelah sekian lama sibuk memasak, suara itu terdengar juga membuat Milly seketika menegakkan tubuhnya lalu membawa dua piring mie goreng itu ke meja. Tampilannya yang cantik dengan selada, potongan tomat dan mentimun membuatnya lapar.


"Kak...." Rafael yang barusan mencuci tangannya memandang Milly yang masih berdiri di dekat kursinya.


"Ada apa?" Milly memilin kedua tangannya gugup. Rafa tak melanjutkan pertanyaannya dan memilih duduk saja menghadap mie gorengnya.


"Kau bisa merubah masakanku yang tak layak dimakan jadi amat menarik dan terlihat lezat. Maukah kau mengubah diriku jadi berarti bagimu?" Rafael terkekeh seraya menggelengkan kepalanya, merasa lucu.


"Memasak tidak ada hubungannya dengan kehidupan Milly. Bukan aku yang bisa merubah dirimu, tapi kau sendiri."


"Aku tau aku bersalah kak...tolong maafkan aku dan batalkan rencana perceraian itu." Rafael kembali tertawa. Sendok yang sudah dia pegang kembali diletakkan di atas piring lalu menatap Milea lekat.


"Kau sudah tau? baguslah jika kau tau. Maafkan aku Milly, itu sudah jadi komitmen kita diawal pernikahan. Kau ingin menikah karena ingi mengejar Richard bukan? jadi sekaranglah waktunya Milly. Kejar cintamu."


"Apa kakak pikir momy dan dady akan menerimaku semudah itu setelah aku diceraikan putra kesayangan mereka? hidupku akan sama sulitnya kak." Mile duduk di kursi yang berhadapan dengan Rafael. Mereka bertatapan lama.

__ADS_1


"Momy dan dady bukan tipe orang tua jaman kuno yang akan mengurusi hal begituan. Aku juga bukan tipe seorang mantan yang akan mencampuri atau memata-matai kehidupanmu Milly. Setelah bercerai, aku akan mengurus Hutama grup dari luar negeri. Kau bisa hidup tenang nanti."


"Kakak aku....ahh..ya Tuhan." Pekik Milly frustasi. Stress sudah melandanya sejak pertama kali membuka percakapan tadi.


__ADS_2