Love You More, Husband

Love You More, Husband
Gaduh


__ADS_3

Milea yang baru saja bangun dari tidurnya seketika melebarkan matanya saat mendengar kegaduhan kecil di lantai dasar. Gadis itu segera ke kamar mandi membasuh muka, gosok gigi lalu menyambar daster bermotif doraemon kesukaannya lalu melesat turun.


Milea dibuat tercengang saat melihat ibu mertuanya tengah membagikan bingkisan satu persatu pada para pekerja rumah yang sudah mengantri. Ada pula yang sudah memekik girang saat tau isinya. Rata-rata berisi gaun cantik bagi pelayan perempuan, atau kemeja dari brand lokal yang tentu saja harganya masih diatas rata-rata karena kwalitas nomer satu yang tak bisa diragukan juga beberapa batang coklat buatan pabrik ternama dalam ukuran besar. Milea terkesima. Sebegitu dermawankah Sofia pada semua orang hingga begitu perhatian pada asisten rumah tangganya?


"Milly? kau sudah bangun? kemari nak!" Sofia yang melihat kehadiran Milea segera melambaikam tangan padanya. Milly langsung mendekat, mencium punggung tangan sang mertua lalu duduk disebelahnya. Tangan lembut Sofia meraih sebuah bungkusan berwarna pink dan menyerahkannya pada menantunya.


"Ini...untukku mom?" tanya Milea ragu. Tak menyangka dirinyapun kebagian oleh-oleh momynya. Sofia mengangguk.


"Ya, ini untukmu. Bukalah." Dengan tangan bergetar Milea membukanya, sekarang iris coklatnya membola. Sebuah gamis cantik dengan warna pink cerah beserta hijab modernnya sudah terlipat manis di dalamnya. Juga ada kotak hitam yang Milly baru tau jika isinya adalah gelang berlian entah berapa karat yang berkilauan diterpa sinar mentari pagi. Milly tau harganya pasti selangit.


"Mom ini...."


"Untukmu Milly. Sekarang bawalah ke kamarmu. Momy akan ke kamar Rafa dan Richard setelah ini." Mata Milly berkaca. Ibu mertua yang baik, keluarga yang baik, tapi dia seolah menghina dan merendahkan mereka di rumahnya sendiri dengan menyakiti Rafael. Hal yang tentu saja sangat keterlaluan. Milly menyumpahi dirinya sendiri.

__ADS_1


"Mom...terimakasih." bisiknya dengan tetesan air mata yang sudah tak terbendung lagi. Milly menangis.


"Sstt..sayang...jangan menangis ya. Mom ikhlas kok." Sofia bahkan menyeka air matanya dengan amat lembut. Milly jadi rindu mamanya.


"Boleh Milly peluk momy?" Dan Sofia segera memeluk sang menantu dengan penuh kasih. Entah kenapa dia tak bisa membenci gadis itu. Milly baginya sudah seperti putrinya sendiri. Apalagi mengingat hubungannya dengan mamanya dulu. Tanpa Rosa mungkin Sofia tak akan seperti sekarang. Rosalah yang selalu membantunya semasa kuliah di Surabaya hingga dia mengalami masa-masa sulit di awal pernikahannya dengan Fernando. Sayang, kanker yang di derita sahabatnya itu membuatnya meregang nyawa di usia muda. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosanya.


"Hmm..baiklah. Bagaimana kalau kau bantu mom membawa ini ke ruangan suamimu. Katakan ini oleh-oleh dari momy oke?"


"Kita bagi tugas sayang. Kau ke kamar suamimu, momy akan ke kamar Richard. Sebentar lagi sarapan, dady akan segera bersiap." Milly melirik jam dinding, benar setengah jam lagi sarapan, sedangkan dia sendiri belum memakai baju dengan benar. Milly harus cepat.


"Baiklah mom, aku pergi ke ruang kerja kak Rafa saja." Sofia segera menyerahkan paperbag yang dipegangnya pada Milea yang langsung beranjak ke ruang kerja Rafael.


Milea mengetuk pintu tiga kali lalu membuka pintu. Dia menemukan Rafa yang sudah duduk di meja kerjanya, mengerjakan sesuatu. Ahhh..sepagi ini bahkan suaminya sudah bekerja. Membuatnya merasa bersalah saja. Kenapa dia tak kemari dengan secangkir kopi tadi? Lebih dari itu Milea juga dibuat terpana pada tampilan Rafael pagi itu. Pakaian kasual dan kaca mata yang menghiasi wajah tampannya seolah membuatnya ratusan kali lebih tampan. Richard? dosennya itu malah tak ada apa-apanya sekarang. Rafael terlihat menawan diusia matangnya.

__ADS_1


"Ada apa Milly?" tanya Rafael datar. Tatapannya sejenak beralih pada tubuh langsing Milea yang mendekat padanya.


"Ini hadiah dari momy kak. Tadi momy ingin kesini tapi waktu sarapan akan segera tiba. Jadi mom pergi ke kamar Richard sekarang." jelas Milea. Rafa hanya mengangguk, melepas kaca mata bacanya lalu menaruhnya di atas meja.


"Letakkan saja disitu. Terimakasih Milea." katanya kemudian. Tapi Milea yang masih mengagumi ketampanannya sama sekali tak menyahut. Gadis itu malah asyik senyum-senyum sendiri.


"Milly...." panggil Rafa agak keras, membuatnya tersentak lalu salah tingkah.


"Kakak bilang apa tadi?" Milly tau Rafa berkata sesuatu padanya, tapi dia tak begitu memperhatikannya. Konsetrasinya sudah terbelah dua.


"Tidak ada." Milly mengangguk samar lalu berpamitan keluar menuju kamarnya, dia harus segera mandi dan berberes pagi ini.


Lagi dan lagi Milea dibuat terperangah saat melihat ibu mertuanya sudah selesai menyiapkan meja makan. Mereka terlihat sangat kompak dan terampil. Milea sempat dibuat rendah diri karenanya. Yura bukan saingan yang remeh. Gadis itu sangat sempurna dimatanya. Jangan sampai ibu mertuanya jatuh hati pada asisten baru itu. Milea hingga dibuat pusing karenanya.

__ADS_1


__ADS_2