Love You More, Husband

Love You More, Husband
Sena


__ADS_3

"Rafa terus mengenggam jemari Milea erat walau istri cantiknya itu belum tersadar dari pingsannya. Raut panik dan gelisah mendominasi wajah tampan sang tuan muda yang terus menggumamkan beribu doa untuk keselamatan istrinya meski dokter sudah menyatakan Millea tak parah meski sempat kekurangan darah. Hal yang membuat Rafael nekat pulang ke rumahnya, berlutut dihadapan momy Sofia agar mau mendonorkan darahnya yang kebetulan punya golongan darah yang sama dengan istrinya yang terbaring tak berdaya di brankar rumah sakit kecil di dekat lokasi kejadian tabrakan tadi. Rumah sakit itu juga tak punya stok darah yang sesuai dengan golongan darah Milea hingga mengusahakannya di tempat lain, tapi tetap saja kosong. Rafael bahkan berlutut sambil menangis karena sang momy yang masih dalam mode tekejut belum juga menjawab permintaannya.


"Sebaiknya kau pergilah sarapan, Raf. Sejak semalam kau sama sekali belum makan dan minum." Rafael menengadahkan kepalanya, menatap sedih momynya yang membawakannya kotak makan dan minumannya. Seberapapun kuatnya Sofia ingin memberikan pelajaran dan hukuman pada putranya, tapi lagi-lagi rasa tak tega menyerbu batinnya. Dia memang tak sekuat ibunda Fernando saat menghukum anak-anaknya. Sofia tetap seorang ibu yang dipenuhi kasih sayang pada semua anaknya.


"Apa Milly akan segera sadar mom??" bukannya mengiyakan atau menolak tawaran momynya, Rafael malah menanyakan hal yang berputar dikepalanya dari tadi. Sofia menarik nafas panjang lalu memeriksa keadaan menantunya.


"Mungkin dia akan segera sadar. Jadi makanlah. Milly pasti akan sedih jika melihatmu seperti ini."


"Aku tidak lapar momy." Balas Rafael tak bersemangat.


"Sudah hampir tengah hari Raf. Kau butuh asupan makanan agar segar saat Milly sadar nanti. Kau lihatkan jika kondisi Milly sudah membaik? dokter Lisa tak akan meletakannya di kamar rawat jika kondisinya masih gawat." bujuk Sofia lembut. Tapi Rafael tak bergeming.


Yang dikatakan momy Sofia benar. Milea tak terluka terlalu parah. Pendarahan yang dialaminya juga langsung bisa diatasi oleh para dokter yang bertugas. Rafael saja yang terlalu panik menyikapi keadaan istrinya.


"Momy tak akan segan meminta tolong dadymu untuk menghancurkan Bimantara jika kau tak mau makan juga Rafael hutama. Jadi makand dan minum obatmu jika kau ingin mereka tetap bekerja." tukas Sofia dengan nada yang lembut namun mematikan. Rafael melirik siku tangan kanannya yang memang terluka cukup dalam karena terkena pecahan kaca. Mau tak mau pria tampan itu menurut. Berjalan menuju meja dimana bekal yang dibawa momynya berada lalu memakannya dalam diam. Sementara Sofia kembali memeriksa keadaan Milea hingga merasakan gerakan pada matanya. Ya, Milly akan membuka mata.


"Mo...momy...." katanya lirih saat melihat Sofia sudah berdiri di dekatnya dan membelai kepalanya penuh kasih.


"Iya sayang. Apa kau mengalami keluhan?"

__ADS_1


"Mi....Milly sayang." Rafael datang tergesa dan langsung mengenggam jemari istrinya. Setetes air mata jatuh di pipi putihnya, membuat Milea tersenyum haru. Rafael mencium pucuk kepalanya lama, menyalurkan kebahagiaan yang membuncah di dadanya.


"Syukurlah kau sudah sadar. Aku ..aku sangat takut kau kenapa-napa. Milly...terimakasih sudah kembali padaku." Rafael tak henti-hentinya mengecupi tangan istrinya penuh rasa syukur.


"Momy ..terimakasih sudah menyelamatkan istriku." Ujar Rafael dengan suara bergetar ketika menatap momynya yang juga menatapnya dengan mata berkaca.


"Melihat kalian saling mencintai seperti sekarang saja sudah membuat momy sangat bahagia. Baiklah, sebaiknya momy menemui dady dulu."


"Dad? Apa dia disini?" Sofia mengangguki pertanyaan putranya. Nando memang ada di rumah sakit ini walau tak ikut masuk bersamanya ke ruang perawatan Milea.


"Kau mau kemana? sudahlah, jaga Milly. Dady ada sedikit urusan dengan orang yang menabrak kalian." Sofia mencegah Rafael yang akan berdiri menemui dadynya. Dokter spesialis jantung senior yang amat disegani itu keluar ruangan setelah berpesan beberapa hal pada putra dan menantunya. Sebagai gantinya, dokter jaga yang akan memeriksa keadaan Milea.


Di luar ruang perawatan VIP rumah sakit, dua orang pria beda generasi sedang duduk bersedekap memandang satu titik. Wanita muda dengan kondisi dan dandanan amburadul sedang terisak ketakutan. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir sang pria paruh baya, lain halnya dengan pria muda didekatnya yang terus menekannya dengan kalimat pendek namun penuh itimidasi sejak tadi pagi hingga siang ini. Gadis muda itu adalah orang yang menabrak adik kesayangannya hingga tak sadarkan diri.


"Bagaimana Milly tante?" tentu Leon bersikap tak sabaran saat ini. Memikirkan adiknya juga papanya yang belum sembuh benar membuatnya banyak pikiran.


"Dia tak apa-apa. Kalian bisa menemuinya setelah dokter selesai memeriksa nanti." jawab Sofia lembut. Terlihat sekali wajah lega pada semua orang, tak terkecuali si gadis penabrak tadi. Gadis itu serta merta mengucapkan tahmid hingga Sofia maupun Fernando menoleh terkejut. Gadis ini....walau ditemukan dalam kondisi mabuk saat menabrak anak-anak mereka, memakai dandanan seronok yang membuat siapa saja tak nyaman namun masih bisa berucap syukur dengan benar. Sofia berjalan mendekatinya.


"Siapa namamu?"

__ADS_1


"Se...Sena tante." balasnya terbata sambil meremas tangannya gugup.


"Kau dari keluarga mana?" Sena kembali meremas tangannya sambil menundukkan kepalanya.


"Sa...saya...saya...tidak punya keluarga nyonya." dahi Sofia mengrenyit heran.


"Mobil yang dipakainya adalah milik Bob Andrews, pengusaha batu bara juga pemilik Andrews grup. Mungkin dia putrinya." Sena sontak menatap Fernando sambil mengibaskan kedua telapak tangannya pertanda itu bukan dirinyadengan amat gugup.


"Sa...saya...ahhh...pria tua itu ingin memperkosa saya." timpal Sena terbata-bata. Tanpa sadar gadis itu memeluk erat lengan Sofia karena ketakutan.


"Ceritakan semuanya dengan benar." ucap Sofia seraya menuntunnya kembali duduk dikursi tunggu tanpa melepaskan cekalan tangan Sena di lengannya. Gadis itu seperti trauma.


"Sa..saya...saya..."


"Sena, jangan takut. Aku dan suamiku akan melindungimu jika kau berkata jujur." Sofia mulai menenangkan Sena yang masih dilanda ketakutan.


"Seseorang bernama Omi mengambil saya dari agen tenaga kerja nyonya. Dia berjanji akan memberi saya pekerjaan dan gaji yang besar. Tapi dia....dia menjual saya pada pria hidung belang nyonya. Saya dipaksa bekerja dan melayani para tamu tanpa bisa menolak. Mereka memukuli dan meyekap kami jika berani menolak." Sofia memeluk Sena yang menangis sesenggukan. Lidahnya tercekat. Gadis muda ini korban perdagangan manusia. Pantas saja dia terlihat trauma.


"Lalu bagaimana kau bisa keluar dari sana? Juga memakai mobil tuan Andrews?"

__ADS_1


"Saya...saya tu...tuan Andrews mengajak saya menghabiskan malam di vilanya. Saya...saya memukul tuan Andrews hingga tewas beberapa meter dari sana lalu membawa lari mobilnya." Sena kembali histeris setelah menyatakan semuanya. Dia bahkan menatap kedua tangannya penuh penyesalan. Dia sudah jadi pembunuh.


"Cari tau apa Bob Andrews benar-benar meninggal atau tidak." perintah Fernando pada seorang pengawalnya.


__ADS_2