Love You More, Husband

Love You More, Husband
Subuh


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang saat Rafael terjaga dari tidurnya. Semalaman dia bahkan tak terbangun dan tidur nyaman sambil memeluk Milea yang hingga sekarang juga masih tertidur dalam dekapan hangatnya. Untuk sesaat Rafael melirik si gadis. Tak tega rasanya membangunkan tidurnya yang amat pulas. Tak hanya itu, sejujurnya dia juga sedikit gamang jika ingat adegan bangun tidur pasangan suami istri yang tak saling mencintai tapi terlibat kemesraan tak terduga saat bangun dan cekcok untuk menentukan siapa yang bersalah karena memeluk duluan. Apalagi mereka pernah terlibat one night stand yang mengejutkan.


"Milly...bangun." panggilnya pelan sambil mengguncang bahu Milea beberapa kali. Panggilan adzan harus dia penuhi meski tak tau bagaimana nanti Milea bereaksi saat mendapati mereka saling memeluk seperti ini.


"Eehmmm...." gumam Millea seraya menggeliatkan tubuhnya. Wajah bantal dan mata merah itu sudah menengadah menatap sang suami yang menunggu reaksinya harap-harap cemas.


"Bangunlah. Aku harus sholat.'' Milly mengeser tubuhnya hingga Rafael segera bangkit. Dia merasa agak lega karena tak ada reaksi berlebihan dari Milea karena hal barusan. Itu artinya tak akan ada drama pagi ini.


"Kakak mau kemana?"


"Ke ruang kerjaku, mandi."

__ADS_1


"Kenapa mesti kesana? disini juga ada kamar mandi. Ini juga kamar kakakkan? aku akan ambilkan perlangkapan sholatnya. Kak Rafa mandilah." Rafa terdiam. Pikirannya masih dipenuhi kebingungan. Tapi saat Milea bangkit menuju walk in closet dia baru sadar jika Milly tak sedang mengigau. Mau tak mau dia segera masuk ke kamar mandi dan bersih-bersih.


Saat masuk kembali ke kamarnya, Rafael disuguhi pemandangan menarik hingga membuat sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kecil. Ya, Milea sudah duduk manis diatas sajadahnya dengan mukena warna abu yang diberikan mama Sofia padanya. Anggun.


Rafa segera menundukkan pandangannya. Meski mereka suami istri yang halal untuk salin menatap, tapi hubungan mereka tak sebaik dan semulus itu. Bisa dibilang pernikahan ini juga ujian kesabaran bagi Rafael.


"Itu sarung dan baju koko kakak. Songkoknya sekalian." tunjuk Milea pada rangkaian baju muslim milik Rafa yang sudah dia siapkan. Siapa mengira jika gadis itu juga memilihkan baju koko warna abu-abu seperti mukenanya. Jika dilihat-lihat mereka seperti pasangan bahagia saja. Rafa segera mengenakan sarung dan kopyahnya, lalu menuju sajadah miliknya yang sudah terbentang di depan Milea.


"Kita hanya mau sholat di rumah, bukan berjamaah di musholla. Aurat laki-laki itu hanya tali pusar hingga sebatas lutut Milea. Jadi pakaian dan sarung ini saja sudah cukup menutup auratku dan mengesahkan sholatku." jelas Rafael. Milea mengangguk-angguk mencoba memahami. Terlalu banyak yang dia tak tau. Entah kenapa Rafael terlihat smart dan menarik dihadapannya dari waktu ke waktu. Sholatpun dijalankan dengan khusyuk hingga salam. Rafa hanya mendiamkan Milea yang tak ingin bersalaman dengannya di akhir sholat. Biarlah semua berjalan seperti aliran air. Nanti dia akan memberitau Milly berlahan. Yang penting istrinya itu sudah mau sholat karena statusnya yang masih suami Milea saat ini. Dosa seorang istri yang tak mau melakukan sholat akan ditanggung suaminya di akhirat kelak.


"Kakak mau kemana?" sejak tadi sudah berapa kali Milea terus bertanya dia hendak kemana.

__ADS_1


"Milly, ini sudah pagi. Kau tak perlu takut lagi seperti semalam." Rafael segera membuka korden kamarnya. Diluar memang masih gelap, tapi sebentar lagi sang surya akan keluar dari peraduannya. Artinya tak ada yang harus Milea takutkan bukan?


"Aku tidak takut." cicit Milea lirih.


"Ya sudah, aku akan turun untuk berolah raga sebentar. Rena dan yang lain pasti sudah memulai pekerjaannya d lantai bawah pagi ini. Nanti kita bertemu di ruang makan." Rafael segera berjalan menuju pintu dan membukanya. Dugaannya benar, para pelayan sudah berlalu lalang membersihkan rumah juga melakukan pekerjaannya.


"Apa semalam Rich pulang?" tanyanya pada Rena yang menyambutnya dibawah. Kepala pelayan itu segera membungkukkan badannya.


"Tidak tuan muda. Tuan Richard tidur di apartemen." jawab Rena patuh.


"Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu mbak Ren." balas Rafa lalu pergi ke ruang kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2