Love You More, Husband

Love You More, Husband
Pagi


__ADS_3

Lagi dan lagi bunyi bel melepaskan pelukan ayah dan anak yang sedang berada dalam suasana haru. Rich mengelus kepala Dave lembut, seolah tak memperdulikan suara tadi. Lagi pula siapa yang datang sepagi ini? Yura? jelas tidak mungkin karena jam kerja masih lama. Istrinya pasti akan datang setengah jam sebelum waktu keberangkatannya seperti peraturan keluarganya. Pengawal? Jelas lebih tidak mungkin karena jika Rich ada di apartemen berarti dia sedang dalam mode tak ingin diganggu. Lalu siapa yang datang sepagi ini? Rich mendekati pintu dengan langkah lambat lalu membukanya.


"Selamat pagi tuan muda. Maaf sudah menganggu anda." Suara Rich tercekat ditenggorokan manakala melihat siapa yang datang. Mertua laki-lakinya, Sean moraima berdiri gagah dengan postur bulenya, menatapnya teduh. Dari jarak dekat Rich bisa mengira-ngira betapa gagahnya Sean saat muda dulu. Andai saja tak ada darah Fernando yang mengalir dalam tubuhnya, tentu dia akan kalah telak dari mertuanya itu.


"Papa..ehmmm..silahkan masuk." Dan Rich menundukkan tubuhnya dengan sikap hormat saat mempersilahkan mertunya masuk ke apartemennya. Bukannya bersikap layaknya ayah mertuan, Sean malah balik menundukkan tubuhnya sebagai tanda penghormatan pula. Hal yang membuat Rich mengerutkan keningnya.


"Saya datang untuk menjemput tuan kecil sesuai perintah tuan besar Fernando." Belum habis keterkejutan Rich, Sean sudah mengatakan hal yang tadi Dave katakan padanya. Dadynya bahkan sudah bergerak secepat itu untuk menapal kuda dirinya.


"Dimana Yura, pa?" bukannya menyambung perkataan Sean, Rich malah menanyakan hal lain yang tak ada kaitannya dengan topik awal mereka.


"Anda suaminya..kenapa bertanya pada saya?" kali ini Rich dibuat tertegun dengan ekspresi bingung ayah mertuanya yang sangat natural. Artinya Sean benar-benar tidak tau apa yang terjadi pada keluarganya. Rich sedikit bernafas lega karenanya.


"Ehmmm...saya dan Dave akan pulang ke rumah pagi ini, pa. Papa tidak usah menjemputnya lagi." ujar Rich sepelan mungkin. Dia tak ingin muncul kesalah pahaman antara dirinya dan Sean.


"Untuk apa anda pulang? Tuan besar sudah mempersiapkan semuanya. Anda tinggal berangkat saja."

__ADS_1


"Papa please...kenapa papa mulai lagi bersikap begitu padaku. Aku tak suka itu papa. Tolong jangan bersikap juga memanggilku begitu." Sean mengangkat kepalanya tegak lalu menatap dalam netra blue ocean menantunya.


"Tidak andai anda memperlakukan putri saya dengan baik." lagi, tenggorokan Rich terasa amat ketat hingga kesulitan menelan ludah. Ternyata Sean tau semuanya dan bersikap biasa saja dihadapannya. Sungguh, Rich dibuat malu dan salah tingkah karenanya. Bagaimana dia akan menjawab pertanyaan dari bibir Sean yang mungkin akan terucap untuknya.


"Rich...jika Yura memang bersalah maka biarkan dia yang keluar. Tak pantas bagimu sebagai seorang tuan muda pemilik rumah itu pergi begitu saja. Itu bukan sikap yang patut ditunjukkan pada Dave."


"Bukan aku pemilik rumah itu, pa. Yura adalah pemiliknya karena aku sudah mengalihkan rumah itu menjadi atas namanya."


"Untuk apa melakukannya Rich. Rumah itu bernilai besar. Yura bahkan...."


"Dia istriku papa. Apa yang kupunya adalah miliknya juga. Aku hanya ingin menenangkan diri, bukan pergi dari rumah." papar Rich berusaha membela diri.


"Aku sudah berjanji padamu, pa. Janji bagi seorang pria adalah kehormatan. Aku akan memengang janjiku membahagiakan putrimu seumur hidupku."


"Kalau begitu bersiaplah." Rich menegakkan tubuhnya. Bersiap? Kemana?

__ADS_1


"Tuan Fernando sudah menyiapkan dua tiket bulan madu untuk kalian ke Prancis dua jam lagi." Benar bukan...lagi-lagi orang tuanya bertindak semaunya tanpa bertanya apa yang dia inginkan. Rich jadi berubah geram karenanya.


"Bisakah aku minta tolong padamu agar menyampaikan sesuatu pada dady, pa?"


"Kenapa tak langsung telepon saja?"


"Papa tau bagaimana Dady dan momyku bukan? jadi tolong papa sampaikan jika aku tak ingin ke Perancis. Suruh dady memberikan tiketnya pada kak Rafa dan Milea saja karena aku menyukai bulan madu di rumah baru kami." Hanya alasan Rich saja untuk tak pergi. Lagi pula untuk apa pergi jika Yura saja tak mau melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri. Bukannya bulan madu, yang dia dapat malah bulan-bulanan nafsu yang tak tersalurkan.


"Tiket ini dipesan dari Jepang, bukan dari Indonesia Rich. Lagi pula Tuan muda Rafa tak akan mau pergi ke Prancis karena dia dan nona Milly akan bertolak ke jazirah Arab untuk umroh berdua." Rich menepuk kepalanya. Masalah demi masalah pagi itu sudah memberi shock terapi padanya hingga pusing dan kehilangan separuh akal sehatnya. Tapi apa itu tadi? Arab? Umroh? Ckckkckckck...


"Aku selalu saja kalah darinya." lirih Rich seraya tersenyum tipis. Siapa yang tak paham sifat kakaknya yang sangat religius. Impiannya untuk membawa wanitanya kesana terlaksana juga. Rafa benar-benar sudah menemukan separuh jiwa raganya dan mempercayakan hidupnya pada Milea. Rich mengepalkan tangannya kuat. Tak sia-sia dia bekerja keras untuk menyatukan mereka berdua.


"Kenapa tidak papa dan mama saja yang kesana? Lagipula Yura bilang mama sangat menyukai Perancis. Apa salahnya membawa mama bulan madu kedua kesana, pa." Sean meraup wajahnya. Yang Yura katakan benar. Amanda memang beberapa kali ingin pergi ke sana tapi Sean selalu sibuk.


"Serahkan saja urusan perusahaan padaku juga Yura, pa. Dady pasti mengijinkannya."

__ADS_1


"Tapi Rich...".


"Papa dan mama bersiap saja. Biar aku yang mengatur semuanya." tegas Rich tak terbantah.


__ADS_2