
"Duduklah." Rafael menepuk sisi tempat tidurnya. Milly segera duduk tanpa berpikir dua kali. Mata coklatnya membola saat Rafael malah beringsut ke kakinya. Tangan kekarnya mulai memijit, tak mempedulikan Milea yang berusaha menolak perlakuannya karena rasa tak enak hati. Bagaimanapun dia tak ingin dituding merendahkan status Rafa walau hanya ada mereka berdua di kamar itu.
"Diamlah Milly. Seharian ini kau sudah membawa calon anak kita jalan-jalan. Kau dan dia pasti lelah." Milea terkesiap. Anak kita? tidakkah kata-kata itu terlalu manis baginya?seolah Rafael dan dirinya adalah pasangan yang saling cinta. Dia hanya sanggup diam, memperhatikan jemari besar itu terus bergerak memijit kakinya.
"Kak...." Rafael menatap Milea yang mulai diam dan menikmati pijitannya.
"Hmmmm..."
"Bolehkah aku bekerja di rumah sakit momy?" akhirnya pertanyaan itu keluar juga aetelah terdiam sangat lama. Terus terang Millea ragu, amat ragu. Dia dan Rafa belum saling kenal sebelumnya. Mana dia tau Rafa itu seperti apa. Tapi Leon bilang suaminya adalah pria baik hati. Apa salahnya mencoba?
"Untuk apa bekerja Mil? Apa kau menginginkan sesuatu? apa uang yang ada dlam atm mu sudah tak cukup? Jika iya maka aku akan menambahkannya. Maaf jika aku lupa bertanya." Milea mencegah tangan Rafael yang akan menjangkau ponselnya. Kepalanya menggeleng.
"Bukan kak. Uang itu bahkan belum kugunakan. Aku...aku hanya bosan di rumah. Lagi pula aku belum pernah bekerja sama sekali selepas kuliah. Aku juga ingin punya pengalaman kerja seperti yang lain kak." Sekarang Rafaellah yang gantian terdiam. Milly benar. Dia juga pernah berada di posisi Milea saat baru lulus dulu. Rafa bahkan melamar kerja menjadi staf biasa di perusahaan ekspor import tanpa sepengetahuan dadynya hanya untuk memuasakan dahaganya akan pengalaman kerja. Tapi Milea sangat berbeda darinya. Istrinya itu tengah hamil dan butuh banyak istirahat. Lagi pula pasti dia hanya bisa bekerja beberapa bulan saja karena Rafa tak akan pernah mengijinkan doa bekerja setelah bayi mereka lahir nanti.
"Kenapa harus ke rumah sakit momy?"
"Ya karena momy menawarkannya." jawabnya polos.
"Momy yang menawarkan atau kau yang meminta?" Rafa sangat hafal watak momy Sofia. Dia tak mungkin menyuruh Milly bekerja saat hamil seperti sekarang. Apalagi secara finansial keluarga mereka diatas rata-rata.
__ADS_1
"Aku yang memintanya kak." lirih Milly dengan kepala tertunduk lesu.
"Aku tidak mengijinkanmu kerja disana Milly." putus Rafa datar. Milly diam. Dia sudah menduga dari awal jika Rafa pasti tak mengijinkannya bekerja. Walau sedih, tapi wanita muda itu tetap tersenyum.
"Baiklah." balasnya pendek. Jadi ibu rumah tangga juga bukan hal buruk baginya saat diluar sana banyak wanita yang menderita karena pernikahan. Suaminya adalah pria mapan dan bertanggung jawab. Dia adalah salah satu dari jutaan wanita yang beruntung. Milly ingat kata-kata ibu mertuanya yang amat arif. Rafael menatapnya lekat. Dia tau Milly kecewa.
"Perusahaan dady mempekerjakan akunting online meski hanya beberapa. Itupun hanya orang-orang terpilih yang sangat dipercaya. Kau bisa menjadi salah satunya Milly. Bekerja dari rumah hingga waktu yang tak terbatas meski setelah melahirkan nanti." Seketika kepala Milea terangkat. Matanya berbinar bahagia. Tangannya juga dengan cepat memeluk Rafael tanpa sempat menghindar.
"Aaaahh...terimakasih kak. itu..kapan aku bisa mulai bekerja?" tanyanya antusias.
"Kapanpun. Besok Yura akan mengabarimu." Berlahan Milly melepaskan pelukannya saat merasakan Rafael yang membeku tanpa membalas pelukan spontanitasnya.
"Maaf." katanya kembali tak enak hati apalagi ada nama Yura dari bibir suaminya. Hati Milea terbakar.
"Kenapa minta maaf? Kau bisa memelukku kapanpun kau mau."
"Maksud kakak?" Tentu saja Milea bingung karena perkataan suaminya. Beberapa bulan menikah mungkin bisa dihitung dengan jari saja mereka dalam posisi intens seperti sekarang.
"Milea dengar....akan segera hadir seorang bayi diantara kita. Bagaimanapun hubungan kita tercipta nantinya, aku hanya ingin kita saling menjaga. Aku menjagamu sebagai seorang suami, mencukupi kebutuhan kalian juga menjaga perasaan kalian. Anak ini tidak boleh kekurangan kasih sayang karena jika itu terjadi...akulah orang yang paling berdosa karenanya. Kuharap kita bisa bekerja sama untuk baby. Kita akan jadi partner untuk membesarkan dia." Milea mencibir. Dia malah dengan percaya diri bangkit dari pelukan suaminya lalu duduk di depannya. Juga dengan amat berani menggenggam kedua tangannya erat.
__ADS_1
"Bekerja sama?? Ahhh itu pasti. Tapi aku tidak mau jadi partnermu."
"Lalu?" dahi Rafael berkerut.
"Aku ingin jadi istri dan ibu anakmu dalam arti yang sesungguhnya. Bukan partner seperti kata kakak. Apa kakak sudah mengerti? Jika belum maka akan kukatakan secara jelas. Aku ingin kakak mulai membuka diri dan berusaha mencintaiku mulai dari sekarang." tegasnya dengan mata mengedip lucu.
"Kau menyuruhku mulai mencintaimu tapi kau sendiri malah memcintai orang lain." Milea memberengut kesal.
"Dia bukan orang lain kak. Dia adikmu. Tapi itu dulu. Sekarang aku sama sekali tak ada perasaan apapun padanya."
"Semudah itu?" Milly tertawa hambar. Dia tau Rafael tak akan percaya. Tapi mulai sekarang Rafa harus tau segalanya.
"Ya. Semudah itu. Apa hebatnya Richard dibanding dirimu? kau....ehmmm...terlalu sempurna jika dibandingkan dengannya."
"Siapa yang menyuruhmu berkata begitu padaku hemmm??" Milea sontak menatap suaminya lurus.
"Menyuruh? memangnya siapa yang berani menyuruh nyonya muda Hutama. Yang kukatakan benar. Kau....bisakah kau belajar mencintaiku Rafael Hutama?" Rafael terdiam. Keduanya saling pandang. Lama dalam diam hingga kepala Milea bergerak mendekat, mencuri ciuman di pipi kanan sang tuan muda yang langsung bersemu merah karenanya.
"Jangan lupa menciumku sebelum tidur atau hendak pergi dari rumah. Kirimkan pesan atau telepon sesering mungkin jika kau ada waktu. Dan ya....tolong sediakan waktu khusus untukku." Rafael hanya mengangguk samar entah terkejut atau masih sibuk melamun.
__ADS_1
"Ehmmm....boleh aku minta kakak memelukku saat tidur. Aku...hmmm..." dan tanpe mengulang perkataan Milea, Rafael sudah memeluk wanitanya, meneggelamkannya dalam selimut tebal mereka. Membaui aroma strawberry yang menguar dari rambutnya dalam.
"Gadis kecil...kau terlalu percaya diri." lirihnya ditelinga Milea.