
"Ini obat untuk nyonya muda selama masa pemulihannya tuan muda. Tolong minumkam secara rutin sampai habis. Jangan ragu menghubungi saya jika ada apa-apa." pesan dokter yang dikirim momy Sofia untuk menangani menantunya pada Rafael yang berdiri siaga di dekat Milea. Selang infus sang istri sudah dilepas, demikian pula perban dikepala maupun ditangannya. Hanya plester kecil yang dibiarkan menutupi beberapa luka Milea yang belum kering.
"Saya permisi tuan muda." Rafael segera mengangguk lalu menyuruh Danu mengantar dokter itu ke bawah. Ya, sejak diperintahkan kembali ke Hutama grup, Danulah yang ditugaskan menjadi sekretaris juga asisiten pribadi Rafael menggantikan Yura yang sekarang sudah jadi adik iparnya.
"Sayang, apa kau membutuhkan sesuatu?" Rafael buru-buru menyentuh bahu istrinya yang akan beranjak dari tempat tidur besar mereka. Milea memang selalu begitu. Ingin melakukan semuanya sendiri hingga kadang Rafa kesal karena tak begitu dibutuhkan. Padahal kenyataannya, Milly sama sekali tak ingin merepotkan suaminya karena dia tau Rafael terlalu capek sepulan kerja.
"Aku hanya ingin ke kamar mandi mas." jawab Milly pendek. Rafael segera berinisiatif membantunya hingga Milly tersenyum kecil karenanya.
"Aku sudah sembuh, bie. Tak perlu dituntun terus seperti kemarin. Takutnya aku khilaf." Rafael mendelik tajam pada istrinya. Akhir-akhir ini Milly jadi amar genit dan mesum padanya. Selama sakit bahkan istrinya itu tak bisa tidur tanpa mengelus juniornya. Siksaan nyata bagi Rafael karena akan susah menenangkannya setelah dibangkitkan oleh Milea. Yang ada Rafa harus mati-matian menahan hasratnya atau bersolo di kamar mandi jika sudah tak kuar lagi menahannya.
"Ayo!!" Milly tak menolak. Dia malah menikmati momen dimanjakan suami hingga usai buang air kecil.
"Capek mas??" Tanya Milea saat Rafael menata bantal untuk dirinya sendiri disamping Milea. Mereka memang banyak menghabiskan waktu di kamar saat Milly dalam masa pemulihan.
"Lumayan. Apa kau menginginkan sesuatu hemm??" Sebenarnya Rafa cukup kecapekan karena ini masih hari kedua dia masuk ke kantor pusat Hutama grup yang ditinggalkan begitu saja oleh Rich. Adiknya itu bukan hanya membuat pekerjaan jadi menumpuk karena sama sekali tak mengerjakan apapun.dan membuat paman Alex kewalahan sendiri. Tapi juga membuat masalah kecil yang membuat Rafa sedikit geram. Untung saja ada pama Alex, jika tidak...bisa dipastikan dia akan lembur setial malam untuk mengatasi peninggalan buruk Rich. Sama sekali tak ada jiwa bisnia dalam dirinya. Untunglah ada Yura yang sekarang mendampinginya. Semoga dengan bersamanya Rich jadi tau kwajibannya untuk meneruskan usaha keluarga. Memikirkannya saja sudah membuat Rafa menarik sudut bibirnya. Ponsel Milea berdering. Sang empunya ponsel bergegas menjangkaunya .
"Yura." bisiknya pelan sebelum mengangkat panggilannya dan memencet speaker. Dia tak ingin ada kesalah pahaman lagi walau yang menelepon adalah Yura, bukannya Rich.
__ADS_1
"Asalamualaikum Milly." wanita muda disebarang sana malah sudah menyapa sebelum Milly melakukannya. Terdengar amat bahagia.
"Walaikumsalam pengantin baru. Wah..kau melupakan aku Yura. Aku sangat kecewa."
"Maafkan aku Mil, tapi semua terjadi sangat tiba-tiba. Aku sendiri hampir tak percaya jika Rich....mencintaiku." kata yang dibuat lirih diujung kalimat. Lirih namun tak bisa menyembunyikan nada bahagia di dalamnya.
"Ehhmm...." Milly hanya sanggup berdehem ria saat Yura menyinggung soal suaminya Ingin tau tapi takut salah paham dan menyebabkan lelakinya marah. Benar-benar menyebalkan.
"Kau tau bukan...." dan bla...bla...bla....Yura menceritakan semua yang dia dengar dari bibir suaminya pada Milly termasuk masalah Shane, Rich dan Rafael hingga lidah Milly tercekat ditenggorokan. Berlahan ditatapnya wajah suaminya yang terlihat amat santai duduk bersandar di kepala ranjang mereka seolah tak menggubris laporan Yura. Suara panggilan Jose seolah menginterupsi percakapan mereka dan membuat Yura dengan serta merta memutuskan teleponnya setelah berjanji akan menelepo lagi esok hari. Milly menghela nafasnya panjang.
"Kemarilah." Rafael merentangkan tangannya agar Milea masuk ke dalam pelukannya.
"Aku tau." ungkap Rafa yang lagi-lagi mengusap kepala Milly penuh kasih.
"Mas Rafa tak marah?" Milly menengadahkan kepalanya, menatap manik coklat sang tuan muda.
"Untuk apa marah? yang dikatakan Yura benar adanya. Soal Shane....Rich benar. Dia bukan wanita yang tepat untukku."
__ADS_1
"Tapi semua itu karena Rich." Rafael mengecup singkat bibir ranum Milea lalu tersenyum tipis padanya.
"Tak sepenuhnya salah Rich. Mereka sendiri yang tergoda. Masih pacaran saja sudah tergoda, bagaimana jika kami sampai menikah? aku tak akan punya cukup waktu untuk mereka karena waktuku akan habis untuk bekerja. Secara otomatis mereka akan merasa kesepian lalu mencari pelampiasan, kecuali jika sasaran mereka hanya materi saja." papar Rafael sangat tenang. Tak ada rasa kecewa dari nada bicara maupun wajahnya.
"Artinya aku juga tak pantas untukmu mas. Aku bahkan sudah tertarik pada Rich jauh sebelum kita menikah." Kali ini Milea tertunduk lesu. Tiba-tiba rasa sakit dan kecewa itu malah beralih menyerang dirinya. Hatinya terasa sangat pedih. Rafael menundukkan kepalanya lalu merangkum kedua pipi wanita terkasihnya itu agar menatap wajahnya.
"Kau sama sekali tak sama dengan mereka sayang. Kau bahkan sangat rela kusakiti agar bisa bertahan mencintai tuan muda yang menyedihkan ini. Jika ada wanita tangguh yang masuk ke dalam keluarga ini maka kau adalah salah satunya. Darimu aku tau arti memperjuangkan sebuah perasaan hingga belajar menerima cinta yang selalu kau berikan. Love you sweety" Rafael kembali melabukan ciuman lembut pada belahan jiwanya.
"Love you more husband." balas Milea sambil memeluk erat suaminya. Merasakan tiap detak jantungnya, juga menikmati getaran cinta di dada mereka.
"Kapan-kapan kita akan mengunjungi mereka."
"Aku tidak mau!!" Rafael mengrenyitkan dahinya. Tak biasanya Milea yang hobi travelling menolak ajakannya ke Jepang. Apa Milly tak salah bicara?
"Tapi kenapa yang?"
"Mas Rafa akan terus mencurigai aku juga berparsangka tak benar. Aku tak suka mas begitu. Padahal sumpah demi apapun aku tak punya perasaan apa-apa pada adikmu mas. Lebih baik kita disini saja." Rafa terkekeh lucu mendengar rajukan istrinya.
__ADS_1
"Hal itu tak akan terjadi lagi sayang."