
"Apa kau benar akan menetap disana Rich?" tanya Rafael di sambungan telepon. Setelah dua hari menikah, baru kali ini Richhard menghubunginya. Itupun suaranya terdengar amat pelan, entah karena apa. Yang Rafa tau adiknya menelepon dalam ruangan tertutup karena pantulan suaranya terdengar jelas.
"Ya. Yura dan aku sudah sepakat. Kami akan mengurus cabang Hutama yang ada disini berdua." jawab Rich lugas. Rafa hingga harus tersenyum samar pada adik satu-satunya itu. Akhirnya ada juga kemauan dalam dirinya untuk mengurus usaha keluarga. Menghentikan jiwa petualang dan naluri kebebasan yang kadang meresahkan.
"Syukurlah."
"Tapi bukan itu tujuanku meneleponmu." Rafa urung mengembangkan senyumnya. Dia tau Rich bukan tipe yang suka basa-basi, sama sepertinya. Pemuda itu juga tak akan menghabiskan waktu untuk sekedar curhat atau menanyakan hal yang tak penting. Waktu Rich terlalu berharga untuk itu.
"Lalu??"
"Bagaimana malam pertamamu dengan Milea?" Pertanyaan yang terus terang membuat Rafa meradang. Rich sudah menikahi Yura. Kenapa masih mau tau soal Milea padahal dia sudah jadi kakak iparnya? Jangan bilang jika Rich punya rencana akan mengambil Milea darinya karena Rafa tak akan membiarkannnya melakukan hal itu layaknya pada para mantan pacarnya. Rafa bersumpah akan memutuskan ikatan persaudraan mereka jika Rich berani melakukannya.
"Jangan berpikiran macam-macam. Aku....ahhhh. Kami sudah dua hari menikah tapi aku...hhhhh..dia selalu menolakku!!" dengus Rich frustasi. Memang itu yang terjadi. Tak ada malam pertama. Dan yang pasti kakaknya juga mengalami hal yang sama diawal pernikahnnya. Bedanya Rafa sudah lebih dulu memperkosa Milea. Itu berarti Rafa jauh lebih beruntung darinya yang sama sekali belum bisa menyentuh Yura selain hanya kontak fisik biasa. Rich kesal.
"Semuanya terjadi begitu saja." balas Rafa pendek.
__ADS_1
"Aku tau Yura sangat mencintaiku. Tapi dia seperti membangun tembok kokoh diantara kami. Kau tau ..dia sudah bilang tak mau melakukan kewajibannya sebelum aku menunjukkan jika diriku layak jadi pemimpin perusahaan dady. Syarat macam apa itu?" Rich terdengar sangat kesal.
"Milea juga melakukan hal yang sama sebelumnya. Tapi aku nekat melanggarnya. Mereka hanya ingin kita semangat bekerja. Secara naluriah....mereka juga butuh sentuhan. Jadi buat saja mereka nyaman. Dekati terus dan...ehmm...terkam secapat yang kau bisa begitu ada kesempatan." Rich manggut-manggut mendengar saran kakaknya. Kata-kata Rafa ada benarnya juga. Kalau tidak di pepet terus bagaimana dia bisa melihat peluang lalu menerkam, menerjang...terjang mirip lagu maju tak gentar? Kenapa play boy sepertinya bisa jadi bodoh saat dikuasai hasrat?
"Baiklah...aku akan mencobanya." ucap Richard penuh semangat. Rafa hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar antusias adiknya itu. Saat dia menutup panggilannya, sebuah tangan melingkar posesif diperut sickpacknya. Rafa amat tau siapa pelakunya. Berlahan dia memutar badannya lalu memegang kedua bahu istrinya.
"Apa aku menganggumu?" lirih Milea dengan pupy eyesnya yang membuat siapapun iba. Sontak Rafael memegang kedua pipinya dan mengelusnya lembut.
"Tidak. Kau tak pernah menganggu apapun dalam hidupku sayang. Ehhmm...sudah selesai ke kamar mandinya?" andai tak sedang dalam suasana romantis, Milly tentu akan menertawakan suaminya yang terdengar penuh basa-basi karena kaget dengan kedatangannya. Tapi Milly menahannya. Dia tak ingin merusak momet mesra itu hanya dengan hal bodoh.
"Dia bertanya soal malam pertama kita." Rafa yang tak melihat reaksi apapun dari istrinya menjadi gemas. Dicubitnya pipi Milea hingga Milly kesal dan menatapnya galak.
"Sakit mas!!" protesnya keras. Tapi Rafa malah tertawa kecil karenanya. Milly jadi tambah cantik saat marah.
"Kau tak merespon perkataanku."
__ADS_1
"Takut salah paham lagi. Mas kan cemburuan." sungut Milly masih terlihat kesal. Kali ini Rafael terbahak. Istrinya terlihat lucu jika begitu. Tapi Rafa tau Milly hanya ingin menjaga perasaannya.
"Tidak lagi sayang. Untuk apa cemburu? aku bahkan sudah memiliki jiwa dan ragamu secara utuh. Milly dengar....aku percaya padamu." Mata Milea berkaca. Wanita muda itu langsung menjatuhkan kepalanya di dada sang suami tercinta dan memeluk lehernya erat. Terharu adalah perasaan pertama yang dia rasakan.
"Rich dan Yura belum....ehhmm..malam pertama." lanjut Rafa. Sungguh dia tak ingin menyembunyikan apapun dari Milea. Mulai sekarang dia akan sering berbagi baik hati, perasaan ataupun semua masalah dengan Milea.
"Lalu...apa hubungannya dengan kamu mas? Jangan bilang Rich itu impotensi dan menyuruhmu menggantikan posisisnya memberi nafkah batin pada Yura karena aku tak akan segan lagi padanya!" bolehkah Rafa kaget melihat reaksi keras istrinya? dia belum selesai bicara tapi Milly sudah mengambil kesimpulan sendiri dengan hanya menerka-nerka.
"Sayang apa yang kau katakan hemm? apa aku terlihat sebagai lelaki mata keranjang? dengarkan dulu sampai habis baru boleh memotong ucapan orang lain." suara lembut Rafa nyatanya mampu memadamkan api kemarahan yang tadi berkelebat dalam wajah galak Milea.
"Maaf." cicitnya lemah sambil menundukkan kepalanya. Rafa mengelusnya penuh kasih lalu mencium keningnya.
"Dia hanya bertanya mesti bagaimana menghadapi Yura. Tapi sepertinya kau cemburu sayang?? sekarang kita lihat siapa yanh paling cemburuan dan berprasangka hemm???" bagaimana bisa Rafael sesabar dan selembut itu? membayangkannya saja Milly tak berani.
''Bagaimana aku tidak cemburu mas? Aku....ehhmmm...kau tau aku sangat mencintaimu. Bagaimana bisa aku berbagi suami? Hikkkss...." Rafael tertawa lebar dan buru-buru mendekap Milea saat melihat wanitanya menangis. Digoda sedikit saja istrinya sudah menangis. Bagaimana jika dia benar-benar selingkuh?
__ADS_1
"Ssstttt....tidak ada kata berbagi sayang. Kau akan jadi satu-satunya bagiku. Tak ada perceraian dalam keluarga kami Milly. Walaupun dady adalah duda saat menikah dengan momy, tapi mereka tetap bersama sampai sekarang. Intinya aku tak ingin kita berpisah. Bersama sampai Jannah."