
Milea berdiri anggun di depan pintu apartemen suaminya satu jam setelah Ken ibrahim melewati masa kritisnya dan dipindahkan ke ruang perawatan VVIP. Momy Sofia dan para petugas medis harus bekerja keras dengan berjam-jam melakukan operasi untuk menyelamatkan sang besan yang punya kemungkinan hidup sangat kecil. Tapi tak ada yang bisa melawan kehendak Tuhan jika DIA belum memutuskan benang kehidupan dari raga seseorang.
Hanya dua kali menekan bel saat pintu terbuka, menampilkan wajah yang sangat dibenci Milea dalam balutan pakaian yang tentu saja sangat kekurangan bahan dan seronok. Milly menarik nafas panjangg, menatap datar pada wanita itu. Lagi-lagi hatinya bertanya-tanya tentang apa yang dimiliki wanita ini hingga bisa membuat dua putra Hutama berperang satu sama lain untuk mendapatkan dirinya. Selain cantik, tak ada hal istimewa yang berarti menurut penglihatan Milea.
"Aku datang untuk mencari suamiku." katanya dingin. Shane menarik sudut bibirnya penuh penghinaan. Tapi Milly tak peduli dan mengabaikannya. Toh dia juga tak butuh ijin wanita itu untuk masuk ke apartemen Rafa.
"Dia tidak ada disini." katanya ketus. Milea yang tadinya tenang jadi meradang. Jelas-jelas ada sepatu milik Rafa di sana, wanita ini selain licik juga pembohong.
"Aku tidak percaya." tukasnya sambil menerobos masuk, mendorong pundak Shane dengan kuat hingga wanita itu hampir terjatuh.
"Kau...kau tidak boleh masuk sembarangan kesini." Sentak Shane emosi. Milea segera berbalik dengan tatapan horor.
"Siapa bilang tidak boleh? Ini apartemen suamiku. Aku juga berhak secara otomatis karenanya karena aku masih istri Rafael. Kau siapa berani melarangku hhmmm??" Shane yang kesal segera mendekat dan mencoba mencakar wajah Milly.
"Jangan coba-coba melakukan tindak kekerasan padaku jika kau tak ingin menyesal Shania Marvels. Aku bukan momy Sofia yang hanya akan melemparmu, tapi juga bisa menghajarmu hingga patah tulang!" Shane meringis kesakitan saat Milea mencengkeram tangannya kuat dan menghempaskannya kasar. Berulang kali Shane meraba kulit putihnya hingga perhatiannya terpecah. Hal yang tak disia-siakan Milea untuk merangsak masuk ke kamar utama dan membukanya. Tak ada siapa-siapa selain kamar yang sangat berantakan dengan bau alkohol yang menyengat serta beberapa putung rokok disana-sini. Hal yang tak disukai Rafael karena dia bukan perokok dan sangat menjaga pola hidupnya. Milly mengeluarkan ponselnya dan mengambil beberapa potret disana sebelum beranjak pergi.
__ADS_1
Hampir saja Milea pergi setelah menutup pintu jika tak mendengar suara isakan lirih dari dalam kamar mandi. Milly segera mendekat.
"Stop!! Jangan masuk karena aku...."
"Apa??!!! Mau adu jotos lagi atau bertarung sampai mati? Kau bukan lawanku pelakor!!" sergah Milea, mengacungkan kepalan tangannya tepat di depan wajah Shane berdiri hingga wanita itu gelagapan.
"Kau ..aku akan lapor polisi!!" Milea tersenyum sadis.
"Lapor saja jika kau berani. Aku menunggumu di sana. Kita lihat siapa yang akan mendekam di balik jeruji besi nyonya. Aku yang istri sah...atau kau yang cuma pelakor rendah." ungkap Milea tenang, tentu saja dengan decihan kesal. Dia membuka pintu dengan gerakan cepat bersamaan dengan sebuah vas yang melayang ke udara menuju kepalanya. Tapi Milly sangat waspada dan menendang vas perselin itu layaknya pemain sepak takrow profesional hingga mendarat manis membentur tembok dan berakhir hancur berkeping-keping. Sebuah tendangan juga di persembahkan untuk sang pelakor hingga jatuh tersungkur kesakitan di lantai.
Saat Milea membuka pintu kamar mandi lebar seraya memindai sekitarnya, jantungnya berdenyut sakit manakala seorang bocah lelaki duduk diatas kloset dengan air mata berurai. Kedua tangan dan kakinya terikat juga mulut yang ditutup lakban.
"Biadap!!!" desisnya penuh kebencian. Milea mendekat, melepas lakban itu hingga tangisan anak itu pecah. Bocah itu bahkan memeluk Milea ketika tangannya sudah terlepas ikatannya. Milly bisa merasakan jika tubuh si boca bergetar entah karena takut atau lapar. Milly bahkan tak tau dari jam berapa anak itu ada disana. Tapi apa yang sebenarnya terjadi hingga anak sekecil Jose harus diperlakukan demikian? Apapun alasannya hal itu tetap tak bisa dibenarkan. Jiwa keibuan Milea bangkit.
"Milly....."
__ADS_1
Gerakan Milea yang akan menggendong Jose terhenti saat Rafael muncul diambang pintu kamar mandi. Shane bergelayut di lengannya tanpa rasa malu sedikitpun. Hal yang membuat Milly muak.
"Ya. Aku datang untuk menjemputmu. Papa di rumah sakit. Datanglah jika kau masih menghargai pernikahan kita." katanya tanpa menatap Rafael yang masih berdiri kaku di tempatnya. Milly sibuk menggendong Jose keluar dengan lagi-lagi menyenggol pundak Shane secara sengaja. Hampir saja Milly meradang ketika mendengar Rafa bertanya apa Shane baik-baik saja dengan suara lembut yang bahkan tak pernah dia dengar untuknya. Benar kata Rich....Rafael sudah tersesat.
"Aku memperingatkan kalian saja. Apartemen ini sudah diambil alih Richard sebagai CEO baru Hutama grup. Rich hanya akan memberi kalian seminggu saja agar mencari tempat tinggal baru." Apartemen mewah itu memang sejenis iventaris bagi CEO Hutama grup sejak Fernando masih jadi tuan muda kala itu. Teguh Hutama ayahnyalah yang memberikan tempat itu secara turun temurun nantinya. Jadi saat Rafael bukan lagi CEO, maka hak kepemilikannya akan langsung dicabut.
"Richard? CEO? Aahhh ya Tuhan!!! Hey ******, berikan Jose padaku. Anak itu darah daging Rich, setidaknya dia tak akan tega padanya." Milea menepit tangan Shane kasar saat berusaha mengambil paksa Jose dari gendongannya. Anak itu menjadi histeris dan memeluk leher Milly kuat hingga Milly sulit bernafas karenanya.
"Sayang...lepaskan tangannya ya, tante sesak nafas. Kita akan pergi dari sini oke??" Jose kecil mengangguk penuh pengharapan saat Milly mengatakannya.
"Itu terserah kamu. Tapi anak ini akan ikut bersamaku. Dan kau mas ....ayo pulang!!" Rafael tetap terdiam dalam bimbang hingga Milly bertambah kesal karenanya.
"Pulang atau kuminta Rich mengusir perempuan ini sekarang juga." tegas Milea sambil melangkah keluar. Ada kekhawatiran yang bergelayut dalam hati Milly saat tak ada pergerakan apapun dari suaminya untuk menyusul dirinya.
'Kurasa aku harus menyiapkan hatiku untuk melanjutkan hidupku tanpa mas Rafa.' gumam Milea sambil melangkah cepat sambil menggendong Jose hingga sebuah tangan kekar mengambil anak itu dari pelukannya dan berganti mengendongnya. Belum habis rasa terkejut Milea, tangan kanannya sudah berada dalam genggaman hangat Raffael yang mengajaknya memasuki lift ke lantai dasar.
__ADS_1