Love You More, Husband

Love You More, Husband
Jadilah dirimu


__ADS_3

Ini adalah hari pertama Milea perge bekerja setelah momy Sofia memberikan ijin khusus padanya. Tentu saja Sofia amat menyetujui niatan menantunya itu karena Milealah yang akan jadi penerusnya sebagai pemilik yayasan dan rumah sakit yang dinaungi keluarga Hutama. Milly harus dikenalkan dengan mekanisme kerjanya hingga bisa mengelolanya dengan baik.


Milly yang merasa terlalu lama berdandan menuruni tangga dengan tergesa. Dia tak ingin Rafael teralu lama menunggu di meja makan. Milly hanya tak ingin suaminya merasa terabaikan saat dia pergi bekerja.


"Kakak Maafkan aku. Apa kau terlalu lama menunggu?" Rafael yang menikmati kopi hitamya menengadah menatapnya. Millly sontak merasa tak enak hati karenanya. Kopi itu seharusnya dia yang membuat karena Rafa tak suka orang lain selaij momy dan istrinya yang membuatkannya. Pasti tadi si tampan itu yang menyeduhnya sendiri. Milea jadi merasa bersalah karenanya. Ini baru permulaan. Entah apa jadinya jika sampai tiap hari dia harus juga pergi bekerja.


"Apa kakak marah? Aku...kerudung ini...aku baru belajar memakainya. Aku bahkan harus berulang kali membenahinya. Merasa tak ada jawaban, Milly kembali bertanya. Rafael hanya berdeham singkat menanggapinya.


"Kemari!" Milea segera mendekat saat Rafael menarik mundur kursi di sebelahnya. Lamat Milly mendudukinya. Kedua bola matanya melebar saat tangan besar suaminya mengenggam jemarinya lembut. Milly memberanikan diri menatapnya.


"Aku senang kau merubah penampilanmu Milea. Lama-lama kau juga akan terbiasa." katanya tak kalah lembut seraya membetulkan lipatan jilbab modern yang dipakai istrinya. Sudut bibir Rafael terangkat. Milea terlihat berpuluh kali lebih cantik dimatanya. Padahal hanya riasan natural yang melekat di wajahnya. Tapi wajah cantik khas timur tengah itu amat memikatnya sekarang.


Milea segera melepaskan tangannya dari gengaman Rafael saat bi Desi datang membawa nampan makan pagi dan meletakkannya di meja.


"Maafkan aku jika belum bisa menyiapkan sarapanmu seperti momy." Rafael menatap istrinya dalam.


"Kenapa bilang begitu Milly? Aku tak pernah menyuruhmu menjadi momy, apalagi harus seperti momy. Kau adalah dirimu Milea. Tak perlu menjadi siapapun." Apa Milea harus terkejut karenanya? suaminya adalah anak lelaki kesayangan orang tuanya. Pria ini bahkan tak membela ibunya meski Milly juga tak menjelekkan ibu mertua terbaik di dunia itu. Rafael bahkan tak memaksanya jadi wanita sempurna.


"Aku ...momy...sungguh aku ingin seperti momy yang sangat pintar mengurus pekerjaan dan keluarga kalian kak. Semakin dekat dengan momy aku jadi merasa sangat rendah dan tak tau apa-apa." keluh Milly. Milly bukannya mengada-ada. Semua itu murni keluar dari dalam hatinya. Dia sangat mengagumi Sofia sejak pertemuan pertama mereka.


"Milly...sejak muda momy sudah biasa hidup susah. Momy juga punya kemampuan diatas rata-rata baik secara akademis maupun non akademis. Jadi jangan pernah membandingkan dirimu dengannya. Cukup belajar dan mengaguminya seperti aku saja." Milea mengangguk samar.


"Kakak mau sarapan apa?" Tanya Milly karena ada beberapa menu di meja makan mereka.


"Ambilkan aku roti dan selai nanas saja. Akan ada meeting jam sembilan nanti di hotel dady. Perutku tak akan muat jika harus makan lagi disana." jelas Rafa. Milea bergegas mengambil roti dan mengoleskan selai nanas lalu meletakkannya di piring sang suami. Milea sendiri memilih memakan nasi karena dia akan butuh energi ekstra mengingat ini adalah hari pertamanya bekerja.


Suara gerbang terbuka membuat pasangan itu melirik ke halaman depan bersamaan. Sebuah mobil mewah berjalan lambat memasuki halaman luas kediaman mereka. Baik Rafa atau Milea tau jika itu mobil momy Sofia. Tapi kenapa momy mereka datang sepagi ini? apa dady Nando sudah sarapan hingga momynya bebas keluar rumah? Pasangan suami istri itu refleks berdiri untuk menyembut ibunya.

__ADS_1


"Asalamualaikum sayang...." sapa Sofia yang langsung dibalas keduanya hangat.


"Momy kenapa datang sepagi ini?" tanya Rafael dengan ekspresi khawatir. Dia cukup tau jika dady Nando tak akan sarapan tanpa istri tercintanya.


"Jadi kalian keberatan kalau momy mau numpang sarapan disini?" sewot momy Sofia kemudian.


"Eehhh bukan...bukan begitu maksud kak Rafa mom. Mari masuk, kami juga belum selesai sarapannya." Sofia tersenyum lebar saat melihat kegugupan menantunya.


"Jadi benar kata dady ya...kalian sudah pintar untuk saling membela sekarang." Milea langsung menunduk malu. Sofia menatap menantu cantiknya dalam, memindai pakaian tertutup yang dipakainya. Sungguh Sofia amat senang karenanya. Rafael mulai membimbing Milea sedikit demi sedikit. Itu tandanya Rafa tidak cuek seperti tampilan luarnya pada istrinya.


"Tapi dady...."


"Dady kalian ada meeting jam tujuh. Om Alex sudah menjemputnya sejak pagi tadi jadi dady tak sempat sarapan di rumah." Rafael bernafas lega. Setidaknya dia tak ikut andil membuat dadynya kelaparan.


"Mari masuk mom...." Ajak Milea amat ramah dan sopan. Sofia menurut, mereka kembali ke meja makan dan mengajak Sofia sarapan bersama.


"Momy yang menjemput, nanti momy juga yang mengantar istrimu pulang Raf." jawab Sofia santai. Rafael hanya mengangguk. Yang penting Milly tak nyetir sendiri. Keluarga mereka tak mengijinkan para istri menyetir kecuali keadaan darurat saja. Dadyanya juga selalu melengkapi momynya dengan sopir saat kemana-mana. Itu sebabnya Rafael mempekerjakan pak Man juga di rumahnya. Mereka berangkat hampir bersamaan pagi itu.


"Bagaimana hubungan kalian?" Milea membeku. Bagaimana harus menjelaskan semuanya pada sang mertua?


"Kami baik-baik saja mom." Milea memilih jawaban aman. Dia lupa jika Sofia adalah wanita yang cerdik.


"Bukan itu yang ingin momy tanyakan. Tapi...apa kalian sudah melakukan hubungan suami istri setelah kejadian itu?" Milea menatap Sofia nanar sebelum menggelengkan kepalanya.


"Tak apa...bersabarlah Milly. Rafael lelaki normal yang pasti membutuhkan istrinya."


"Semua ini salahku mom. Andai saat itu aku tidak tertarik pada Richard...tentu sekarang pernikahan kami akan baik-baik saja." jelas Milea penuh sesal.

__ADS_1


"Sampai kapan kalian akan terus membela satu sama lain hemm? Sebenarnya apa motifmu melakukan semua ini Milly?" tanya Sofia penuh penekanan. Jemari Milea saling memilin. Rasa gugup mendiminasi hatinya.


"Aku...aku mencintai kak Rafa momy...." balas si gadis terbata.


"Secepat itu?"


"Aku bahkan takut kehilangan kak Rafa momy." desis Milea lirih seperti tak rela sopir di depan mendengarkab perkataannya meski si sopir tak akan berani berbuat apa-apa.


"Bagaimana jika Rich ingin kau jadi pengantinnya?" Milea menatap momy mertuanya lekat. Sofia bicara amat serius padanya dengan wajah serius pula. Apa benar Richard yang menginginkannya? Andai dulu pertanyaan ini terlontar, maka Milly pasti bersorak girang dan tak kan berpikir dua kali untuk menerimanya. Tapi sekarang keadaanya sudah berbeda.


"Aku akan tetap berada disamping kak Rafa momy." putus Milea tegas.


🐱


🐱


🐱


*Malam readers...


Baru kemarin tidak up, saya kok ngerasa kangen kalian yaa😉


Maafkan author yang kurang enak badan. Bawannya capek dan ngantuk melulu🤣🤣


Tapi kalian tetap semangatkan Nungguin Milea-Rafael up? Harus ya!! jangan lupa semangatin author lewat koment, like dan subscribe sebanyak-banyaknnya ya. Dukungan kalian adalah masa depan cerita-cerita saya juga🤗🤗🤗


Terimakasih dan selamat membacaaaa😍😍*

__ADS_1


__ADS_2