
"Kak, ayo berangkat!" ajak Richard yang sudah terlihat rapi dengan kemeja biru laut dan celana bahan berwarna hitam dengan corak yang sama seperti yang dia kenakan saat ini. Outfit yang khusus dibelikan Sofia untuk dua putra kesayangannya. Rafa yang barusan menelepon seseorang segera menoleh pada adik semata wayangnya itu.
"Kalian berangkatlah dulu. Nanti aku menyusul. Zen sedang dalam perjalanan kemari mengantar cincin pertunangannya." Jawab Rafael malas. Calonnya saja dia tidak tau, tapi momynya terus memaksa membelikan cincin sebagai tanda jika dirinya sudah bertunangan dengan gadis itu. Secara dadakan pula. Rafael meras begitu tertekan karena ulah kedua orang tuanya yang terlihat diluar kebiasaan. Untunglah Zen, sekretarisnya bergerak cepat memesan dan mengambilnya ke toko perhiasan.
"Kalau begitu kau saja yang berangkat duluan, biar aku dan Zen yang menyusul." pungkas Rafa. Tapi sang kakak menggeleng tak setuju.
"Aku akan tetap tinggal." balasnya tak terbantah. Saat Richard ingin membalas perkataan Rafa, momy dan dadynya muncul dibelakang kakaknya.
"Ayo Raf." ajak Sofia lembut. Wanita yang masih terlihat cantik di usianya itu tampil angun dengan dres simpel berwarna senada dengan kemeja suaminya yang bermotif batik.
"Aku masih menunggu Zen mom."
"Tak perlu menunggunya. Biar nanti Zen yang menyusul kesana." kali ini Fernando yang bersuara. Tapi lagi dan lagi Rafael menggeleng.
"Baterainya low dad. Aku tak bisa menghubunginya." Fernando memincingkan matanya.
"Kau sedang tak membuat alasan agar bisa lari dari acara itu kan?" Rafa terdiam, memberanikan diri menatap orang tuanya.
"Aku pasti datang dad. Itu janjiku." kata Rafael penuh keyakinan. Sofia segera membelai lengan suaminya, mengisyaratkan jika Rafa pasti akan datang sesuai janjinya. Sebagai seorang ibu, Sofia amat tau watak anak-anaknya. Termasuk Rafa yang sedikit bicara, introvert dan selalu menepati janji.
"Hemmmm...baikah. Dad akan mengirim alamatnya padamu. Sebaiknya kita berangkat lebih dulu Rich." Fernando tau, tak ada gunanya memaksa putra sulungnya itu. Rafael adalah tipe idealis dan keras kepala. Richard segera menuruti permintaan papanya dan melangkah lebih dulu ke luar rumah.
Setengah jam perjalanan terlewati dalam diam. Baik Sofia, Fernando maupun Richard tak ada yang bersuara. Mereka semua hanya memperhatikan jalanan dimana si bungsu mengemudikan mobil mewah itu hingga berbelok menuju rumah berlantai dua yang terlihat lebih besar dan megah dibanding sekitarnya walau hanya berukuran separuh dari kediaman Hutama yang ditempati Nando dan anak-anaknya meski sesekali kedua putra mereka menginap di apartemen jika pulang terlalu larut atau sedang tak ingin diganggu.
__ADS_1
Fernando menuntun istri tercintanya menapaki halaman hingga ke teras besar bergaya Eropa dimana Ken Ibrahim dan Leon sudah berdiri menyambut mereka. Senyum lebar tak henti mengembang di bibir mereka kala menyambut tamu kehormatannya.
"Mari silahkan masuk tuan Fernando, nyonya.." ucap Ken sopan, meminta pasangan romantis itu masuk kediamannya. Nando tetap menuntun istrinya hingga ke ruang tamu, sedang Richard dibantu Leon dan seorang satpam menurunkan buah tangan orang tuanya yang tak terhitung banyaknya hingga harus bolak-balik ke mobil saat memindahkannya.
"Bagaimana kabar anda tuan, nyonya?" tanya Ken setelah mereka duduk bersama. Bik Ana segera menyajikan minuman dan kudapan diatas meja.
"Alhamdulilah kami baik tuan Ken. Hmmm...dimana calon menantu kami?" tanya balik Nando begiti tak melihat anak gadis Ken Ibrahim diantara mereka.
"Ana, tolong panggilkan Milly." perintah Ken pada pembantu rumah tangganya. Bi Ana segera menuju kamar Milly yang bersebelahan dengan kamar Leon dilantai atas.
"Sssttt...bik..apa mereka sudah datang?" Hampir saja bik Ana memekik kager saat pintu yang akan dia ketuk tiba-tiba terbuka dan menampilkan wajah Milea yang tampil cantik dengan hiasan naturalnya.
"Non Milly bikin kaget bibik saja. Sudah non, papanya non Milly meminta bibik memanggil non Milly agar segera turun."
"Apa dia...om-om tua berperut buncit?" Bik Ana menatap dengan pandangan tak mengerti pada nonanya.
"Itu..orang yang akan dijodohkan denganku bik." akhirnya Mille cemberut juga. Kesal karena bik Ana tak mengerti arah pertanyaannya.
"Tidak non. Waaahhh orangnya tampan sekali." Milly mengelus dadanya, mengeluarkan nafas panjang dari hidung mancungnya, setidaknya orang yang akan di jodohkan dengannya bukan tua bangka yang menjijikkan. Syukurlah jika Leon menepati janjinya untuk memilihkan suami terbaik untuknya. Setengah ketakutannya sudah sirna. Milly berlaha menyibakkan rok panjang yang dipakainya lalu menuruni tangga menuju ruang tamu. Alangkah kagetnya gadis itu saat melihat siapa yang duduk menghadap ke arahnya malam itu. Seketika ribuan sayap kupu-kupu mengitari tubunnya yang serasa melayang.
"Pak Richard......" lirihnya setengah tak percaya. Milly yang awalnya biasa saja jadi salah tingkah begitu beradu pandang dengan pria yang siang malam hadir dalam mimpinya. Pria sempurna yang sudah mencuri hatinya. Ahh...malam ini Richard melamarnya. Andai tak ada orang lain diruang tamu rumahnya, mungkin Milly akan berjingkrak bahagia malam itu.
"Mill, beri salam om dan tante Hutama." kata Leon penuh penekanan. Melihat wajah sang adik yang bersemu merah dengan mata berbinar terang menatap Richard sungguh membuat hatinya kesal. Milly yang baru memperoleh kesadarannya segera membungkuk dan mencium tangan Fernando dan Sofia bergantian.
__ADS_1
"Sini, duduk dekat mama sayang." Sofia menepuk tempat kosong disebelahnya, dengan gerakan pelan Milly mendekat dan mendudukinya, rikuh.
"Kedatangan kami kemari adalah untuk melamar Milea untuk putra kami secara resmi pada anda tuan Ken." Nando segera menyambung pembicaraan mereka yang sempat tertunda karena kedatangan Milea. Mendengar perkataan Nando saja sudah membuat Milea tersipu dan menundukkan wajahnya. Tau begini dia tak akan menangis semalaman meratapi nasib karena berakhir dalam perjodohan. Tapi mengingat itu saja sudah membuatnya merasa bersalah pada papanya. Pria tua itu bahkan belum selesai bicara saat dia meninggalkannya kemarin malam.
"Milea...kau sudah dengar bukan perkataan tuan Hutama? apa kau...."
"Aku bersedia, pa." jawab Milly tegas sambil menundukkan kepalanya malu.
"Alhamdulilah." ucap semuanya serempak. Merasa lega. Tapi sesungguhnya Ken Ibrahimlah orang yang paling merasa lega disana. Sungguh, dia takut Milea menolak lamaran itu.
"Asalamualaikum...maaf saya terlambat." suara bariton yang terdengar tegas menginterupsi kebahagiaan dua keluarga itu. Semua serempak menoleh ke arah pintu...tak terkecuali Milea.
"Kau??????!!!!" Milea dan Rafa yang baru datang memekik kaget hampir bersamaan. Terlihat sekali jika mereka memang benar-benar terkejut. Tapi anehnya...tak ada satu orangpun yang terkejut selain mereka berdua. Yang lain hanya mengulum senyum entah apa artinya.
"Silahkam duduk tuan muda Rafael." Rafa segera berdehem menetralisir kekagetannya dan mengangguk hormat pada sang empunya rumah. Tapi lagi-lagi dia dibuat terkejut untuk kedua kalinya saat melihat Leon duduk disamping pria tua tadi. Melihat posisinya, bisa dipastikan jika dia juga pemilik rumah itu.
"Kau...Lee apa yang kau lakukan disini?" tanya Rafa tak mengerti. Leon hanya menarik sudut bibirnya.
"Tentu saja menjamu tamu keluargaku Raff. Kau pikir apa?" jawab Leon amat santai hingga Rafael dibuat melongo tak percaya. Selama ini dia hanya tau jika Leon tinggal seorang diri diapartemen yang bersebalahan dengan apartemen miliknya tanpa tau siapa keluarganya. Walau berteman sejak sekolah keduanya memang jarang bertemu diluar sekolah. Rafa juga tak mau tau siapa keluarga sahabatnya itu.
"Jadi kau..."
"Ya, apa kau lupa jika namaku Leonard ibrahim? gadis yang kau lamar juga adikku. Milea Ibrahim." balasnya dengan nada tak kalah tenang. Seketika pekikan terdengar diseberang sofa.
__ADS_1
"Apa?? Jadi yang melamarku bukan pak Richard??" kata Milea lengkap dengab wajah tegangnya.
"Bukan. Tuan Fernando melamarmu untuk tuan Rafael Hutama." jelas Ken ibrahim yang seketika membuat tubuh si gadis lunglai dan tergeletak pingsan.