
Rafael menjabat tangan tuan Han erat saat kesepakatan terjadi. Senyum tipis menghiasi bibir tuan muda Hutama itu sejenak. Walau nilainya tak seberapa jika dilihat dari perusahaan Hutama yang dulu dia pimpin, tapi bagi Bimantara nominal itu terhitung luar biasa. Mereka bahkan bisa membeli lima unit mesin baru karenanya. Setidaknya Rafael akan punya aset baru yang akan memudahkan para pekerja memproduksi barang. Rupanya dia salah sudah punya rasa malas untuk berkunjung ke Milton hotel kali ini.
"Aku merasa anda sangat mirip seseorang tuan Rafael, tapi aku sungguh lupa." Tuan Han yang baru menandatangani kontrak mereka terlihat berpikir keras hingga sekretarisnya mengulurkan ponselnya.
"Oohh astaga...kau...kau sangat mirip dengan tuan Fernando Hutama." Tuan Han hingga harus membekap mulutnya karena terkejut menyusul Rafa yang menekuk kepalanya, meruntuki kemiripan wajahnya dengan sang dady yang bisa ditebak semua orang dunia bisnis dengan mudah. Padahal Rafa ingin berusaha sendiri, diatas kaki dan kemampuannya sendiri tanpa melibatkan nama besar keluarganya, apalagi dadynya yang memang tak tertadingi di dunia bisnis. Rafa seolah hanya hidup dibawah bayang-bayang ayahnya. Lagi dan lagi dia iri pada Richard yang bebas menentukan hidupnya. Orang tak akan banyak tau mengenai Rich karena tak pernah tersorot kamera. Adiknya itu sangat menikmati hidup bebasnya dan berkelana.
"Apa kau...tuan muda Rafael hutama?" tanya tuan Hans ragu karena sejak awal Rafa tak pernah menyebut nama panjangnya. Berkali-kali pria awal empat puluhan di depannya itu memperhatikan ponsel yang memuat profilnya dan wajah tampan yang terpampang di depannya itu dengan ekspresi berganti-ganti.
"Ehhmm...sepertinya anda salah orang tuan Hans." sangkal Rafa kalem, namun sekretaris tuan Han lagi-lagi membisikkan sesuatu hingga bosnya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Sepertinya ayah anda berada disini juga." lirih tuan Han seraya menatap ke pintu masuk hotel dimana mobil mewah berhenti dan menampilkan sosok pria paruh baya yang amat mirip dirinya berdiri tegap di dekat mobilnya, menunggu seseorang yang tampaknya akan keluar dari pintu samping. Jangankan dirinya, siapapun akan terpesona menatap dadynya yang terlihat lebih tampan diusianya kini.
__ADS_1
"Milly..." gumam Rafael saat melihat istrinya turun dan menghampiri dadynya.
"Bukankah itu putri keluarga Ibrahim? Aahh...apa mereka terlibat affair?" lirih tuan Han yang kehilangan setengah kesadarannya karena terkejut. Rafael menegakkan tubuhnya dan memasang wajah dinginnya. Dia menganggap perkataan tuan Hans adalah hinaan bagi keluarganya, tapi hatinya menolak. Ya..siapa yang tak terpikat pada dadynya. Dia tetap penguasa kerjaan bisnis Hutama yang bisa melakukan apa saja, termasuk mengencani wanita muda. Tapi kenapa harus Milea? Ahh..pantas saja wanita itu pergi tergesa. Hati Rafael panas seketika.
"Putri Ibrahim itu beruntung sekali, dia memang sangat cantik. Tuan Fernando tak salah memilihnya." sambung tuan Hans masih belum menyadari jika sesorang di depannya sudah menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Sepertinya anda salah paham tuan, Milea Ibrahim adalah istri saya. Kami memang membuat janji bertemu disini. Permisi."
Seketika wajah tuan Hans pias. Jadi benar jika yang bekerja sama dengannya adalah Rafael Hutama? tapi kapan putra sulung Hutama itu menikah? Lalu apa pula yang menyebabkan Fernando membiarkan putranya menangani Bimantara yang note bane adalah perusahaan kecil padahal Rafael sudah sangat kompeten mengurus Hutama grup. Semua berputar dikepala tuan Hans tanpa henti hingga kepalanya pusing dan terduduk lunglai di kursinya.
"Matilah aku....." rintihnya lemas. Siapa yang tak takut pada Fernando? Jangankan perusahaan seperti miliknya, perusahaan besar saja enggan berurusan dengan Hutama grup. Salah langkah sedikit saja maka tamatlah riwayat perusahaan mereka. Hans pening karena mengingat perkataannya yang tadi menyinggung bos besar Hutama itu malah di depan putra kesayangannya. Han ngeri membayangkan detik-detik kehancurannya sendiri jika nanti Rafael mengadu atau tidak terima pada perkataannya.
__ADS_1
"Tuan Danu, lipat gandakan nominal kerja sama ini. Tiba-tiba aku juga ingin berinvestasi pada Bimantara." Baik sekretarisnya maupun Danu terkejut. Yang tadi saja sudah besar menurut Danu, sekarang malah ditambah.
"Tuan..anda benar-benar serius?" ulang Danu memastikan.
"Buatkan saya kontrak yang baru. Besok saya akan datang ke Bimantara pagi-pagi sekali." perintah Hans sebelum menjabat tangan dan berpamitan pada Danu.
Di tempat yang sama, Rafael berjalan tergesa memasuki lift, menekan tombol tujuh dimana dady dan istrinya berada. Dia harus cepat jika tak ingin kehilangan jejak.
"Kau menghianati aku Milea..." desis Rafael penuh amarah. Dia seperti dejavu. Dulu, ditempat ini pula Shane menghianati dirinya dengan berulang kali berkencan dengan Rich hingga tertangkap basah olehnya. Hati Rafael kembali terluka.
"Milly...kenapa harus dady??" setitik air mata yang tadi menggenang jatuh membasahi pipinya manakala melihat sang dady merangkul pundak Milea dan membawanya memasuki kamar VVIP tersebut. Rafael terhuyung dan merapatkan tubunnya ke dinding. Kakinya lemah seperti tak bertulang, ingin rasanya menjerit dan mendobrak paksa kamar itu dan meluapkan amarahnya sekarang. Tapi Rafael merasa lemah. Jika dulu dia bisa mengikhlaskan Shane untuk Richard, itu hanya karena mereka masih bertunangan. Tapi sekarang? Milea adalah istrinya, kehormatannya. Bisakah dia bersikap ikhlas?
__ADS_1
"Kenapa? Bukankah aku sudah terbiasa kehilangan? Jika sekali lagi terjadi ini tak akan membuatku jatuh pingsan bukan?" Rafael kembali berdiri tegap dan membenarkan kemejanya. Langkah panjangnya segera membawanya ke depan pintu kamar itu dan mengetuknya.