
"Momy...bolehkah aku bekerja? aku sangat bosan dirumah." keluh Milea saat dirinya dan Sofia menikmati makan selepas acara belanja di salah satu mall terbesar di ibukota. Tentu saja Fernandolah pemiliknya. Sofia menghentikan suapannya, memindai wajah Milea datar.
"Milly...kau lupa jika kau mengandung calon cucuku? Triwulan pertama adalah saat rentan dalam sebuah kehamilan nak. Fokuslah pada dirimu." ingat Sofia, mengulurkan tangan mengelus perut rata Milea.
"Tapi momy bilang dulu saat hamil kak Rafa dan Richard masih tetap bekerja. Kenapa aku tak boleh mom?" rengek Milea manja. Sofia menggelengkan kepalanya. Sebenarnya apa yang diinginkan Milea? dia sudah menikahi Rafael dan pasti semua kebutuhannya akan tercukupi. Untuk apa bersusah payah bekerja diluar rumah dan mendapatkan rasa capek yang sebenarnya tak boleh menyapanya?
"Milly...itu karena momy sudah jadi PNS sebelum menikah dengan dady. Momy juga sudah terbiasa bekerja keras dari kecil. Kau beda nak, kau dilahirkan dalam keluarga kaya yang tentu saja belum pernah menghadapi kesulitan. Akan berat memulainya saat kau sedang hamil." Rasa tak enak hati menyergap Sofia saat memberikann penjelasan itu pada menantunya. Sungguh dia tak ingin jadi mertua yang dzalim. Tapi yang dia katakan adalah realita bukan?
"Tapi setidaknya biarkan Milly mencoba momy. Untuk apa Milly kuliah jika ilmunya tak diamalkan? Tau begini aku sekolah hingga SMA saja lalu menikah." Hampir saja Sofia tergelak mendengar gerutuan Milea. Tapi sang dokter menahannya. Lagi-lagi tak ingin menyinggung perasaan Milea.
"Milly dengarkan momy. Pendidikanmu tak akan sia-sia. Kau akan tetap mengamalkannya untuk mendidik anak-anakmu kelak. Seorang Ibu adalah pendidikan pertama bagi anak-anaknya. Ibu yang pintar akan menghasilkan anak yang berkualitas. Wanita juga butuh pendidikan walau tak jadi apa-apa Milly." Milea menatap Sofia dengan kedipan lucu.
"Lalu apa yang harus kulakukan mom...aku jenuh dirumah." lagi...rengekan manjanya membuat Sofia tak tahan. Rasa iba menghantuinya. Dia cukup tau bagaimana hubungan Milea dengan Rafael. Tentu Milly butuh hiburan agar kuat menghadapi segala medan dan gempurab kehidupan.
"Baiklah. Mintalah ijin pada Rafa. Jika suamimu mengijinkan kau bisa bekerja sebagai akuntan di rumah sakit momy." Mata Milea berbinar. Sontak dia bergerak memeluk Sofia. Hal yang tentu saja membuatnya terkejut. Benar, Milea sangat ekspresif.
__ADS_1
"Momy...kau sungguh ibu yang terbaik untukku. Aku menyayangimu mom. Baiklah..aku akan minta ijin kak Rafa nanti." tukasnya berapi. Sofia tersenyum samar. Dia bahkan tak yakin Rafael akan mengijinkan Milly bekerja. Tapi melihat semangat Milly membuatnya tak tega mengatakan kenyataan itu. Benar...Milly butuh pengalaman kerja sendiri.
"Momy...apa setelah ini kita akan pulang?" Sofia melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Hampir maghrib. Benar-benar tak terasa sama sekali. Waktu berjalan terlalu cepat hingga membuatnya lupa. Pantas saja Nando sudah mengirim pesan agar mereka menunggu di lobi. Suaminya itu akan datang menjemput. Belanja dengan Milea sudah memberikan dokter cantik itu pengalaman baru. Dia yang tadinya tak suka belanja jadi terlalu menikmatinya hingga lupa waktu. Milly menantu yang cerdas dan hangat.
"Dady akan menjemput. Kita harus segera turun." Sofia segera berdiri dari duduknya. Sekali lagi dia terkejut saat Milea sudah bergelayut manja dilengannya seperti anak kecil. Siapapun yang melihat pasti mengira jika gadis berdarah Turki itu adalah putrinya, bukan menantunya. Sofia mengangkat sudut bibirnya. Ternyata begini rasanya punya anak perempuan.
"Jam berapa Rafa akan sampai Mil?" Milea menggeleng. Dia mana tau? sedangkan sedari tadi dia sama sekali tak berani bertanya pada suaminya itu. Takut menganggu pekerjaannya dan membuat Rafa jengah. Dia tak ingin usahanya berakhir sia-sia. Bagaimanapun Rafael harus jatuh cinta padanya.
"Mom...itu dady..ayo kita kesana." baru saja hendak kembali bertanya, Milea sudah menariknya menuju mobil yang barusan datang. Benar, Nando ada di kursi kemudi dan menghentikan kendaraannya di tempat khusus. Sofia dan Milea bergerak cepat membuka pintu. Milly segera duduk dibelakang bersama beberapa tas belanjaan mereka. Sedang Sofia mengambil tempat disamping suaminya.
Sofia dan Nando melambaikan tangannya pada Milea saat menantunya itu sudah turun dari mobil mereka. Pasangan suami istri itu menolak tawaran Milea untuk mampir karena mereka harus menghadiri pertemuan di yayasan beberapa jam lagi.
Milea melangkah ragu menuju pintu dan membukanya. Alangkah terkejutnya dia saat mendapati Yura sedang duduk di kursi dekat ruang tamu tempat para asisten biasanya menunggu. Wanita muda itu membungkuk hormat pada Milea.
"Selamat malam nyonya. Saya hanya akan mengatakan jika tugas saya sudah selesai untuk hari ini. Dan terimakasih untuk sarapan tadi." Ucapnya sebelum Milea sempat bertanya padanya. Milly mengangguk.
__ADS_1
"Dimana suamiku Yura?"
"Tuan muda ada di kamarnya nyonya." jawab Yura masih dalam posisi tegaknya.
"Jika sudah tak ada lagi yang kau kerjakan, pulanglah dan istirahat." Yura melirik jam dinding. Masih ada satu jam lagi masa kerjanya.
"Pulanglah Yura. Terimakasih untuk hari ini." Milea yang cukup mengerti arti tatapan Milea segera memberi perintah. Meski ditutupi dia tau jika Yura sangat capek hari ini. Gadis muda itu segera berpamitan.
Milea membuka pintu kamarnya. Sedikit terkejut kala mendapati suaminya sedang duduk manis di ranjang dan memangku laptopnya.
"Maaf..aku pulang terlambat kak." Rafael hanya meliriknya sekilas.
"Cepat mandi dan minum susu hangatmu Milly. Momy bilang kalian sudah makan tadi." Mata Milea membulat sempurna. Salah jika dia mengira Rafa akan memarahinya. Pria itu malah bersikap adem dengan muka datarnya hingga Milea sadar...Rafa tak pernah ada rasa padanya. Jadi tak ada gunanya jika dia marah atau bersikap posesif padanya. Milea segera membersihkan dirinya lalu meminum susunya.
"Tumben bi Desi membuatkanku susu vanilla." lirih Milea sambil meletakkan kembali gelasnya.
__ADS_1
"Aku yang membutkannya untukmu. Leon bilang kau tak suka rasa coklat. Jadi aku membelinya dengan rasa berbeda." Milea menatap suaminya dalam. Pria itu...kenapa begitu baik padanya???