Love You More, Husband

Love You More, Husband
Layak


__ADS_3

Momy Sofia yang baru keluar dari kamar tamu dibuat heran dengan bau harum masakan yang berasal dari dapur. Padahal dia belum memberikan arahan apa-apa pada Yul, sang koki karena rencananya pagi itu dia sendiri yang akan memasak. Yul tak akan berani memasak apapun sebelum nyonya besarnya memerintah.


Untuk kedua kalinya Sofia juga dibuat heran saat melewati meja makan, beberapa masakan sudah tersaji dengan tatanan menarik juga bau khas yang menggelitik perut. Desi yang kebetulan berada di dekat meja makan membungkukkan tubuhnya.


"Selamat pagi nyonya besar." sapanya penuh hormat. Sofia menganggukkan kepalanya.


"Apa yang kalian masak pagi ini?" tanya Sofia lembut. Hari masih beranjak terang. Biasanya dia baru mulai memasak di jam itu.


"Bukan kami...tapi nyonya muda." balas Yul yang membawa sepiring lagi menu masakan ke meja.


"Maksudmu Milea?" tanya Sofia memastikan. Keduanya mengangguk bersamaan. Sofia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dapur dan ruangan makan. Tak ada sosok menantu cantiknya disana.


"Lalu dimana nyonya muda kalian?" Desi menunjuk kamar mandi di dekat dapur. Memang terdengar gemricik air disana.


''Nyonya masih ...."


"Hmmm...tak apa." potong Sofia cepat. Pandangannya kembali terarah pada meja. Sofia mendekat. Ada udang jamur, capjay goreng, mie goreng toping dan balado telur yang asapnya masih mengepul. Semuanya menu favorit putranya. Dahi Sofia mengrenyit.


''Momy....selamat pagi mom." sapa Milea ramah. Sofia berbalik saat mendengar suara cerianya. Wajah cantik Milea juga terlihat amat bahagia.


"Kau sendiri yang memasaknya Milly?" Milea mengangguk.

__ADS_1


''Mom...tolong cicipi dulu sebelum kak Rafa dan dady mulai makan. Aku sama sekali tak percaya diri ketika memasaknya." Milea bergelayut manja di lengan Sofia, memaksa sang dokter teringat pada almarhumah Farah yang selalu bermanja padanya. Farah yang manis dan penurut. Ahhh....Sofia jadi merasa kembali menemukan putrinya. Milea menyerahkan sebuah sendok pada Sofia.


"Enak." komentar Sofia saat mencicipi udang jamur saus tiram buatan Milea. Dokter jantung itu lalu beralih pada menu yang lain. Hasilnya sama. Masakan Milea enak.


"Sungguh?? Momy tak sedang menghiburku bukan?" Milea bertepuk tangan lirih dengan perasaan bahagia saat mendengar komentar ibu mertunya. Wajahnya yang tadi harap-harap cemas jadi berseri karenanya.


"Tapi kenapa kau masak sepagi ini Milly? Apa hidangan ini tak akan menjadi dingin saat sarapan nanti?" masih jam enam sekarang. Mereka biasa sarapan pukul tujuh di kediaman Hutama. Tapi Milea menggelengkan kepalanya.


"Kak Rafa bilang akan berangkat setengah jam lagi bersama Yura meninjau proyek di luar kota." jelas Milea.


"Benarkah??" Sofia mencoba memastikan. Apa benar ada tugas begitu saat Rafa baru pindah rumah? tak mungkin Fernando menyuruh putranya bekerja sekeras itu. Lagi pula masalah tinjauan proyek biasanya diserahkan pada sekretaris Alex saja, bukan Rafael.


"Hubby...kenapa harus Rafa? mereka kan baru pindah. Tidakkah kau tau jika putramu...."


"Ssstttt....Ini darurat sayang." potong Nando menghentikan protes istrinya yang masih terlihat tak terima. Sofia baru akan kembali bicara saat Rafael keluar dari lift di samping tangga. Putra tertuanya itu tampak sangat gagah dalam balutan jas biru pekatnya. Rambut coklatnya disisir rapi bak para pengeran kerajaan. Ahh...Sofia seperti melihat duplikat Fernando saat muda dulu. Tampan.


"Mom...dad....maaf, kutinggal dulu. Yura sudah menungguku." Pamit Rafael memantik rasa bingung pada diri Sofia juga Milea secara bersamaan. Kedua wanita beda generasi itu saling pandang.


"Bukannya tadi Milea bilang kau berangkat setengah jam lagi Raf?" Rafael melihat jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Aku tak ingin terlambat mom Takutnya macet dijalan."

__ADS_1


"Tapi kak Rafa mau sarapan dulukan?" Milea yang tadinya bahagia jadi tertunduk sedih daat melihat Rafael menggelengkan kepalanya.


"Tidak Milly. Lain kali saja kita sarapan bersama."


"Tapi Milea sudah bersusah payah memasak untukmu Raf. Setidaknya hargailah dia. Kau juga hanya mengunjungi proyek bukan? Itu juga perusahaan milik keluarga kita. Dady akan menelepon mereka nanti. Sekarang sarapanlah dulu." Sofia menarik kursi agar Rafael duduk. Tapi pria muda itu terlihat enggan.


"Rafael benar sayang. Meski itu proyek kita tapi dia harus memberi contoh yang baik pada pekerjanya. On time salah satunya." Sofia mendelikkan netra coklatnya kesal pada sang suami yang terlihat amat membela putranya. Bagaimana tak kesal, dia juga wanita. Dia tau perjuangan Milea untuk bangun lebih awal agar bisa menyiapkan makanan itu sebelum Rafa berangkat. Kenapa mereka para pria selalu saja tidak peka? Padahal itu bukan murni karena kondisi darurat. Sofia menatap menantunya iba.


"Sudahlah mom...biar aku buatkan kak Rafa bekal saja. Meski tak bisa sarapan di rumah, kak Rafa bisa memakannya nanti." Milea dengan sigap mengambil kotak bekal susun tiga dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauknya lalu menyerahkannya pada Rafael dengan senyum amat lebar.


"Pastikan itu cukup untuk dua orang Milly. Ada Yura juga disana." perintah Nando sebelum kotak itu berpindah tangan. Milea tercekat. Membayangkan Rafael akan makan berdua dengan Yura saja sudah membuat darahnya mendidih. Tangan Milea terkepal, hingga.....


"Baik dad. Akan saya siapkan juga makanan untuk Yura." dan kembali gadis tinggi semampai itu mengambil kotak makan lain dan mengisinya. Meski hanya satu kotak, tapi Milea mengisinya dengan menu yang sama.


"Ini untuk Yura. Tapi biarkan aku memberikan ini langsung padanya." katanya tetap dengan senyum terkembang. Sofia terus saja mendelik kesal pada suaminya.


"Aku berangkat dulu. Asalamualaikum." pamit Rafael mencium tangan dady dan momynya bergantian. Milea hanya tersenyum kikuk saat Rafael mendekatinya. Tangan mulusnya terulur meraih tangan kekar si suami lalu menciumnya. Setelahnya dia mengikuti langkah Rafael ke pintu utama.


"Hubby...apa ini tak keterlaluan?" sungut Sofia kesal. Nando hanya tersenyum smirk menanggapinya.


"Tidak Sofia sayang. Lihat betapa menantumu itu terlihat dewasa dan tulus. Milea layak jadi menantu kita. Dia pejuang sejati sepertimu. Kita sama sekali tak salah memilih nyonya muda Hutama untuk putra kita." tukas Fernando tegas.

__ADS_1


__ADS_2