
Milea tersenyum saat Rafael mengandengnya memasuki sebuah resort biasa di sekitaran pantai yang mereka kunjungi hari itu. Bukan resor mewah karena Milea menolaknya dengan alasan hemat dan memilih pulang ke rumah saja tentu dengan perhitungan keuangan yang cermat. Resort yang mereka pilih hanya resort standart namun lumayan asri dan mengutamakan privacy meski tak bisa melihat pantai secara langsung. Siapa bilang harganya tak mahal? Rafa bahkan harus mengambil uang dari hasil pembagian saham Hutama untuk menyewanya seharian saja. Tapi siapa juga yang menyangka jika mereka malah mendapatkan resort terbaik secara gratis dengan alasan mereka adalah tamu ke seratus hari itu. Rafael langsung menatap sekeliling. Insting seorang tuan mudanya bekerja.
"Momy...." gumamnya dalam hati. Dia bukan pria bodoh yang tak mengerti ada tangan lain yang turut campur dalam kehidupannya. Momynya?? walau sudah mengusirnya, pasti akan terus meminta dadynya menyuruh orang mengawasinya. Baik dia atau Rich tak akan pernah bisa jadi manusia normal selagi gurita bisnis Hutama masih ada di muka bumi.
"Mas...." panggilan lembut Milea segera menyadarkan lamunan Rafael.
"Ehmm...ya. Maafkan aku sayang. Kau bilang apa tadi?" Milea menarik nafas panjang, membuat Rafa tak enak hati karenanya. Dia terlalu sibuk memikirkan keluarganya, apalagi setelah melihat empat orang pria dalam dandanan berbeda duduk mengawasinya. Dalam hati Rafa mengeluh...
'Kenapa tak selusin sekalian.' Pikirnya kesal.
"Mas Rafa mau masuk atau tetap disini saja?" ulang Milly sabar. Rafael segera tersenyum.
"Tentu saja masuk. Kau lupa aku ingin.....,"
"Ssstttt...mas!!" Rafael tergelak melihat ekspresi lucu Milly yang malah sudah berjinjit untuk membekap bibirnya dengab wajah memerah. Pasti istrinya itu malu jika ada orang lain yang mendengar kesepakatan mereka di pantai tadi.
"Ya sudah..ayo masuk." Milea bergerak cepat menarik tangan Rafael agar masuk dan mengunci pintunya.
__ADS_1
"Cepat sekali? apa kau juga merindukanku sayang?" Pekikan kecil terdengar saat tubuh langsing Milea sudah melayang ke udara. Rafael sudah memggendongnya dan menurunkannya di rajang dan langsung menindihnya.
"Mas...bisa aku mandi dulu?" Pinta Milea disela cumbuan lembut nan memabukkan sang tuan muda. Tak ada penolakan sebenarnya, tapi dia takut Rafael memcium bau tak sedap dari tubuhnya mengingat mereka baru saja berjalan-jalan di bawah terik matahari tadi.
"Nanti saja." balas Rafael dengan suara serak yang dipenuhi nafsu. Bukannya beralih, pria setampan Arjuna itu malah makin membenamkan kepalanya di lembah favoritnya tanpa berhenti menggerakkan lidahnya hingga lenguhan demi lenguhan keluar bergantian dari bibir Milea yang tak bisa diam.
💖💖
"Dave?? bolehkah aku memanggilmu begitu jagoan??" tanya Yura setelah hampir satu jam mereka bermain membidik sasaran di tembok kamar hotel yang sudah berubah fungsi. Jose terlihat antusias saat bermain bersama Yura yang juga berubah fungsi jadi baby sitter dadakannya. Tak ada rona lelah di wajahnya walau beberapa kali kalah karena bidikannya sama sekali tak tepat sasaran. Pria kecil itu bahkan bisa tertawa lepas dan terlihat amat bahagia. Lupakah dia yang beberapa jam lalu melihat pemakaman ibunya? Ya, Jose seperti tak terlalu kehilangan karena kematian ibu kandungnya. Mungkin karena almarhumah Shane tak pernah memperhatikannya.
Ya, siang tadi sepulang dari toko mainan Rich langsung menelepon agar keduanya segera bersiap menghadiri prosesi pemakaman Shane. Mereka akan datang bersama Paula juga karena Paula adalah mantan sahabat Shane saat kuliah. Tepatnya sahabat yang suda dihianati sahabatnya sendiri. Miris memang...almarhumah Shane sudah merebut Rafael dari tangan Paula yang saat itu masih berstatus pacar Rafael tanpa perasaan. Paula yang mengetahui hal itu bahkan terlibat percekcokan panjang yang berakhir dengan putusnya hubungan persahaban keduanya. Bukan salah siapapun....semua berjalan sesuai rencana Tuhan. Tuhan tau bahwa keduanya bukan orang yang tepat bagi seorang Rafael karena hanya fokus pada status dan juga kekayaannya saja.
"Tapi aku bukan ibumu Jose." kata Yura lirih.
"Memang bukan. Tapi maukah kau jadi ibuku?" lagi, wajah polos itu melihatnya penuh harap. Ada rasa tak tega saat ingin menolaknya, tapi Yura tak ingin terjadi salah paham nantinya.
"Hmmmm....sebaiknya panggil namaku saja oke?? dan aku akan tetap memanggilmu...Jose." Tapi seketika wajah tampan di depannya itu tertunduk lesu. Tangannya yang tadi memegang erah pelatuk pistol juga terlihat melemah. Yura segera mendekat.
__ADS_1
"Tak ada yang mau jadi ibuku termasuk kamu." Yura menggeleng kuat sambil memeluk bocah itu haru. Air mata bahkan sudah menetes di pipi tembemnya. Yura sungguh tak tega melihatnya.
"Jangan menangis jagoan. Baiklah...aku akan jadi ibumu. Apa kau senang sekarang?" Rasa haru Yura semakin bertambah saat Jose membalas pelukannya. Mereka kompak bertangisan tanpa menyadari jika pintu sudah terbuka dari luar.
"Kau apakan putraku??!!!" Bentak Richard penuh kemarahan. Pria itu bahkan sudah menarik paksa Jose dari pelukan Yura sekaligus mendorong asistennya itu hingga terjerembab ke lantai dengan wajah marah. Pun Jose terdengar berteriak lalu merangsak turun dari pelukan papanya dan berlari memeluk Yura yang masih linglung.
"Papa Jahat!!" pekik si kecil Jose lantang hingga Rich yang gantian bengong dengan reaksi anaknya yang malah membela Yura.
"Kenapa papa mendorong bunda?"
"Bunda???" ulang Rich masih dalam keterkejutannya.
"Ehhmm... bukan tuan muda...ini bukan seperti yang anda pikirkan. Jose hanya salah paham." potong Yura setelah mendapatkan kesadarannya. Inilah yang dia takutkan. Yura takut jika dikira memanfaatkan Jose untuk mendekati Rich yang notebane membencinya.
"Bunda tidak boleh bohong." teriak Jose keras hingga memekakan telinga.
"Tadi bunda sudah berjanji mau jadi ibuku." lanjut Jose terdengar menuntut. Yura dibikin salah tingkah karena kedua pria beda generasi itu sama-sama menatapnya tajam. Laksana makan buah simalakama, dimakan ibu yang mati, tak dimakan bapak yang jadi ganti.
__ADS_1
"Jose...bukan begitu nak. Ya, baiklah....aku akan tetap jadi bundamu." putus Yura cepat sebelum wajah lugu Jose kembali mendung. Jose kembali memeluk Yura penuh kasih tanpa mempedulikan tatapan tajam papanya.
"Dave anakku..." bisiknya membuat hati si pria menghangat karenanya.