Love You More, Husband

Love You More, Husband
Trauma


__ADS_3

Rafael tak pernah melepaskan tautan tangannya dari jemari lembut Milea setelah mereka menjejakkan kaki di Jogja hingga tiba di hotel yang dituju. Rafael bersikap layaknya mereka berdua adalah pasangan sempurna yang saling cinta. Pintu kamar VVIP yang mereka tempati terbuka. Milly masuk lebih dulu karena Rafa masih harus sedikit memberi arahan pada Yura. Asisten cantik itu mendengakan dengan khidmad lalu segera memberi hormat sebelum meninggalkan pasangan itu dan berjalan memasuki kamarnya sendiri yang berada di ujung lorong. Rafael segera masuk, menyadarkan tubuhnya di sofa.


"Mas Rafa atau aku dulu yang mandi?" Milly memang sedari tadi merasa gerah dan ingin mandi. Rasanya ingin berendam air hangat agar penatnya hilang. Setelahnya Milly akan istirahat sebentar sebelum menuju balkon untuk menikmati mentari sore hari disana.


"Bersama saja." Milly menegakkan tubuhnya. Apa tadi? bersama? Wajah Milly jadi merona karenanya.


"Mas saja yang mandi duluan." Sahut Milly sambil membuka koper mereka. Tapi belum sempat mengeluarkan pakaiannya. Tubuh semampainya sudah melayang ke udara tanpa bisa dicegah. Tentu wanita cantik beraksen Turki itu memekik kaget. Tapi buru-buru mengatupkan bibirnya saat sadar siapa pelakunya. Tentu saja Rafael yang membawanya dalam gendongannya.


"Aku bisa jalan sendiri mas." lirih Milly, namun diacuhkan oleh Rafa. Pria itu tetap menggendongnya dan menurunkannya sebentar saat menunggu bak mereka penuh. Tanpa sungkan, pria itu bahkan sudah menanggalkan pakaiannya hingga menyisakan satu kain penutup saja yang masih melekat disana. Lihatlah tubuh kekar dan athletisnya, siapapun akan dibuat terpesona olehnya.


"Mau lepas sendiri atau kubantu melepaskannya?" Milea sangat terkejut. Lepas baju?? ahhh...dia malu. Pun saat tangan kekar Rafael menyentuh kancing bajunya, menariknya sedikit memaksa karena tak sabar dengan beberapa kancing berukuran kecil hingga terdengar suara sobekan, tubuh Milly berubah mengigil. Kali ini bukan teringat pada terapi alami mereka, tapi pada kejadian pemerkosaan dirinya. Suara sobekan baju, tekanan ke dinding, Rafael yang telanjang didepannya....Kejadian yang begitu cepat dengan kondisi nyaris sama. Milea gemetaran.


"Pergi!!!" sentaknya kasar. Milly meraup wajahnya kasar, tubuhnya terjatuh begitu saja dan terduduk di lantai. Milly menangis sesenggukan. Rafael yang terkejut masih mengamati Milea dengan berjuta rasa bingung. Hati Rafael trenyuh. Sang tuan muda bergegas meraih kimono mandinya sebelum memeluk dan menenangkan Milea yang terus histeris karena perbuatannya tadi.


"Pergi!! Jangan sentuh aku!!" pekik lirihnya semakin menjadi, Milea lunglai dalam panik. Rafael yang tak ingin terjadi sesuatu memburunya, memaksa Milea tenang dalam dekapannya, berulang kali mengecup kening dan pipi mulus si wanita tanpa melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Milly...diamlah, tenangkan dirimu." Milly terus menangis ketakutan, membuat Rafa makin iba.


"Aku tak akan memaksa atau berbuat jahat padamu Milly. Tenanglah." bujuknya lagi sambil mengelus kepala Milea yang berangsur tenang.


"Semua ini karena aku Milly ..maafkan aku." dan tuan muda Hutama itu merengkuh Milea semakin erat, menyalurkan kehangatan dan penyesalan tak berujung batas menyesali perbuatannya pada si gadis. Andai hari itu dia taj bertemu Milea, tentu hal itu tak akan pernah terjadi. Biarkan saja dia mati, masih ada Richard yang akan menjadi putra penerus kerajaan bisnis Hutama. Sekarang rasa berdosa ini terus menerus mengejarnya dan membuatnya sesak nafas. Setitik air mata Rafael terjatuh. Milea mengangkat kepalanya. Entah kenapa dua mata yang sama-sama memerah itu seperti terhubung satu sama lain. Dalam diam Milea menghapus lelehannya dengan jemari kanannya.


"Tinggalkan aku sendiri mas. Aku akan mandi." Rafael mengecup pelipis istrinya lembut saat Milly sudah agak tenang. Entah kenapa hatinya merasa sangat sakit melihat jiwa Milly yang terguncang.


"Tentu. Mandilah." Rafa melepaskan pelukannya lalu keluar dari kamar mandi. Millypun segera mengguyur tubuh setengah telanjangnya dibawah shower. Dia sudah kehilangan minat berendam. Entah bagaimana hatinya saat itu. Disatu sisi dia bahagia akan perhatian Rafa, tapi di sisi yang lain, rasa trauma itu masih menancap kuat dalam ingatannya.


"Sudah?" Rafael meletakkan ponselnya saat melihat istrinya keluar dengan langkah pelan dari kamar mandi. Milea mengangguk samar sambil mencengkeram bagian dada kimon mandinya, takut. Rafael menyerahkan baby doll lengan panjang pada wanitanya lalu berganti masuk ke kamar mandi. Sama seperti Milly, dia juga memilih mandi instant saja.


"Milly...ada apa? Kenapa berdiri disini?" Tapi Milea tak menjawabnya. Gadis itu malah menghambur ke dalam pelukan Rafael dan membenamkan dirinya disana. Rafa yang tercengang hanya mendiamkan perbuatan istrinya sebelum akhirnya membalas pelukan itu.


"Maafkan aku mas." Dahi Rafa berkerut.

__ADS_1


"Maaf ..untuk apa lagi Milly?" Akhir-akhir ini Milly sudah banyak mengucapkan dan meminta maaf padanya.


"Kejadian tadi. Aku sama sekali....."


"Sssstttt...semua salahku. Jika ada yang harus minta maaf, itu adalah aku Milly." potong Rafa. Dielusnya kepala Milea penuh kasih sayang sebelum membawanya ke atas ranjang dan menyelimuti tubuhnya.


"Aku tak berniat menolak dan membuatmu sedih mas."


"Aku tau." sahut Rafael. Dia berusaha mengendurkan tangan Milly yang memeluknya amat kuat dan terasa tak nyaman.


"Jika mas Rafa menginginkannya maka aku akan dengan suka rela menjalankan kewajibanku." Milea menatap Rafael penuh keberanian. Tangannya bahkan sudah beralih mengusap dada bidang sang suami meski terasa kaku karena gerakan amatir. Sebagai pria normal, usapan itu sudah membuat jiwa lelaki Rafael meronta. Apalagi rambut basah Milea yang masih mengeluarkan aroma wangi membuatnya mabuk. Tapi Rafael menyadari satu hal.


"Aku tidak ingin sebuah kewajiban Milly, tapi keikhlasan. Tidurlah, masih ada beberapa jam sebelum ashar tiba." Rafael menurunkan tangan Milea yang menyentuh dada dan perutnya. Dia tak ingin tergoda. Masih banyak yang harus dia perbaiki selain menyatukan diri.


"Mas Rafa tak menginginkan aku?" Milee merasa sangat malu karena penolakan Rafael. Dia bahkan sudah menjatuhkan harga dirinya dengan menggoda dan mengajak duluan. Tapi penolakan yang dia dapatkan. Sebuah kecupan mendarat di keningnya sangat lama.

__ADS_1


"Jangan berpikir macam-macam. Kau istriku. Aku tak akan menikahimu jika tak menginginkanmu Milea sayang." Sayang??????? Kenapa kesedihan itu menguap begitu saja hanya dengan satu kata sederhana dari bibir suaminya? Milly merasa sangat dihargai dan dicintai dalam satu detik saja. Pria yang menikahinya itu bahkan selalu memperlakukan dia sangat lembut. Tak ada alasan untuk menyisakan sakit hati di sudut dirinya.


Hanya butuh beberapa menit saja bagi Milly untuk terlelap dalam pelukan hangat tuan muda Hutama itu. Rafael tersenyum bahagia sebelum memutuskan menyusul istrinya ke alam mimpi. Mereka memang harus banyak istirahat karena jadwal Rafael dan Milea akan sangat padat esok karena akan ada meeting dengan Q-company, siangnya mereka akan meninjau lokasi pabrik yang sudah diakuisisi oleh Hutama grup dan malam harinya, pasangan itu masih harus menghadiri gala dinner yang digelar oleh relasi bisnis dadynya.


__ADS_2