Love You More, Husband

Love You More, Husband
Maaf


__ADS_3

"Milly, ini masalah pekerjaan. Jadi jangan banyak bertanya." Kata Rafael seraya melenggang pergi meninggalkan Milea yang masih terpaku di tempatnya.


"Mas Rafa marah padaku?" Rafael yang sedang memasukkan beberapa baju dan jasnya ke koper menghentikan gerakannya. Panggilan baru itu...kenapa dia begitu menyukainya. Mirip pangggilan yang sering Rafa dengar dari momynya jika memanggil dadynya penuh cinta. Dan sepertinya, dadynya sangat menyukainya.


"Untuk apa aku marah?" Milly meremas tangannya yang mulai dingin. Tanpa bertanyapun dia tau Rafa marah karena perkataannya tadi siang. Dia memang keterlaluan.


"Tentang perkataanku tadi...maafkan aku." Rafael tak menjawab. Pria itu malah berdiri dan akan pergi dari sana kembali meninggalkan Milea. Tapi wanita itu sudah bergerak cepat meraih lengan sang suami dan menahannya. Milea melangkah ke hadapan suaminya dengan berani.


"Kalau kau marah, maka marahlah. Jangan diam saja. Mana aku tau kalau kau sedang marah?" Rafael kembali memasang wajah sinisnya.


"Ya!! Aku marah!! Kau mau tau apa penyebabnya hemm??" Rafael terus melangkah mendekati Milea yang berjalan mundur, mencari jarak dengannya. Bola mata gadis itu terlihat gelisah, tangannya juga kembali gemetaran, tapi lihatlah....wajah itu malah berani mendongak menantang seorang Rafael hutama.


"A...aku...aku...sudah minta maaf mas." ujar Milea polos. Kedua tangannya sudah terulur kedepan, menahan tubuh Rafael agar tak terus mendekat karena dia sudah terjebak tembok ruangan. Milly menelan ludahnya kasar.


"Minta maaf? Kau pikir aku akan memaafkanmu secara cuma-cuma? Milly...kau terlalu naif." Rafael memeluk pinggang sang istri agar mendekat padanya.

__ADS_1


"Lalu...lalu kakak minta apa agar aku dimaafkan? aku janji akan melakukannya kak." Hampir saja air mata turun di pipi mulus Milea. Mungkin dia terpengaruh beberapa adegan sinetron yang pasangannya suka main tangan pada wanita. Milly takut.


"Tak ada." Rafael melepaskan tubuh Milea berlahan lalu melangkah keluar. Siapa sangka Milea malah berlari memeluk tubuh tegapnya dari belakang dan melingkarkan tangannya di perut sang suami erat.


"Aku berjanji tak akan mengulanginya lagi mas. Tidak ada Rich dalam kehidupaku. Fokusku hanya kamu mas." Rafael menutup kedua matanya dalam diam. Entah kenapa dia tak ingin kehilangan momet itu dan sangat menikmatinya. Pelukan itu begitu hangat dan menentramkan jiwanya. Tak ada godaan dari pelukan tulus Milea layaknya para gadis yang mengejarnya di London sana. Gadis kecilnya sangat polos dan menggemaskan dengab hanya terus memeluknya erat tanpa ingin mengeksplore dada bidangnya yang berotot.


"Sisi koperku masih kosong Milly. Segera kemasi barang-barangmu." Tubuh Milea menegang. Pun saat jemari Rafa menyetuh tangannya yang melingkari pinggang si pria lalu mengelusnya. Milea seperti bermimpi dengan perlakuan tak bisa ditebak sang manusia es.


"Mas Rafa mengajakku?" Rafael bergegas membalikkan tubuh langsing istrinya gemas. Netra coklatnya menyipit.


"Apa kau benar-benar mengabaikanku Milly? Pesan darikupun tak kau hiraukan. Itu yang kau bilang jika fokus hidupmu adalah aku?" Milea kembali dibuat gelagapan dengan pertanyaan tiba-tiba yang tak dia duga. Pesan? Rafa mengirim pesan untuknya? Kapan? Ahhh...Milly meruntuk dalam hati. Dia tertidur sekian lama dan tak menengok notifikasi ponselnya. Milly melepas pelukannnya lalu setengah berlari menghampiri ranjang tempat ponselnya berada. Tangannya bergerak cepat membuka aplikasi pesan dan membukanya. Benar..nama suaminya tertera disana. Pesan itu bahkan sudah hampir dua jam lalu bersamaan dengan pesan ibu mertuanya. Dengan gerakan tak sadar Milly membukanya.


Milly masih dalam mode diam melihat pesan itu. Apalagi dua pesan di bawahnya sudah terhapus secara tiba-tiba sebelum dia membacanya. Entah apa yang Rafael kirimkan untuknya. Tiba-tiba Milea menggerutu kesal. Andai dia bangun lebih awal...setidaknya dia tau pesan apa yang dikirimkan suaminya. Saat berada dalam kegalauan, tubuhnya seketika dibuat membatu saat sepasang lengan kekar sudah mengurung tubuhnya. Rafael melakukan apa yanh dia lakukan barusan, memeluk pinggang rampingnya dari belakang. Kepalanya bahkah sudah berada di pundak kananya hingga Milea bisa merasakan hembusan nafasnya.


"Dan kau masih asyik tidur saat suamimu ini kelelahan menyelesaikan pekerjaannya. Milly, aku bahkan menyiapkan pakaianku sendiri." Bulu kuduk Milea merinding saat hembusan nafas itu terasa terus mendekat, mencumbui leher jenjangnya dan mengobrak-abrik kesadarannya tanpa bisa dicegah. Milea melengguh lirih saat sebuah sesapan kuat mendarat di sisi lehernya.

__ADS_1


"Segera persiapkan baju-bajumu. Aku menunggumu di bawah." Milly kecewa saat Rafael melepaskan pelukannya. Selalu begitu setiap saat. Pria itu mencumbuinya dengan sangat romantis namun selalu meninggalkannya setelah sesuatu dalam dirinya terpancing. Tak terkecuali saat terapi alami mereka. Rafael selalu berhenti pada satu titik, seolah dia enggan terlalu jauh menyentuh tubuh Milea yang bahkan sudah pasrah. Apa sebegitu tak menarikkah tubuh Milea di hatinya? Padahal ukuran branya.juga sudah bertambah dalam dua minggu ini. Milly bahkan merasa sesak nafas sebelum memutuskan membeli bra ukuran baru. Tak tanggung, bra nya kini berukuran dua kali dari bra lamanya. Bukankah itu juga suatu kemajuan?


Tak ingin terlalu banyak berpikir, Milea segera masuk di kamar ganti. Tangannya memasukkan beberapa baju dan keperluannya untuk dua hari sesuai pesan momy Sofia yang menyuruhnya mewakili pertemuan di sana bersama suaminya. Dady Nando sedang kecapekan sekarang. Selepasnya Milly segera turun menemui suaminya di meja makan.


"Mas Rafa mau makan apa? biar kuambilkan." Milly mengambil piring dan mengisinya dengan nasi.


"Aku sudah makan Milly. Ambillah makanan untukmu saja." Milea menurut, artinya dia akan makan sendiri meski Rafael duduk menemaninya disini.


"Mas mau dibikinkan sesuatu?" tanyanya lagi sangat tak enak hati.


"Tidak. Makanlah, aku tak ingin istriku kelaparan menungguku." Hati Milea menghangat. Selalu begitu saat Rafael menyebutnya 'istriku'. Apa ada kata yang lebih indah darinya? Rafael bahkan seperti menegaskan sesuatu jika Milea adalah miliknya.


Bibi Yul datang membawakan coklat hangat permintaan Milea dan meletakannya di samping nyonya mudanya saat Rafael meraih garpu dan mencicipi salad di piring Milly tanpa sungkan. Milly hingga harus melotot saat melihat suaminya makan di piring yang sama dengannya, bahkan dengan garpu bekasnya tanpa rasa jijik sama sekali.


"Mas mau?" Milly hendak berdiri dan mengambilkan makanan baru, namun lagi-lagi dicegah Rafael yang malah menambahkan makanan di piring Milly dan ikut memakannya. Pria tampan rupawan itu bahkan mengambil olahan daging sapi dan menyuapkannya pada Milly.

__ADS_1


"Makanlah yang banyak agar tubuhmu bertambah seksi. Kau tau bukan jika aku menyukai....."


"Aku akan makan banyak mas. Sangat banyak bahkan." Rafael hampir terbahak saat melihat Milea yang semula makan setengah hati menjadi amat bersemangat dan menghabiskan porsi besar yang dia buat. Pria itu tersenyum kecil. Beberapa bulan tinggal bersama Milea membuatnya tau jika istrinya itu hanya makan seperlunya. Entah menjaga pola makan karena takut gemuk atau sedang tak berselera. Rafael tak suka Milly begitu. Dia lebih suka Milly yang makan kenyang tanpa memikirkan bentuk tubuh atau hal lagi. Rafa hanya butuh Milly sehat saja.


__ADS_2