
Rafael menggulingkan tubuh kekarnya yang sedari tadi mengungkung Milea saat ponselnya berbunyi. Pria penuh pesona itu mendengus kesal saat ada yang menganggu kegiatan intimnya. Milea langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari ke kamar mandi dan menguncinya. Sesaat kemudian tubuh semampainya merosot ke lantai. Sebenarnya apa yang terjadi tadi? dia sudah membayangkan Rafael akan marah dan berkata kasar atau bisa jadi menceraikannya saat tau jika dia hanya pura-pura hamil. Meski tak membenarkan perkataan mertunya, Milea seperti menyengaja dengan tak menyangkal agar semua orang percaya jika dia hamil. Tapi apa yang terjadi barusan benar-benar diluar ekspektasinya. Rafael malah menciumnya juga ....ahh...Milea menutup wajahnya yang makin merah.
Berlahan wanita muda itu bangkit. Dia ingat jika Rafael juga belum mandi. Sebentar lagi waktu ashar, dia harus cepat. Milea hampir memekik kencang saat melihat pantulan tubuhnya di cermin. Dia bergegas mendekat untuk memastikan jika pandangannya tak salah. Wajah dan tubuhnya jadi aneh. Lihatlah bibirnya yang jadi padat berisi karena ciuman panjang mereka. Ada lagi....beberapa kiss mark sudah bertebaran di leher dan dadanya hingga dia terkagek karenanya. Jemari lentiknya bergerak lambat menyusuri dadanya.
"Sebanyak ini?" gumam Milea tak urung dengan senyum malu-malunya. Dia ingat betul betapa Rafael menyentuhnya dengan sangat lembut tapi penuh nafsu. Dadanya bukan rata seperti ejekan Rafa. Jika boleh jujur, ukurannya sangat pas dengan postur tubuhnya. Milea saja yang tak percaya diri setelah melihat ukuran jumbo milik Paula. Milea bergegas mandi.
"kemana kak Rafa? apa dia pergi?" batin Milly saat tak melihat suaminya di kamar mereka lagi. Milly mencoba tak ambil pusing dengan langsung sholat ashar. Salam baru saja dia ucapkan saat bel memecah keheningan.
"Ada tamu rupanya." gumamnya seraya melipat mukena dan keluar dari pintu kamarnya. Dari tempatnya berdiri Milea bisa mendengar jika kedua mertuanyalah yang datang. Milly melangkah cepat untuk menyambut keduanya.
"Mom..dad...bagaimana kabar kalian?" Milea menyalami kedua mertunya. Sofia memeluknya seperti biasa meski sama sekali tak ada senyum di wajahnya. Milea merasa suasana berubah canggung. Tubuhnya membeku saat menoleh dan mendapati suaminya sudah duduk dibelakangnya.
"Duduk!" perintah Rafael pelan. Milea beringsut duduk di samping sang suami yang memasang wajah dinginnya.
"Momy mendapat laporan jika hari ini kau ke Lexa hospital untuk operasi implan. Milea apa yang sebenarnya terjadi?" suara lembut Sofia mulai mencairkan suasana aneh diatara mereka. Gadis itu menundukkan kepalanya. Meski Sofia adalah mertua yang baik, tapi Fernando bukan pria sembarangan. Dia bahkan tau semua yang dilakukan Milea dan sampai menyempatkan diri untuk mendatangi kediaman putranya demi menanyakan apa yang terjadi. Tamatlah dia. Lagi pula Rafael belum tentu mau membelanya mengingat kebohongan yang banyak dia ciptakan. Milea meneguk ludahnya kasar.
"Aku yang memintanya mom." Kepala Milea terangkat, menatap wajah suami tampannya penuh tanya. Tapi tak ada apapun disana. Rafael bahkan tak mau melihatnya. Dia memilih langsung menatap kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Untuk apa Raf? semua itu bisa membahayakan......"
"Calon bayi kami? Mom...dia tak sedang hamil." Kali ini wajah Milea pias. Rafa seakan mengangkatnya untuk kemudian menghempaskannya ke dasar lautan. Membiarkannya kesulitan bernafas lalu tenggelam secara menyedihkan. Rafael bahkan menekan kata-katanya seraya mengeram kesal.
"Momy tau." Keduanya kompak menatap Sofia yang bersikap amat tenang. Dokter yang masih terlihat cantik di usianya itu malah sama sekali tak kaget, berbading terbalik dengan pasangan muda di depannya. Demikian pula Fernando yang masih duduk tegak, tanpa ekspresi.
"Jika momy tau kenapa momy mengatakan jika dia hamil?" tanya Rafa yang seolah merasa dibohongi dua kali. Tentu saja rasa tak terima menyeruak dari dirinya. Bahkan momynya sendiri tega membohonginya.
"Jadi setelah momy mengatakan jika Milly hamil kau sama sekali tak berniat memeriksakan keadaan Milea ke dokter? Rafael...suami macam apa kau ini? Kau bukannya peduli pada istrimu, malah lebih mementingkan kebahagiaanmu sendiri. Apa yang sebenarnya kau inginkan nak? Kau seperti bukan Rafael yang momy besarkan dengan kesederhanaan pola pikir dan perbuatan. Momy kecewa padamu Raf!! Operasi implan? dadymu yang tak punya perasaan apapun saat menikahi momymu ini bahkan tak berpikir sejauh itu." omel Sofia. Sungguh dia juga dibuat naik darah dengan kelakuan putra sulungnya itu. Sofia bahkan sampai memukul pegangan sofa yang didudukinya karena kelewat kesal.
"Wanita lain?" ulang Sofia menatap tajam menantunya. Milea mengangguk.
"Aku tak suka kak Rafa dekat dengan Paula Harriman, mantan kekasihnya yang seksi itu mom. Apa aku salah?" tanya Milea lirih, tentu saja dengan keberanian yang makin menipis.
"Terus saja kalian saling menutupi. Ini yang kalian bilang tak saling cinta? Baik kau maupun Rafa sama-sama berusaha melindungi satu sama lain." Suara tegas Fernando membuat semuanya terdiam.
"Mulai besok alihkan semua kerjasama dengan Harriman corps padaku di kantor pusat. Wanita bernama Paula itu sudah cukup meresahkan keluarga kalian. Dady tak ingin wanita itu menimbulkan kesalah pahaman lebih lama." perintah fernando tegas. Milea bahkan sampai berkaca mendengarnya. Fernando yang dingin bahkan langsung bertindak saat mendengar pengaduannya. Apa Milly salah menafsirkan jika mertuanya itu tak hanya baik dan tegas tapi amat menyayangi anak-anaknya? Milea sampai harus mengatupkan kedua tangannya di dada untuk mewakili rasa terimakasih yang mendalam dari dalam hatinya. Setetes air mata jatuh ke pipinya.
__ADS_1
"Dan soal Milly tak hamil....itu merupakan kesalahanmu Raf. Kau seharusnya bekerja lebih keras untuk membuat istrimu hamil." Mata Rafael membola. Lagi dan lagi momynya malah menyalahkannya.
"Kak Rafa tak tertarik pada tubuh rataku." keluh Milea hampir menangis. Sofia membeliak, menatap suaminya galak. Kejadian bertahun lalu saat Fernando mengatakan jika dia bukan tipe pria itu kembali membayang.
"Kenapa putramu memiliki watak sepertimu?" desisnya galak. Fernando meraup wajahnya kasar. Sungguh dia tak ingin menyakiti kembali hati istri tercintanya. Sudah bertahun-tahun berlalu...tapi wanita tetaplah wanita. Mereka selalu ingat siapa saja dan kapan saja orang menyakiti hatinya.
"Sayang maafkan aku." Sofia dibuat luluh hanya karena memandang wajah polos penuh penyesalan suaminya. Apapun yang dilakukan Fernando dimasa lalu...dia sudah jadi suami dan ayah yang baik bagi keluarganya.
"Baiklah jika momy memaksa. Tapi Milea harus mengikuti terapi pembesaran alami hingga aku merasa pas dan tertarik padanya." potong Rafael cepat sebelum dadynya benar-benar kena marah sang ratu Hutama.
"Pembesaran alami? Apa yang kau maksudkan Raf?" Milea kembali menunduk dengan wajah memerahnya. Jemarinya saling memilin diserbu kegelisahan. Pun Rafael juga jadi salah tingkah dengan wajah tak kalah merah dari istrinya. Fernando menarik nafas panjang. Sebagai seorang mantan duda, dia tau apa maksud putranya.
"Sayang sebaiknya kita pulang saja. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri." Fernando menarik lengan istrinya agar bangkit.
"Hubby...apa maksud dari semua ini?" Sofia mencoba menahan suaminya, ingin disana beberapa lama lagi. Tapi tampaknya Fernando memaksa. Mau tak mau wanita paruh baya itu menurut.
"Sudahlah...nanti kau juga akan tau."
__ADS_1