Love You More, Husband

Love You More, Husband
Ponsel


__ADS_3

"Sudahlah, pergilah ke kamarmu. Kau harus istirahat." perintah Rafa tanpa ekspresi. Pria itu berdiri di depan cemin besar, tangannya meraih salep anti gatal pemberian momynya dan mengoleskannya secara merata di tubuh depannya yang memerah. Milea berlahan mendekat, tangannya terulur mengambil salep itu dari tangan Rafael yang entah kenapa juga menurut dan membiarkan jemari lentik itu mengambilnya.


"Bi...biar aku bantu kak." Tentu saja Milea tau jika sekujur tubuh Rafael memerah semua karena alergi. Menbayangkan bagaimana gatalnya saja sudah membuatnya merinding. Pasti sangat gatal. Untungnya tak sampai ke wajahnya yang tampan. Tampan?? ahhh..ngomong-ngomong soal kata tampan, pria di depannya ini bisa dikatakan over tampan. Lihatlah wajah dengan pahatan sempurna yang sembilan puluh persen mirip dadynya. Selebihnya, tubuh kekar dan iris kecoklatan bak bola mata kucing lucu nan berkilat tajam itu seakan mematri Milea hingga lupa tujuan awalnya.


"Sampai kapan kau akan menatapku begitu Milea?" ucap Rafael datar juga dengan wajah tanpa ekspresi.


Degh.....


Jantung Milea berdetak kencang seiring dengan tangannya yang berubah tremor karena terkejut bercampur salah tingkah. Milly segera memutari tubuh tegap itu lalu menjulurkan jari telunjuknya untuk mengambil salep itu lalu mengoleskannya ke permukaan kulit si pria.


'Ahh ya Tuhan...kulitnya halus sekali..lembut seperti....marsmellow ahh bukan...seperti...seperti...'


"Milea...jika kau ingin membantu maka ratakan salep itu disekujur tubuhku, bukan disana saja." Raut kesal mendominasi wajah tampan yang terpantul dari cermin di depan sana. Milea tersentak karenanya. Kenapa pikiran mesum saat mereka bercinta dibawah pengaru obat itu tergambar jelas dipelupuk matanya. Dia yang harusnya melawan malah dibuat bertekuk lutut dalam permainan kaku si pria yang amat beringas meski tak berlaku kasar padanya. Tapi sungguh, sensasi kenikmatan itu masih bisa dia rasakan.


"Ma..maafkan aku kak." ucapnya penuh rasa bersalah. Tapi bukankah itu manusiawi? siapa yang tak terpesona melihat tubuh athletis dengan otot tubuh terbentuk sempurna di depannya itu? apalagi dia hanya gadis polos yang amat jarang bersentuhan dengan yang namanya pria walau sudah jadi icon kampus yang punya banyak idola kaum adam. Tapi sungguh, Milea tak pernah tertarik sedikitpun dengan salah satu dari mereka. Richardlah orang yang pertama kali membuatnya tertarik.


"Ehhhmm...sudah kak." Milly menyerahkan wadah salep itu kembali pada Rafa yang mengisyaratkan agar salep itu ditaruh di meja saja. Pria itu masuk ke ruangan lain disana, mungkin kamar tidurnya.


Milea yang ditinggalkan sendiri tak melewatkan kesempatan untuk melihat ruangan kerja Rafael yang tertata rapi. Ruangan dengan nuansa hitan putih itu terlihat elegan dengan mengusung tema modern yang amat terasa dengan penataan berbagai rak dan meja minimalis juga sofa hitam yang amat artistik. Hmmm...ternyata selera Rafael bagus juga. Simpel dan hemat barang tapi rapi dan indah.


Ponsel milik Rafa yang diletakkan begitu saja diatas meja menyala, memantik rasa penasaran di hati si wanita yang langsung beringsut mendekat. Tapi...kenapa dia menjadi sedikit kecewa saat layar ponsel canggih tersebut menampakkan foto wanita cantik dengan nama Naura cantik dengan emoticon kelinci lucu disebelahnya. Cukup lama ponsel itu menyala hingga mati sendiri. Mode silence membuat siapun tak mendengar penggilannya, termasuk Rafael yang masih ada di dalam kamarnya.


"Apa yang kau lakukan disana?" hampir saja Milea melompat kaget saat suara bariton itu sudah berada di dekatnya. Wajahnya menoleh pias mirip pencuri yang ketahuan saat melakukan aksinya. Dia terlalu sibuk dengan berbagai pertanyaan di kepalanya hingga tak mendengar kedatangan Rafael.

__ADS_1


"Aku ehh...tadi ponsel kakak bunyi. Aku hanya..."


"Ingin jadi mata-mata?" Sontak Milea mengangkat kedua tangannya dan mengibaskannya, gugup. Bukan itu yang dia lakukan.


"Tidak! aku hanya ingin melihat-lihat tadi. Tapi tiba-tiba ponsel kakak menyala." jelasnya cepat. Tak baik memelihara salah paham disaat seperti ini. Rafael mengambil ponsel itu lalu meraih tangan Milea dan menyerahkannya ke dalam gengamannya.


"Ponsel itu milik Richard. Bawa dan serahkan padanya." ujar si pria dengan entengnya. Senyum mengejek terukir begitu jelas di bibirnya hingga Milea terheran karenanya.


"Mi...milik pak Richard?" ulang Milea masih dengan ekspresi bingung.


"Ya. Apa kau tertarik menanyakan siap Naura padaku?" Wajah bingung itu menjadi berbinar mendengar perkataan Rafael. Entah mengapa jiwa ingin taunya berubah menggebu saat suaminya itu melontarkannya. Mungkinkah rasa itu masih tertinggal walau tadi sudah berusaha dia ingkari?


"Ya." dan sekali lagi senyum penuh ejekan itu terbit, entah disadari atau tidak oleh Milea.


"Lalu untuk apa kakak bertanya begitu tadi? ingin memancingku?" sekarang senyum itu berubah sinis, kali ini hal itu amat disadari oleh Milea.


"Kakak cemburu?" sergah Milea jumawa. Siapa yang tak tertarik padanya? dia kembangnya kampus. pesonanya tak bisa ditawar-tawar lagi.


"Cemburu? untuk apa Milea? cemburu itu hanya berlaku untuk orang yang mencintai. Dan terus terang...aku tak bisa mencintai wanita yang tak menutup auratnya dengan benar." Aurat? apa yang dikatakan laki-laki itu? dia sudah cukup berpakaian sopan dengan rok jeans selutut dan kaos berkrah yang lumayan tertutup walau berlangan pendek.


"Lalu pernikahan itu?" buru Milea yang terlihat kembali kesal saat gaya berpakaiannya jadi sorotan. Sifat awalnya yang merupakan watak wanita golongan atas tersentil saat dihina. Bagaimana trendsetter di kampus yang selalu modis dan uptodate dalam penampilan dan gaya hidup.


"Bukannya kau sendiri yang bilang jika pernikahan ini hanya jalan untuk mendekati adikku? rupanya kau pelupa hingga harus bertanya padaku." Milea serasa tertampar mendengar perkataan Rafa.

__ADS_1


"Kau benar." balasnya singkat atau tepatnya kehabisan kata-kata. Tak ada ekspresi yang berarti dari wajah Rafa. Juga tak ada senyum lagi walau ejekan. Wajah itu beku laksana bongkahan es kutub utara.


"Kalau begitu kejarlah dia selagi ada waktu Milea." desis Rafa dingin.


"Kau bicara seolah waktuku tinggal sebentar." kali ini Rafael menyeringai.


"Kau tidak akan tau apa yang terjadi esok, minggu depan atau bulan depan. Jadi saranku...berusahalah selagi masih ada waktu." Milea menatap wajah suaminya tidak mengerti.


"Sekarang keluarlah, mungkin Richard memerlukan ponselnya." dan tanpa diperintah dua kali Milea bergegas keluar sambil bersungut kesal.


"Bik, apa kau melihat pak Richard?" tanya Milea pada ART yang kebetulan melintas. ART itu segera menghentikan langkahnya dan membungkukkan tubuhnya.


"Tuan Richard ada di kolam renang nona." sahut sang pelayan seraya masih menunduk hormat.


"Terimakasih bik, baiklah saya kesana sekarang."


Milea melangkah ringan ke kolam renang di belakang rumah, mendapati Richard yang sedang asyik berenang sendirian disana.


"Pak, ini ponselmu. Tadi ketinggalan di kamar kak Rafa." Milea mengulurkan ponsel itu dari tepi kolam hingga membuat Richard berenang mendekat dan naik di bibir kolam. Lihatlah tubuh tak kalah kekar dari sang kakak tadi. Tapi anehnya, tak ada desiran apapun pada diri Milea seperti saat dia di dekat Rafael tadi. Hanya kekaguman tanpa efek apa-apa pada dirinya.


"Ada seorang wanita bernama Naura yang barusan telepon." ujar Milea hati-hati. Sudut bibir Richard terangkat. Dengan segera dia menekan tombol hijau dan menghubungi wanita bernama Naura itu hingga lagi dan lagi Milea harus melihat fotonya terpampang disana.


"Ohhh hallo Nau...kapan kau akan kembali kemari?" Milea masih terpaku ditempatnya, menyaksikan interaksi antara Richard dengan si wanita tanpa mau beranjak dari sana meski dia diabaikan. Sungguh, melihat Richard dibawah temaram lampu dan cahaya bulan saja sudah bisa membuat hatinya berbunga. Hal yang tak dia sadari adalah....apa yang dia lakukan tak lepas dari tatapan tiga orang dibalik jendela. Rafael sang suami, Sofia sang momy dan tentu saja cinta sejatinya...Fernando satria hutama yang bisa jadi mimpi buruk baginya dikemudian hari.

__ADS_1


.


__ADS_2