
Milea terkapar lemah diranjang besarnya usai Rafael menurunkannya dari gendongannya sekejab lalu. Sejak dinyatakan hamil oleh dokter, Milly memang muntah parah hingga Rafa sama sekali tak tega meninggalkannya sendiri dirumah. Jangankan pembantu rumah tangga dan pengawal, momy Sofia yang seorang dokter saja tak dia percayai. Rafa lebih memilih memindahkan semua pekerjaan kantornya ke rumah. Sifat yang kelewat posesif dibanding dadynya di masa lalu. Nyatanya Rafa benar-benar tak bisa jauh dari Milea dan calon bayi mereka.
Adalah Danu yang selalu mondar-mandir ke kantor dan juga kediaman Rafa hingga mau tak mau Rafa menambah sekretaris tambahan di kantornya untuk meringankan tugas Danu yang kelewat banyak. Danu lebih berfungsi sebagai sekretaris utama merangkap asisten pribadinya saja sekarang.
"Apa masih mual?" tanya Rafa lembut sambil mengelus kepala Milea pelan. Milly menggeleng. Bagaimana bisa mual? dia bahkan sudah menguras semua isi perutnya tadi. Sekarang perutnya sudah kembali keroncongan tak menentu. Usia kehamilan yang baru delapan minggu ini memang menyiksanya hingga tak bisa leluasa beraktifitas. Yang ingin Milly lakukan hanya bergelung mesra di pelukan Rafael hingga tertidur. Saat Milly tidur inilah, Rafa bisa bekerja di ruang santai rumahnya yang sudah disulap jadi kantor dadakan sejak satu bulan lalu.
"Mas..."
"Hmmm...apa kau ingin sesuatu sayang? Katakan saja. Aku akan berusaha memberikannya untukmu." Milly tersenyum kecil. Suaminya kenapa terlihat amat dan amat perhatian padanya. Saat di dekatnya, tangan besar Rafa selalu mengelus perutnya penuh kasih sayang seolah ingin mengatakan pada calon bayi mereka jika dadynya sangat sayang dan selalu ada untuknya. Lain yang dipikirkan Rafa, lain pula yang dipikirkan Milea. Sentuhan Rafa diperutnya malah membangkitkan sesuatu yang lain dalam dirinya. Milly selalu saja menginginkan sentuhan lebih dari suaminya meskipun Rafa selalu mengingatkannya agar tak terlalu sering meminta. Tapi Milea tetap kukuh pada pendiriannya. Entah kenapa Rafael selalu membuatnya tergila-gila dan selalu menginginkannya. Momy Sofia bilan itu hormon kehamilan yang mau tak mau harus Rafael turuti. Toh permintaan Milea tak menyiksanya, malah harusnya membuatnya senang karena tak usah puasa terlalu lama seperti saran dokter.
"Aku ingin makan di Twins." Sepertinya Rafael harus bernafa lega karena istrinya tak lagi minta kuda-kudaan lagi seperti tadi. Bukan tak mau, tapi Rafa selalu memikirkan janin yang ada dalam perut istrinya. Tapi Twins????
"Sayang...itu kan resto siap saji? Kamu sedang hamil. Makanan seperti itu tak sehat untuk bayi kita. Makan ditempat lain saja ya??" seketika bibir Milea mengerucut. Wajahnya terlihat kesal sekali. Terbukti dari gerakan tangannya yang melepaskan diri dari Rafa sedikit kasar hingga Rafael terkejut. Tak biasanya Milly bersikap begitu padanya meski marah sekalipun. Rafael mengusap dadanya, mencoba tenang. Pasti ini hormon kehamilan lagi.
__ADS_1
"Tidak mau!! pokoknya aku maunya makan disitu!!" sentak Milly kasar. Rafa menarik nafas panjang.
"Milly sayang, ingatkan kata dokter jika...."
"Aku tidak mau dengar kata dokter. Aku inginnya makan disitu. Kalau mas Rafa tidak mau kesana ya sudah, tidak apa-apa. Aku mau tidur saja!!" Dan Milly dengan gerakan cepat menarik selimutnya lalu menenggelamkan dirinya disana. Mengabaikan perkataan Rafael yang membujuknya agar mau makan.
"Ini yang mas Rafa bilang cinta padaku? cinta apa? aku cuma lapar, minta makanan murahan saja tak dibelikan. Katanya keluarga kaya, tapi tak sanggup membelikan istrinya seporsi saja. Kaya tapi pelit." umpat Milea seraya menangis kesal. Rafa yang tadinya ikut kesal menjadi menjadi senyum-senyum sendiri mendengar gerutuan istrinya. Ini sama sekali bukan Milea. Benar, pasti karena hormon kehamilan. Rafael mengusap kembali kepala istrinya, tapi kembali ditepis kasar oleh Milea hingga Rafa gemas dan memeluk tubuhnya yang mulai padat berisi.
"Sayang...jangan ngambek begitu. Jangankan makanan di resto siap saji itu, membeli restorannya berikut penjualnya juga suamimu ini masih mampu. Bersiaplah, mari kesana." bukannya senang, Milly malah makin menjadi marahnya.
"Aku minta maaf Milly. Kau tau jika aku sangat menyayangi kalian. Aku hanya tak ingin kau sakit. Tapi baiklah, kita kesana. Makanlah sepuasnya." Milea menatap Rafael dengan perasaan campur aduk. Tuan muda Hutama itu kenapa sesabar itu padanya? Inilah yang membuatnya selalu bersyukur pada kehidupannya. Dikaruniai suami yang mendekati sempurna baginya, mertua yang baik hati, juga calob bayi yang pastinya akan mempererat cinta mereka. Milly langsung memeluk erat suami tampannya.
"Maafkan aku juga mas." bisik Milly yang dihadiahi ciuman singkat di bibir mungilnya oleh Rafa. Begitulah kehidupan mereka. Penuh kebahagiaan juga kerikil tajam. Tapi baik Rafa maupun Milly terus berusaha memantapkan langkah melewatinya berdua hingga maut memisahkan.
__ADS_1
Nun jauh diseberang sana, sepasang suami istri juga sedang berbahagia menyambut kehamilan pertama pasangannya. Bedanya, jika Milly-Rafa cenderung lengket, pasangan ini malah kebalikannya. Richard, si pria malah selalu muntah jika di dekat istrinya karena selalu mencium bau minyak angin yang selalu dipakai Yura meski sudah memilih aroma lavender. Mau bagaimana lagi? Yura sangat menyukai aroma itu hingga selalu mengoleskannya ke sekujur tubuhnya. Anehnya, Rich sangat sensitif dengan aroma lavender belakangan ini. Padahal biasanya tak ada efek apa-apa.
Yura terlihat tak masalah saat mereka berdua tidur terpisah, tapi tidak pada Rich. Tuan muda kedua Hutama itu sangat ingin memeluk istrinya juga mengelus calon anaknya. Tapi lagi dan lagi rasa mual itu datang menyiksa. Bukannya melepas rindu, Rich malah dibuat lemas karena terus muntah hingga putus asa dan tidur di kamar tamu. Hal yang tak disia-siakan Yura agar bisa tidur dengan Dave. Ibu dan anak itu terlihat amat menikmati triwulan pertama yang penuh keanehan itu.
"Sayang, bisakah jika malam ini saja kau tak memakai minyak sialan itu? Aku merindukanmu." ucap Rich dengan mata sayu penuh permohonan. Beberapa minggu puasa tentu amat menyiksanya. Tau begini dia tak akan meminta Yura hamil dulu agar bisa terus menikmati masa pengantin baru mereka lebih lama. Dokter bilang hanya beberapa saat saja, nyatanya Rich sampai tak tahan. Anehnya kenapa dia juga ikut-ikutan acara nyidam istrinya? Yang hamil siapa, yang ngidam siapa? dasar menyebalkan.
"Rich...mengertilah, aku tak bisa tidur jika tak memakainya.Tubuhku juga terasa tak nyaman. Apa kau tega melihat kami tersiksa??? Lain kali saja acara rindu-rindunya. Ditumpuk juga tak apa. Nanti biar makin menggunung seperti cintaku padamu." Rich mencebik kesal mendengar gombalan istrinya yang seolah menertawakan dirinya. Tapi Yura benar, lebih baik dirinya yang tersiksa dari pada istri dan anaknya. Toh kakaknya juga mengalami hal yang sama meski tak separah dirinya. Kenapa juga ...para calon penerus keluarga Hutama itu aneh semua keinginannya. Tapi biarlah, orang sabar pasti rejekinya lancarπ€£π€£
π
ππ
πππ
__ADS_1
Readers, sekian dulu untuk novel ini ya. Maaf extra partnya lama banget bikinnya. Untuk kalian yang ingin tau tentang kehidupan Leon ibrahim, kakak tampan Milea yang belum menemukan jodohnya juga Sena sang gadis misterius...yuk kunjungi novel baru author. Belum sempat ganti cover karena masih sibuk mencari sebongkah berlian dan mewujudkan harapan. Jangan lupa beri dukungan kalian untuk kelangsungan karya-karya saya selanjutnyam. Akhir kalam wasalamualaikum wr wb dan sampai berjumpa lagi....π€©π€©π€©π€©