
Perjalanan waktu pun cepat berlalu, kini usia kandungan Ara memasuki bulan ke sembilan. Semua penghuni mansion utama sudah bersiap siaga untuk menyambut kelahiran penerus ke dua dari sang pemilik Blade Company.
Melihat Ara yang sudah sulit untuk berjalan, Elvan berinisiatif untuk tidak melakukan perjalanan bisnis maupun yang lainnya. Semuanya ia pusatkan di mansion miliknya, walaupun sempat mendapatkan penolakan dari Ara. Namun kali ini, Elvan menolaknya.
" Bee, jangan terlalu khawatir. Semua orang mansion disini sudah banyak, tidak enak membuat mereka semuanya menjadi pusing." Ara yang memilih berjalan-jalan menuju balkon kamarnya.
" No no and no, untuk kali ini. Biarkan suamimu ini yang mengaturnya sayang, aku masih terbayang waktu Ezra lahir. Dan itu membuatku sangat takut dengan kelahiran anak kita yang kedua ini, jangan protes lagi oke. Aku ingin menjadi Daddy yang siaga dan tidak ingin kehilangan moment melihat anakku lahir, ini semua aku lakukan untuk keselamatan kalian. Kumohon mengertilah." Elvan berjalan beriringan dengan menjaga Ara yang ingin merasakan udara luar menuju balkon.
Setibanya di balkon, Ara berdiri pada pagar pembatas yang ada. Memejamkan matanya sesaat untuk merasakan udara segar di pagi hari, Elvan pun tidak ingin kalah. Ia melingkatkan tangannya an menyentuh perut Ara yang sudah sangat membesar, menikmati bersama kesegaran udara pagi.
" Bee, jika nanti setelah anak kedua kita lahir. Namun aku tidak selamat, ba..."
" Tidak! Itu tidak akan terjadi, jangan ucapkan kalimat yang tidak ingin alu dengar sayang. Kumohon, berjuanglah untuk itu." Pelukan Elvan semakin erat, ia mengelus perut Ara dengan perlahan.
Semuanya kekhawatiran Elvan itu bukan tanpa sebab, pada kehamilan Ara yang kedua ini. Keadaan tubuh Ara memang sangat tidak mendukung, kondisi tubuh lemah dan kekuatan janin yang melebihi dari kondisi ibunya. Membuat Ara menjadi begitu lemah, pendarahan berulang kali terjadi selama kehamilan. Dapat memicu proses kelahiran yang lebih awal, hal itulah yang kini Elvan jaga.
__ADS_1
" Maaf Bee, a a ku aku takut." Terbayang dalam pikiran Ara tentang bagaimana kondisi disaat ia harus melahirkan Ezra seorang diri, dan kini ia harus merasakan ketakutan itu kembali pada kehamilannya yang kedua.
Dalam posisi mereka berdiri, Elvan membalikkan tubuh Ara agar bisa berhadapan dengan dirinya. Menghapus air mata yang sudah tak terbendung lagi dari wajah cantik itu, membawa tubuh Ara untuk duduk pada kursi yang terdekat. Elvan berlutut dihadapan Ara dan menggenggam tangannya dengan perlahan, memberikan kecupan hangat pada kening sang istri.
" Jangan takut sayang, aku akan selalu bersamamu. Yakinlah kamu akan bisa melaluinya, jangan biarkan ketakutan lebih menguasai dirimu."
Dugh!
Dugh!
" Sayang! Ada apa, baby menendang lagi?" Kepanikan juga menyerang Elvan.
" Emm, ini lebih kuat Bee. Sssttt... Argh!" Ara masih meringgis, namun ia menikmati setiap proses kehamilannya itu bersama Elvan yang selalu berada disisinya.
Perlahan Elvan ikut mengelus perut besar Ara, lalu ia memberikan kecupan pada sisi luar dari perut itu.
__ADS_1
" Sedang apa anak Daddy di dalam sana? Jangan terlalu keras menendang Mommy ya nak, lihatlah. Mommy meringgis dengan keaktifanmu didalam sana, jaga Mommy jangan sampai kesakitan dan kelelahan lagi ya. Jangan seperti kakakmu itu nak, pusing Daddy dengan ..."
Pukh!
" Ah! Sayang, kenapa?" Elvan terkena tangan Ara yang menyentuh lengannya dengan cukup keras.
" Tidak baik mengucapkan kalimat seperti itu, mereka adalah anak kita Bee. Tentunya mewarisi gen dari kedua orangtuanya, jangan marah. Karena mereka lebih dominan mewarisi gen dari dirimu, bersabarlah." Ara tersenyum melihat wajah Elvan yang seakan-akan tidak menerima jika anaknya mewarisi gen dari dirinya yang begitu keras.
Dengan menghembuskan nafasnya yang berat, Elvan harus menerima itu semua. Memang benar apa yang di ucapkan oleh istrinya, karena anaknya yang pertama sangat mewarisi gen dari dirinya. Bahkan melebihi dari dirinya sendiri, namun untuk anaknya yang kedua ini. Elvan pun merasakan hal yang sama, sama-sama pusing.
Ya Tuhan, tolonglah hambaMu ini. Izinkan anak keduaku ini mewarisi gen dari ibunya saja, cukup Ezra yang mewarisi gen dariku. Jika Ara mengetahui kelebihan yang Ezra miliki, mungkin dia juga lebih pusing dariku. Oh Tuhan, Tolonglah. Elvan.
" Ayo masuk Sayang, sepertinya matahari sudah mulai terik. Itu tidak terlalu baik untukmu dan baby, ayo."
Mendengar ucapan Elvan yang benar adanya, Ara mengikuti arahan dari suaminya itu untuk masuk kembali ke kamar mereka.
__ADS_1