
" Heh, lihatlah. Anak nakal itu akan memberikanmu kejutan nak, bersiaplah."
" Apa?" Dengan nada bingung, Ara menanggapi perkataan Nany kepadanya.
Baru saja terkagetkan dengan perkataan Nany, tiba-tiba saja ia kembali dikagetkan oleh Elvan.
" Kemarilah!"
" A a aku?" Ara menunjuk dirinya sendiri menggunakan telunjuk.
" Ayo, turuti perkataannya." Nany membisikan ucapannya di telingga Ara.
Melangkah perlahan dengan wajah tertunduk, Ara mendekat kepada Elvan. Sebuah tangan melingkar pada pinggang rampingnya, dimana semua mata para pekerjanya membelalak terbuka lebar melihat perlakuan tuannya kepada Ara.
Tidak! Tuan Elvan melakukan hal itu kepada Ara? Tidak akan ku biarkan, dasar wanita penggoda. Awas saja dia. Friska.
" Dia adalah nyonya kalian, siapa pun yang berani menyentuhnya. Maka kalian tahu sendiri akibatnya, aku sangat tidak suka jika milikku tersentuh oleh orang lain. " Begitu tegas Elvan mengatakan kepada kepada orang-orangnya.
" Nyonya? Ara? Aaaa, Ara. Kamu ternyata nyonya kami. Kenapa tidak bilang dari dulu, aku kan jadinya nggak enak." Mila menghampiri Ara dan memeluknya erat.
" Eee, i i itu. " Bingung untuk menjelaskannya, Ara begitu kaget dengan apa yang telah Elvan katakan.
" Hem!" Suara deheman dari Elvan menyadarkan Mila.
" Eh, lupa. Nanti sambung cerita ya Ra." Mila berlari kembali mengikuti barisan para teman yang lainnya.
Pengumunan yang Elvan buat, bukan tanpa maksud. Dimana ia menemukan beberapa kejadian yang membuat wanita yang kini telah berstatus sebagai istrinya, diperlakukan tidak menyenangkan menurut dirinya. Dan itu telah memancing kemarahannya.
" Siapa diantara kalian yang bernama Friska?" Perkataan Elvan dengan tatapan tajam kepada semua pekerja dimansion miliknya.
Mendengar sebuah nama tersebut, semua para pekerja saling bertatapan satu sama lainnya. Namun tidak bagi yang memiliki nama, senyum manis dan lebar tersunging pada wajahnya. Begitu percaya dirinya, Friskan berjalan keluar dari barisana mendekati Elvan.
" Saya tuan, saya yang bernama Friska."
Mendapati orang yang ia maksud, Elvan mengisyaratkan pada Jefri menggunakan tangannya untuk membubarkan yang lainnya. Mengerti akan yang diinginkan oleh tuannya, Jefri segera membubarkan barisan pekerja.
" Jadi, kau yang bernama Friska?" Tanya Elvan dengan tangan berada pada saku celananya, menambah pesona pria itu dihadapan wanita.
" Benar tuan." Jawab Friska dengan tenang.
__ADS_1
" Jef, tunjukkan." Meminta orangnya untuk memperlihatkan sesuatu.
Jefri mengangguk, memutarkan kembali video yang sebelumnya sudah ia lihat bersama tuannya. Video itu ia perlihatkan kepada Friska, dengan hal itu. Matanya langsung melebar dan tubuhnya bergetar, menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya.
" I ini?" Friska sangat terkejut dengan apa yang ia lihat.
Berbagai aksi iri hati dan ketidaksukaannya pada Ara, terekam jelas oleh kamera pengintai yang telah terpasang diberbagai sudut pada mansion.
" Bagaimana? Apa kau sudah tahu akan kesalahan yang kau perbuat?" Elvan berdesis.
Mengetahui apa yang akan terjadi padanya, Friska segera berlutut dan mengeluarkan jurus handalan miliknya. Menanggis dan memohon ampun atas apa yang telah ia perbuat, bahkan ia sampai menyentuh sepatu yang digunakan Elvan.
" Maafkan saya tuan, saya benar-benar tidak sengaja melakukannya. Benar tuan."
Kedua wanita yang masih berada disana, ikut menyaksikan apa yang terjadi.
" Lihatlah, anak nakal itu mengumumkan yang harus diketahui oleh semuanya. Dia benar-benar mulai berubah, benar bukan?" Nany meminta tanggapan kepada Ara atas ucapannya.
Ara hanya menatap peristiwa yang ada dihadapannya, merasa belum percaya dengan apa yang ia lihat. Ada perasaan bahagia atas pengakuan dirinya, namun ada ruang kecil didalam hatinya yang masih merasakan perih.
Memohon dengan menyentuh bagian dari tubun tuannya, Friska hanya berpikiran untuk mencari simpatik dari Elvan.
" Maafkan saya tuan, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Masih dalam keadaan bersimpuh dihadapan kaki tuannya, kini sentuhan itu berpindah pada kaki. Memanfaatkam keadaan yang ada, Friska sungguh pintar dalam memanipulasi keadaan.
" Aaakh!!"
Terlihat jelas, Friska dengan cepat berpindah tempat dan menabrak sebuah vas pajangan berukuran besar. Karena hantaman tubuh Friska, vas itu telah berubah menjadi serpihan kecil.
Tidak ingin tubuhnya disentuh oleh orang lain, Elvan begitu tidak sudi tangan Friska menyentuh kakinya. Tanpa belas kasih, Elvan mengayunkan kakinya dan menendangnya dengan begitu kuat, hingga wanita itu terpental.
" Sebaiknya kau beristirahat saja dikamar, biarkan anak nakal itu menyelesaikan tugasnya." Nany menasehati Ara, agar tidak menyaksikan kenakalan dari Elvan.
" Tapi, .." Belum terselesaikan kalimat itu, Ara kembali menyaksikan aksi dari Elvan.
" Aaa! Ampun tuan!" Friska berteriak kembali, setelah rambutnya mendapat tarikan yang cukup kuat. Hingga terasa, seperti kulit kepalanya akan terlepas.
" Heh, mudah sekali." Seringai Elvan yang mendapati permintaan maaf yang begitu saja, dari orang yang telah menyakiti istrinya.
" Ampun tuan! Saya tidak akan mengulanginya lagi, maafkan saya." Dengan terisak-isak, Friska menahan rasa sakit pada tubuhnya yang semakin terasa.
__ADS_1
" Maaf?" Ujar Elvan.
Krak!
Krak!
" Aaaa, ampun!" Jeritan itu begitu lirih terdengar.
Menekan sepatunya dan menginjak kedua telapak tangan Friska, hingga terdengar suara patahan yang sangat keras. Hal itu membuat Ara merasa sangat tidak tega, terbiasa menghadapi hidup yang cukup keras. Namun tidak dengan hukuman seperti ya g ia saksikan, sempat Nany menahan dirinya untuk mendekati mereka. Sebagai wanita, Ara sungguh prihatin dan mendekati Elvan.
" Cukup, tuan bisa membunuhnya."
Mendengar suara wanitanya, Elvan melepaskan kakinya dari atas tangan Friska. Merubah ekpresi wajahnya yang semula terihat sangat menyeramkan, kini menjadi sangat lembut.
" Aku melupakan kehadiranmu, maaf."
" Bisakah tuan tidak menghukumnya seperti ini? Kesalahan apa yang telah ia lakukan, sehingga anda melakukan hal seperti ini?"
" Sepertinya, kau bertambah cerewet sekarang. Baiklah, lebih baik aku membawamu beristirahat saja. Jef, amankan dia."
" Baik tuan."
Dalam keadaan terluka dan tidak berdaya, Jefri memanggil satu orang bawahannya untuk membawa Friska dan meninggalkan mansion. Seakan tidak menghiraukan lagi tentang apa yang terjadi, Elvan menggendong tubuh mungil Ara secara mendadak.
" Aaaa, tuan!" Jerit Ara yang kaget dengan perlakuan Elvan padanya, kedua tangannua langsung melingkar erat pada leher pria kekar tersebut. Dan dimana tubuh Ara meronta dalam posisi seperti itu dan berharap untuk bisa diturunkan.
" Jika kau terus berbicara, aku akan membuatmu tidak akan bisa berbicara lagi."
" Hah? Ta ta pi, turunkan dulu saya tuan. Saya bisa jalan sen..mmpp."
Mencuri-curi kesempatan, Elvan langsung memberikan hukuman atas kecerewetan Ara padanya. Menyatukan bibir keduanya dan menahannya untuk beberapa saat, sampai dirinya mendapatkan pukulan pada bahunya dengan cukup kuat. Membuat bibir mereka berdua terlepas, Elvan pun merasa penasaran dengan apa yang menyakiti bahunya.
" Kau memukulku?!" Dengan heran Elvan menatap penuh tanya pada Ara, yang masih menetralkan nafasnya.
" Emmp, bukan. Tapi itu." Ara mengarakan jari telunjuknya ke arah belakang punggung Elvan.
Kemudian Elvan mengikuti arah yang diberikan kepadanya, betapa kagetnya ia melihat siapa pelakunya.
⚘⚘⚘
__ADS_1
Hayo, siapa nih yang dilihat Elvan?
Jangan lupa untuk meninggalkan jejaknya (komentar, vote, hadiah dan likenya ya). Terima kasih😊