Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
76.


__ADS_3

" Hugo! Lenyapkan mereka!" Suara Elvan begitu keras dan bergema di dalam mobil.


Mendapati Daddy yang seperti itu, Ezra segera memalingkan wajahnya. Begitu mobil tersebut sampai di mansion mereka, Ezra dengan terburu-buru keluar dari mobil dan berlarian memasuki mansion.


" Argh! Kenapa anak itu mengcopy karakterku, bukan Mommynya saja, sial." Erang Elvan yang menyaksikan sikap dari anaknya.


" Maaf tuan, maksud dari perkataan anda tadi?" Hugo yang tidak terlalu peka dengan ucapan Elvan.


" Ya Tuhan! Apa lagi ini, Hugo! Sudah berapa lama kau bekerja denganku, hah! Ah, sudahlah! Hari ini moodku benar-benar hancur."


Melihat tuannya itu sudah hilang dari pandangannya, Hugo menjadi semakin bingung.


" Memangnya, tuan tadi bilang apa? Aku benar-benar tidak memahaminya." Hugo merasa dirinya semakin terjebak dalam karakter kedua tuannya tersebut.


......................


" Boy, boy!" Teriak Elvan memanggil anaknya.


Saat kakinya akan melangkah menaiki anak tangga, terdengarlah suara yang begitu membuatnya berhenti.


" Bee, ada apa?" Ara yang baru saja keluar dari dapur, mendengar suara suaminya itu berteriak cukup kencang.


" Oh sayang, maafkan aku." Elvan segera menghampiri Ara dan memeluknya.


Merasa heran dengan sikap suaminya, Ara mengkerutkan keningnya. Setelah Elvan melonggarkan tangannya dari tubuh Ara, kedua pandangan mereka bertemu satu sama lain. Seakan berbicara dalam pandangan tersebut, yang tidak menemukan jawabannya.


" Hh, ada apa Bee? Sepertinya ada sesuatu yang terjadi, kenapa jam segini sudah pulang?" Ara belum mengetahui peristiwa yang dialami oleh Ezra, bahkan saat puteranya tersebut memasuki mansion ia pun tidak tahu.


" Sayang, apa kamu melihat Boy?" Tanya Elvan.


" Ezra?" Jawab Ara dengan heran.


" Ya, Ezra putera kita."


" Bukannya Ezra sedang sekolah Bee, ya pasti dia masih disekolahnya."

__ADS_1


Kepala Elvan sedikit berdenyut memikirkan bagaimana caranya untuk menjelaskan kepada istrinya, mengenai kejadian yang dialami oleh puteranya.


" Bee."


" Baiklah, sebaiknya kita lihat ke kamarnya." Elvan membawa Ara menaiki anak tangga menuju kamar puteranya.


Dalam hati Ara terus bertanya-tanya, apa yang sudah terjadi. Suaminya yang biasanya sibuk dengan pekerjaannya, akan tetapi di jam-jam sibuknya ia malah sudah berada dirumah. Namun ia tidak ingin berpikiran buruk, Ara mengikuti ajakan dari Elvan untuk melihat anaknya.


Tok tok tok!


" Boy, Daddy dan Mommy ingin masuk." Ujar Elvan dari balik pintu, hal itu semakin membuat pikiran Ara tidak karuan.


" Bee, bukannya Ezra sedang disekolah?"


" Ssttth." Elvan hanya meletakka jari telunjukkanya di depan bibir mungil Ara.


Tidak menunggu lama, terdengar suara handle pintu yang bergerak.


Klek!


" Mom." Dengan menjawab pelan, Ezra dapat menangkap raut wajah Ara yang menatapnya sangat dalam.


" Kita bicara di dalam saja, ayo sayang." Elvan mengandeng Ara dan mengarahkan Ezra untuk ikut bersama mereka.


Kini Ezra sudah sangat pasrah dengan situasi yang ia hadapi kali ini, ia akan bisa bersitegang pada Daddynya namun tidak untuk sang Mommy. Setelah semuanya duduk dengan tenang, Elvan mendekatkan dirinya bersama Ara.


" Kalian berdua kenapa? Terlihat sangat 1aneh sekali, coba jelaskan." Ara yang sudah tidak sanggup menghadapi kelakuan kedua prianya.


" Boy. Daddy atau dirimu yang menjelaskan?" Lirikan mata Elvan sungguh membuat Ezra tak berdaya.


Awal mulanya Ezra hanya bisa menundukkan kepalanya, setelah mendengar ucapan dari sang Daddy. Ia pun mengumpulkan semua keberaniannya untuk berbicara.


" Mom." Ezra mengangkat wajahnya dan terlihatlah terdapat luka disana.


" Ezra! Ada apa ini nak? Kenapa bisa begini?" Terlihat jelas jika Ara sangat kaget dan khawatir atas keadaan dari anaknya.

__ADS_1


"Em Mom, maafkan Ezra."


Raut wajah Ara semakin bingung, dengan perlahan Ezra menceritakan tentang apa yang ia alami hari ini dan juga sebelumnya. Mendengar jika kejadian tersebut sudah dialami oleh anaknya sejak lama, dan seketika itu darah Elvan mendidih. Terbukti dengan kepalan tangan Elvan yang begitu kuat, memperlihatkan urat-urat tangannya. Begitu pun dengan Ara, ia merasa seakan kecolongan terhadap puteranya.


" Akan kubuat mereka tidak bisa bernafas lagi!" Erang Elvan yang sudah tidak bisa menahan amarahnya.


Merasa mood suaminya semakin memburuk, Ara menggenggam tangan Elvan dan mengusapnya perlahan.


" Jangan pernah membiarkan amarah menguasai dirimu, Bee. Semuanya bisa diselesaikan dengan baik, tidak perlu dengan seperti ini."


Memejamkan kedua matanya, Elvan berusaha menetralka emosi di dalam dirinya yang masih begitu besar. Entah mengapa, amarah yang semulanya sudah siap untuk meledak. Setelah mendengar perkataan dan sentuhan dari istrinya, amarah itu perlahan memudar. Walaupun tidak sepenuhnya hilang, paling tidak ia bisa berdamai dengan semuanya pada saat itu.


" Ezra, Mommy percaya padamu nak. Semua yang sudah terjadi, jadikan sebuah pelajaran untuk lebih baik lagi. Jangan menaruh dendam, itu sangat tidak baik."


" Bee, belajarlah untuk tidak mendepankan amarah. Bukannya menyelesaikan masalah, yang ada akan semakin menambahnya. Belum tentu sepenuhnya mereka salah, ini permasalahn yang membutuhkan penyelesaian. Bukan memberikan hukuman yang semakin membuat mereka tidak bisa menikmati hidupnya, berjiwa besarlah."


Berdengus sedikit kesal, Elvan sunggun tidak bisa menebak jalan pikiran istrinya. Terlalu baik atau terlalu polos, namun ia merasa nyaman dengan semuanya itu.


" Hem, baiklah. Tapi ada satu syaratnya, bagaimana sayang?" Pikiran untuk bermain licik terlintas di kepala Elvan.


Sang putera mereka hanya bisa memutar tubuhnya untuk tidak menyaksikan rayuan gombal dari Daddynya, sungguh jatuh harha diri soerang Elvan jika sudah berdekatan dengan Ara.


" Tunggu! Ezra. Obati lukamu dulu nak, jangan dibiarkan terlalu lama terbuka seperti itu. Bee, lebih baik kita bicaranya nanti saja. Akan membutuhkan waktu yang cukup lama jika sudah membahas syarat darimu."


Meninggalkan kedua prianya, Ara berdiri dan berjalan menuju kegiatannya yang semula ia lakukan. Yaitu beraktivitas masalah perdapuran, namun sepeninggalan Ara. Kedua pria itu masih saling bertatapan dengan cukup tajam.


" Dad, kembalikan semuanya milik orangtua Justin. Jangan sampai Mommy mengetahuinya." Ezra yang sudah mengetahui perbuatan Daddynya.


" Heh, tidak semudah itu boy. Biarkan mereka menerima hukuman dari Daddy, Daddy tidak akan menghukumnya lebih dari itu."


" Ayolah Dad, jangan membuat Ezra semakin tersudutkan di sekolah. Biarkan Ezra menjadi siswa biasa seperti yang lainnya, kalau Daddy begini. Yang ada nanti Ezra menjadi pusat perhatian, itu semakin membuat Ezra tidak betah Dad." Semua apa yang Ezra rasakan, kini sudah tersampaikan kepada Elvan.


" Huh, kau dan Mommy sama saja. Selalu membuat Daddy tidak bisa berbuat apa-apa, jika bukan karena Mommy. Temanmu dan keluarganya itu, akan Daddy buat menjadi abu. Biarkan mereka seperti ini untuk beberapa hari ke depan, jangan menawar lagi boy. Daddy sudah terlalu baik dengan semuanya, oke." Sebelum meninggalkan anaknya, Elvan menunjuk wajah Ezra agar puteranya itu segera mengobati lukanya.


Akhirnya, hanya Mommy yang aku pikirkan. Jika tidak, aku akan melakukan seperti yang Daddy lakukan untuk mereka. Ezra.

__ADS_1


__ADS_2