
Setelah kembali dari penyekapan atas dirinya, kini Ara sudah berkumpul kembali bersama keluarga kecilnya. Bahkan baby yang begitu amat ia rindukan, kini terlihat terus menempel pada dirinya.
" Maafkan Mommy sayang, kamu pasti kangen dan rewel ya nggak ada Mommy." Guman Ara yang sedang bermain bersama anaknnya.
Baby pun ikut berceloteh sambil bermain bersama Ara di tempatnya bermain, Elliza melihat anaknya tersebut meneteskan air matanya. Bagaimana bisa anaknya tersebut menjadi kuat dalam menjalani perjalanan hidupnya, bahkan dalam kehidupannya selalu dipenuhi oleh ujian. Tak ingin Ara melihatnya menanggis, Elliza segera meninggalkannya.
Tak lama kemudian, suara langkah laki yang sudah begitu tidak asing di telinga Ara. Membuat dirinya mengarahkan pandangannya menuju sumber suara.
" Bee." Ara segera berdiri dan menghampiri memeluknya.
Kedua tangan kekar itu menyambut tubuh mungil dari wanita yang dahulunya ia sebut dengan tikus kecil, dan kini tikus kecil itu telah berubah menjadi singa betina yang menguasai seluruh jiwa dari seorang Elvan.
" Bee." Ara meluapkan rasa rindu dan khawatirnya pada pria yang sangat ia cintai.
" Hem, jangan menangis sayang. Aku sudah kembali." Elvan mengangkat tubuh Ara yang mungil dan mereka mendekati baby sedang asik bermain sendiri di taman bermainnya.
" Bee, turunkan. Apa tanganmu tidak sakit?" Ara teringat jika suaminya itu mendapatkan luka pada tubuhnya.
" Ssstt." Elvan menurunkan Ara darinya dan ia bergabung bersama baby.
Baby begitu gembira menyambut kedua tangan Elvan yang akan menariknya ke dalam pelukan Daddynya, gelak tawa bergema dari suara lucu yang baby lontarkan. Namun wajah Ara masih terlihat datar, menatap luka pada punggung dan lengan suaminya itu masih terbuka yang belum mendapatkan pengobatan. Sentuhan tangan itu mendarat pada luka pada tubuh Elvan, Ara menjauh dan secepat mungkin mengambil kotak yang berisikan peralatan luka di kamarnya.
__ADS_1
" Letakkan saja baby untuk bermain Bee, tidak baik membiarkan luka itu terlalu lama terbuka." Dengan mata yang berkaca-kaca, Ara mengucapkan perkataan untuk suaminya.
Seakan merasakan apa yang Ara ucapkan padanya, Elvan menurutinya. Baby yang sedang begitu antusiasnya untuk bermain, sangat tertarik dengan berbagai mainan dengan berbagai bentuk dan juga warna. Sehingga mereka merasa aman untuk sementara membiarkan baby bermain.
" Bee." Tegur Ara yang masih melihat suaminya itu berdiam diri memandangi baby.
Senyuman manis terukir dari wajah Elvan, lalu ia kembali mendekati istrinya yang sudah memanggilnya berulang kali. Dengan perlahan Ara membantu membuka pakaian yang Elvan kenakan saat itu, beberapa saat Ara memejamkan matanya ketika melihat luka yang berada pada tubuh suaminya. Tangan mungil itu bergetar disaat akan membersihkan luka tersebut, lalu tiba-tiba tangan Elvan menangkapnya.
" Jangan memaksakan diri jika tidak sanggup untuk melihatnya." Elvan merasakan jika tangan Ara masih bergetar.
" Tidak apa-apa Bee, jika dibiarkan terlalu lama. Lukanya nanti bisa infeksi." Ara melepaskan senyuman dan tangannya mulai dengan perlahan membersihkan luka tersebut.
Elvan sungguh merasa gemas dengan sikap istrinya pada saat itu, ia tahu jika Ara merasa takut saat melihat luka yang ada pada tubuhnya. Sedangkan dirinya, sudah terbiasa dengan berbagai luka disaat pertarungan terjadi. Bahkan nyawanya sendiri hampir melayang karena pertarungan tersebut, namun hal itu tidak membuat Elvan menjadi takut.
" Mau kemana?" Tanya Elvan yang sudah membelai rambut Ara dengan lembut.
" Mengembalikan ini." Menunjukkan kotak yang baru saja ia gunakan.
Dengan cepat kotak tersebut telah berpindah tempat, tangan Elvan melempar kotak tersebut kesembarangan arah. Lalu ia membawa tubuh mungil Ara ke dalam dekapannya, sungguh saat itu ia merasakan kelelahan yang sangat luar biasa atas semua peristiwa kekacauan yang terjadi.
" Bee."
__ADS_1
" Ssshhh. Biarkan seperti ini dulu sayang." Elvan meletakkan kepalanya untuk bertumpu pada bahu Ara.
Begitupun pada Ara, ia melihat guratan-guratan kelelahan yang terpampang begitu sangat jelas pada wajah sang suami. Ia membiarkan hal tersebut, agar Elvan merasa nyaman. Tangan mungil itu mulai mengusap kepala suaminya lalu memeluknya, dengan harapan dapat mengurangi rasa lelahnya.
Terima kasih atas semuanya, Bee. Sungguh besarnya tanggung jawabmu untuk melindungi kami (Ara dan baby), aku takut suatu saat nanti duniamu ini membuatmu semakin terluka. Berjanjilah untuk selalu berada didekat kami, aku dan baby sangat mencintaimu. Ara.
" Mbruu, mbruu."
Suara celoteh baby terdengar sangat menyenangkan, tanpa disadari. Baby telah berdiri dan berpegang pada pagar pembatas tempat ia bermain, hal itu membuat Ara yang melihatnya. Segera melapaskan pelukannya dari tubuh Elvan.
" Baby! Bee, lihat!"
Membukan mata yang sudah terlelap, Elvan pada akhirnya menuruti perkataan dari Ara. Begitu ia membuka matanya, Ara membawa wajah suaminya itu untuk menyaksikan pemandangan yang begitu menakjubkan.
" Baby!" Elvan pun tak kalah kagetnya.
Atas hal itu, Elvan menepikan tubuh Ara dari dirinya. Lalu ia segera menghampiri baby yang masih asik berpegangan dan sedikit berayun-ayun.
" Hei boy! Benarkah ini?!" Rasa sakit dan lelah yang sebelumnya mendera tubuh Elvan, kini telah hilang dengan sempurna melihat tingkah dari baby yang menggemaskan.
Kejadian itu membuat Elvan langsung asik berinteraksi dengam baby, melupakan Ara yang berada disana dengan wajah cemberutnya.
__ADS_1
" Dasar Daddy dan anak, sama saja! Sepertinya aku akan mulai dilupakan oleh kedua pria ini, awas saja kalau merengek nantinya."