Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
117.


__ADS_3

Hari bahagia pun tiba, setelah berhasil menemukan anak mereka yang terpisah dengan waktu yang cukup lama. Kini, Ray dan Bella resmi melangsungkan hari pernikahan mereka. Suasana yang sederhana, permintaan dari Bella. Dengan berkumpulnya seluruh anggota keluarga dan juga beberapa relasi bisnis mereka, dan saat ini mereka berdua telah resmi menjadi sepasang suami istri.


" Selamat Bu, Ayah. Semoga kebahagian ini akan berlangsung sampai waktu memisahkan." Ara mengucapkan selamat kepada Bella dan Ray.


" Terima kasih sayang." Senyuman Bella dengan penuh kebahagian, memeluk Ara.


" Terima kasih atas doamu nak, mana suamimu? Jangan terlalu memanjakannya, nanti dia kebiasaan selalu mengekor padamu sayang."


" Hal itu tidak akan terjadi Ayah, jangan-jangan. Nanti malahan Ayah yang akan lebih manja kepada Ibu, benar kan bu." Ara menggoda Kedua orangtuanya dengan.


" Aduh, kepikiran sama umur nak. Malu-maluin aja, lebih baik Ibu bermain dengan cucu-cucu Ibu yang sedang menggemaskan. Kalau Ayahmu ini, biarkan saja."


" Apa! Oh tidak bisa sayang, walaupun umur kita sudah meranjak senja. Kita berhak untuk merasakan sebagaimana pengantin baru, walaupun sudah telat."


Plak!


" Eh! Kenapa kalian berdua memukuli Ayah? Memangnya Ayah salah?" Protes Ray saat kedua wanita tersayangnya memberi pukulan pada keduan lengannya.


" Ya ampun Ray! Malu sama anak, masa kamu berbicara seperti itu. Dasar! Sudah nak, lebih baik kamu menyusul suamimu. Jika berlama-lama bersama Ayahmu ini, Ibu tidak menjamin kalian bisa berhenti berdebat." Bella tidak ingin adu debat diantara Ayaj dan anak berlanjut.


Ara tertawa dengan sangat renyah, melihat kedua orangtuanya kini telah bersatu. Lalu ia berjalan mendekati Elvan yang sedang berbicara bersama salah satu kolega bisnis mereka, tak lupa melingkarkan tangannya pada lengan Elvan.


" Sayang." Sapa Elvan dengan lemah lembut.


" Bee, bisa bicara sebentar." Ara tersenyum kepada lawan bicara dari suaminya, tak lupa ia mengatakan sesuatu yang merasa janggal.


Mengakhiri pembicaraan dan undur diri dari pertemuan tersebut, Ara membawa Elvan menuju suatu sudut ruangan. Hal itu malah disalah artikan oleh dirinya, ia menggira jika Ara menginginkan kemesraan diantara mereka.

__ADS_1


" Ada apa sayang, nanti saja dirumah ya. Dan satu lagi, jangan sembarangan memberikan senyuman kepada orang lain. Apalagi itu laki-laki, aku sangat tidak suka sayang." Dengan senyuman gombalnya Elvan menyeringai.


Plak!


" Ini serius Bee." Mendeplak lengan suaminya dengan cukup kuat, membuat Elvan mengkerutkan dahinya.


Mengisyaratkam dengan bahasa tubuh, Elvan meminta Ara untuk menjelaskan tentang apa yang menjadi tujuan istrinya itu membawa dirinya.


" Bee, aku merasa ada yang tidak beres pada pesta Ayah dan Ibu. Banyak wajah asing yang membuatku merinding, coba lihatlah." Walaupun Ara yang tidak begitu mengenal kolega bisnis suami dan Ayahnya, namun ia bisa merasakan keanehan yang terjadi.


Setelah mendengar penuturan dari istrinya, Elvan langsung menggerakkan bola matanya untuk mencari kebenaran atas apa yang dikatakan Ara padanya. Dan benar saja, Elvan mendapati jawabannya. Tangan Elvan melingkar pada pinggang Ara, membawa tubuh itu untuk semakin mendekat kepadanya. Menghubungi orang-orangnya untuk bersiaga serta mengamankan keluarganya.


" Bee, anak-anak!" Wajah Ara sudah berubah menjadi sangat khawatir, mengingat jika keberadaan anak-anaknya saat ini.


Elvan pun tampak kaget, bagaimana bisa ia melupakan keselamatan anak-anaknya. Segera ia membawa Ara menjauh dari kerumunan disana, salah satu orang kepercayaan Ray juga tampak sedang membisikkan sesuatu kepadanya.


Secara tiba-tiba semua penerangan disana menjadi padam, terdengar suara ledakan kecil yang cukup membuat suasana menjadi riuh. Teriakan dan juga lalu lalang dari semua tamu undangan yang ada, membuat tempat tersebut menjadi begitu tegang.


" Ada apa ini Ray? Ara! Ara dan yang lainnya bagaimana Ray?" Bella pun tampak panik dan sangat mengkhawatirkan anak dan juga cucunya.


" Tenang saja, Elvan pasti sudah membawa mereka ke tempat yang lebih aman. Ayo."


Mereka bergegas menuju tempat yang sudah diamakan oleh anggotanya, disana juga terdapat Elliza dan yang lainnya. Mereka saling bertanya dan mencari apa yang menjadi permasalahan sehingga terjadi hal seperti ini.


" Semoga hal ini cepat teratasi, tapi.." Elliza melebarkan matanya menatap Bella dan juga Nany.


" Ara!" Ucap mereka dengan bersamaan.

__ADS_1


Bella memeluk Erza dan baby yang terlelap tidur, air mata itu sudah tak terbendung lagi untuk mengalir dengan sendirinya.


Namun dalam diamnya, Ezra menatap kosong pada pandangan dihadapannya. Di telinganya tergiang nama sang Mommy, kedua tangannya mengepal dengan begitu kuat.


Sedangkan Elvan dan Ara, kini mereka berdua berada di suatu ruangan yang cukup jauh dari tempat keluarganya berada.


" Bee, kita dimana? Anak-anak bagaimana?" Ara sangat khawatir.


" Tenang sayang, yakinlah mereka sudah ditempat yang aman. Tunggu sebentar disini, aku akan melihat keadaan sebentar."


" Tapi Bee, a aku takut." Tubuh Ara sedikit bergetar dengan tangisannya.


Cup!


" Tenang saja, sayang." Elvan mencium kening Ara dan beranjak dari posisinya sejenak untuk melihat situasi yang ada, karena beberapa orang sedang mengikuti mereka dengan menembakkan senjata.


Melihat keadaan disana cukup aman untuk bergerak, Elvan kembali untuk membawa Ara. Dalam keadaan tidak membawa senjata, Elvan hanya bisa mengandalkan kekuatannya. Namun ia tidak bisa egois untuk menghadapi musuhnya saat itu, karena Ara ada bersamanya dan itu sangat beresiko untuk keselamatan istrinya.


" Ara!"


" Ara!"


Teriak Elvan saat ia tidak menemukan keberadaa Ara pada tempat semulan, dalam keadaan gelap. Elvan menelusuri setiap sudut disana, akan tetapi hasilnya nihil.


" Bre***ek!!"


Merasa telah kecolongan, Elvan meninggalkan tempat tersebut untuk mencari keberadaan Ara. Terlihat beberapa orang tidak dikenal mengarahkan senjatanya kepada Elvan, mereka telah mengepung tempat tersebut.

__ADS_1


" Dimana istriku, katakan!!' Ancam Elvan saat berhadapan dengan musuhnya.


Tidak ada jawaban yang ia dapatkan, dengan beraninya mereka mulai menyerang Elvan dari beberapa arah. Mereka tidak mengetahui siapa sebenarnya Elvan, dan kini. Mereka telah membangkitkan kembali jiwa psycopathnya yang telah lama ia sembunyikan, apalagi dengan tersentuhnya orang yang sangat ia cintai.


__ADS_2