
Mendengar adanya kegaduhan yang terjadi, membuat Nany dan Elliza turut andil. Menatap cucu pertama mereka yang sedang asik bermain dengan hewan peliharaan barunya, lalu mereka membiarkannya dan beralih menuju ruang utama. Mendengar penjelasan dari Hugo, membuat Nany tidak ingin ikut campur. Ia menepuk bahu Elliza yang terlihat sedang menahan amarahnya.
" Bicarakan baik-baik, tidak ada yang ingin berbuat kesalahan. " Nany berlalu meninggalkan ruang utama.
Dalam tatapan tajamnya, Elliza melihat kedua orang yang mengaku sebagai orangtua kandung dari Ara. Tidak ingin egois, Elliza ikut duduk bersama dengan mereka.
" Apa benar, kalian adalah orangtua dari Ara puteriku? Lebih tepatnya adalah puteri angkatku."
Betapa kagetnya Bella dan Ray, mengetahui jika orang yang sedang berhadapan dengan mereka itu adalah orangtua angkat Ara.
" Memang benar, kami adalah orangtua kandung dari Arabella. Kami bisa membuktikan hal itu, karena selama ini kami sangat kehilangan anak kami. Bahkan keberadaannya pun tidak kami ketahui." Ray mengatakan hal tersebut kepada Elliza.
Rasa sesak yang Elliza alami saat ini, adalah akibat dari dirinya untuk menahan semua amarahnya terhadap kedua orang yang berada dihadapannya. Tidak ingin menyalahkan siapapun, karena ia juga sangat merasa bersalah dengan kehidupan Ara.
" Apa kalian tahu, bagaimana kehidupan anak kalian selama ini?" Tanya Elliza dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Seakan-akan ia ingin mereka tahu, betapa sulitnya kehidupan anaknya selama ini.
" Sungguh, kami tidak mengetahui bagaimana kehidupan Ara selama ini. Bahkan usaha yang kami lakukan untuk mencarinya selama ini, selalu gagal. Namun kali ini, kami baru berhasil menemukannya. Kami sangat berterima kasih kepada anda, yang telah merawat Ara sampai saat ini." Ray begitu lancarnya berbicara menjawab ucapan Elliza.
Namun siapa disangka, Elliza tiba-tiba saja berdiri dari duduknya dan menatap kedua orang tersebut.
" Selamat, karena sudah menemukan anak kalian kembali. Tapi aku mohon pada kalian, jangan coba-coba untuk merebut ataupun membawanya pergi dari sini. Apalagi sampai kalian memaksanya, sampai kapanpun aku tidak akan memberikan Ara pada kalian. " Dengan begitu tegas, Elliza menyatakan kepada mereka.
" Tapi Ara adalah anak kami, kami berhak melakukan apapun kepadanya. Bahkan jika kami ingin membawanya kembali, itu adalah hak kami. Kalian tidak berhak untuk melarangnya!"
"Jika itu terjadi, bersiaplah untuk berperang denganku tuan! Tanya pada istrimu itu, bagaimana jika anak yang sudah ia asuh dan menganggapnya sebagai anak sendiri. Dibawa pergi begitu saja oleh orang yang baru saja mengakuinya sebagai seorang anak, apa yang dia rasakan, hah! Dasar kalian berdua tidak tahu malu, Hugo. Tolong kau awasi orang ini, aku rasa mereka akan melakukan hal licik untuk merebut anakku!" Elliza meninggalkan ruang utama dengan tidak menghiraukan tamu tak diundang tersebut.
__ADS_1
Rahang dan jemari tangan Ray mengeluarkan bunyi seperti retakan, ia merasa sangat terhina dengan ucapan yang dilontarkan oleh Elliza kepadanya. Bahkan Bella tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, karena ia membenarkan apa yang diucapkan oleh Elliza.
" Bella, jangan terpengaruh oleh ucapan wanita itu. Bertahanlah, sebentar lagi kita akan membawa Ara kembali bersama kita." Ray berharap, jika Bella tidak terpengaruh oleh ucapan Elliza.
......................
Keluar dari kamar sang kakak, Rara menuruni anak tangga melewati ruang utama. Namun ia tidak ingin melihat apa yang terjadi disana, tujuannya kini adalah mencari keponakan pertamanya.
" Nany, apakah kau melihat keponakanku yang sangat tampan itu?" Tanya Rara yang saat itu berpapasan dengan Nany.
" Kau cari saja dia dihalaman belakang, jangan mengomel jika kau sudah bertemu dengannya."
Melihat Nany yang menjauh, Rara tampak berpikir dengan sangat keras.
Apa maksud Nany? Kenapa ucapannya tidak berbeda jauh artinya dengan yang kakak ucapkan. Rara.
" Hallo keponakanku yang sangat tampan, ada apa ini? Kenapa mereka seperti sedang ketakutan" Rara melangkahkan kakinya mendekati Ezra yang saat itu sedang tertawa.
" Hai aunty, Ezra hanya sedang bermain saja. Apa aunty mau ikutan?"
" Permainan? Permainan seperti apa yang kalian lakukan, kok ekpresi wajahnya seperti orang ketakutan." Rara yang belum mengetahui keberadaan dua L.
" Beneran ni, aunty mau ikutan?"
Tampak semua wajah maid dan juga beberapa anggota dari dunia bawah menggelengkan kepala mereka kepada Rara, namun apa mau dikata. Rara belum mengetahui sumber katakutan itu, memilih mengiyakan perkataan dari sang keponakan.
__ADS_1
" Baiklah, sekarang aunty diam saja disitu ya. Nanti akan Ezra perkenalkan anggota baru disini, nah. Sekarang, aunty boleh menyapa mereka."
Mengkerutkan keningnya, Rara merasa bingung dengan ucapan Ezra mengenai anggota baru. Ia mengedarkan pandangan matanya keseluruh sudut yang bisa digapai oleh matanya, namun nihil.
" Hei bocah, kau mempermainkan aunty ya. Dimana anggota barunya, jika ia tampan sepertimu. Akan aunty jadikan sebagai pacar."
" Auntu yakin?" Tanya Ezra dengan wajah sinisnya.
" Memangnya, aunty terlihat seperti main-main apa? Ayo, dimana mereka."
Senyuman seringai dari Ezra, mengisyaratkan akan terjadinya lagi adegan yang sangat menegangkan. Memberikan beberapa isyarat menggunakan tangannya, lalu ia tersenyum.
" Ayolah Ezra, jangan mempermainkan aunty."
Semua mata tampak terbelalak dengan apa yang mereka lihat saat itu, namun Rara belum menyadarinya. Dan tiba saatnya, pada kaki Rara merasakan gesekan seperti kucing yang mengeluskan kepalanya pada kaki tuannya. Tanpa curiga, Rara memutarkan wajahnya untuk melihat apa yang berada dikakinya.
Satu...
Dua...
Tiga...
" Yyyaakkk!!!"
" Ezra!!!"
__ADS_1
Rara kaget dan seketika itu berlarian menghindari dua L yang begitu senang mengejarnya.
" Dasar keponakan sama bapaknya sama saja, kalian benar-benar sama kurang kerjaan!! Kak Elvan, kakak ipar. Tolong!!"