
Kehidupan akan tetap terus berjalan, begitu juga yang terjadi pada keluarga kecil dari seorang Elvan.
Sang anak yang selama ini dipanggil baby, kini umurnya sudah beranjak tujuh tahun. Ezra Aristides, dengan wajah perpaduan dari kedua orangtuanya.
" Mom, hari ini tidak udah masuk sekolah dulu ya." Ucap Ezra yang saat ini sedang menikmati sarapan paginya.
" Memangnya ada apa, sayang? Bukannya disekolah banyak teman dan mengasikkan."
" Membosankan."
Ara hanya bisa menghembuskan nafasnya perlahan, ini sudah kesekian kalinya Ezra menolak untuk pergi ke sekolahnya. Berbagai bujuk rayu sudah ia berikan, namun hasilnya tetap akan nihil.
" Baiklah, Ezra boleh tidak bersekolah. Asalkan mendapat izin dari Daddy, oke." Ara sengaja membawa nama sang suami, karena anaknya itu amat segan dengan Daddynya.
" No Mom." Protes Ezra kepada Mommy.
Namun hal itu mendapat sanggahan dari Ara, dengan mengangkat tangannya dihadapan wajahnya. Menggerakkan satu jari telunjuknya ke kiri da kekanan, sebagai isyarat tidak ada bantahan dan penolakan. Dengan wajah cemberut, Ezra melanjutkan sarapannya.
" Pagi Mom, pagi Boy." Elvan yang baru saja tiba dari perjalanan bisnisnya, langsung menghampiri keluarga kecilnya.
Memberikan pelukan kecil serta kecupan pada pipi dan puncak kepala Ezra, lalu ia menghampiri istrinya yang teramat sangat ia rindukan.
" Pagi sayang." Elvan meraih tubuh Ara dari arah belakang dan melingkarkan kedua tangannya pada tubuh mungil itu.
" Bee? Kenapa tidak bilang kalau pagi ini pulangnya? Selalu saja." Ara memberikan pukulan kecil pada punggung tangan Elvan yang melingkar pada tubuhnya.
__ADS_1
" Kejutan sayang, aku sangat merindukanmu." Memberikan kecupan kecil pada leher jenjang Ara, Elvan hanyut dalam suasana.
Mereka lupa jika didekatnya ada mata kecil yang begitu tajamnya menatap mereka, namun bukan Elvan kalau tidak pura-pura. Ia akan selalu bersikap seperti itu dikala bersama sang istri, bahkan orang lain akan ia anggap tiada.
" Stop Bee, lihat putramu itu. Wajahnya sudah bertekuk seperti lipatan roti."
" Biarkan saja, aku sangat menginginkanmu sayang." Mulai keluarlah berbagai jurus handalan Elvan, saat akan merayu singa betinanya.
Ting ting, suara hentakkan sendok pada piring dan gelas terdengar gaduh. Ulah siapa lagi kalau bukan Ezra, ia juga bahkan tidak rela jika perhatian Mommynya habis diambil oleh Daddynya.
" Bee stop! Jika terus seperti ini, aku pastikan tidak akan ada olahraga lagi dalam satu minggu ini!" Ara memberikan ancaman agar Elvan melepaskan dirinya, walaupun sikap Elvan ini selalu terjadi.
" No no no, sayang." Akhirnya Elvan melepaskan tangannya dan sedikit menggeser tubuhnya, dengan memberikan cengiran yang mengandung seribu arti.
" Dasar! Dad, anakmu berulah lagi. Cobalah mendekati dan menasehatinya."
" Cobalah untuk mengajaknya bicara, sudah habis stock alasanku untuknya."
Mendengar hal tersebut, Elvan membawa gelas berisikan kopi miliknya dan ikut duduk bersama puteranya yang sedang menyantap sarapan.
" Ada apa boy? Jangan membuat Mommymu pusing lagi, cukup Daddy saja."
Ezra mendengar ucapan tersebut, hanya menolehkan wajahnya sebentar saja menatap Elvan. Hanya beberapa detik dengan menggunakan wajah datar dan dinginnya, lalu ia memalingkan kembali wajahnya.
" Boy! "
__ADS_1
Elvan sedikit menaikan nada bicaranya, ia sangat prustasi jika berhadapan dengan puteranya. Bagaikan pinang dibelah dua, baik sikap dan wataknya, tidak berbeda jauh dari Elvan. Bahkan Ezra melebihi dari Elvan dari kadar dingin dan datarnya, namun ia memiliki hati seperti Mommynya yang begitu lembut dan penyayang.
" Jangan membuat Daddy menghukummu, Ezra!"
Dengan nada bicara Elvan yang sudah meninggi, Ara pun harus mengambil alih semuanya. Ia hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar jika melihat kedua pria yang ia cintai ini bersitegang, baik Daddy maupun anaknya tidak ada yang mau mengalah.
" Huh! Selalu tidak mendapatkan solusinya jika mereka berdua sudah bertemu. Ezra, pergi kesekolah atau Mommy akan sangat marah padamu?!" Amat terpaksa, Ara harus memberikan ancamannya kepada sang anak.
Dimana Ezra begitu sangat menyayangi Mommynya, baginya Ara adalah segalanya di dalam hidupnya. Bahkan ia akan sangat cemburu jika Ara mengacuhkan dirinya dan berpaling kepada Daddynya, sungguh anak dan bapak yanh sama-sama posesif.
" Tapi Mom,"
" Ikuti atau tidak? Pilihan ada padamu."
Perkataan tegas dari sang Mommy, akhirnya membuat benteng pertahan dari seorang Ezra hancur.
" Baiklah Mom."
Melihat interaksi diantara ibu dan anak tersebut, membuat Elvan tersenyum.
" Kau memang yang terbaik, sayang. Boy, cepat berangkat ke sekolah. Paman Hugo yang akan menghantarkanmu."
" No Dad, aku mau paman Dion saja."
" Kenapa?"
__ADS_1
" Karena paman Dion tidak seperti paman Hugo, dia sama-sama menyebalkan sepertimu Dad. Dan itu sangat membuat moodku hancur. Mom, aku akan menunggu paman Dion saja. Percayalah aku tidak akan membolos, love you Mom."
Memberikan kecupan pada kedua pipi sang Mommy, lalu Ezra melangkahkan kakinya berjalan menuju pintu utama. Sedangkan Elvan hanya bisa berdengus kesal atas sikap anaknnya, dan Ara menggelengkan kepalanya dengan sikap kedua pria tersebut.