
Kehidupan pun terus berjalan, Maia yang saat ini sudah mengetahui semua rahasia mengenai Ara. Ia pun semakin dekat dengan keluarga tersebut, apalagi karena Ara sering meminta bantuan Maia untuk berbagi ilmu pelajaran yang sudah begitu lama ia tinggalkan.
" Ra, babynya menggemaskan sekali. Untung saja, Mommy dan Daddynya cantik juga tampan. Kalau tidak, akan aku culik dianya. " Maia memainkan pipi baby yang terasa sangat lembut.
" Kamu ini, oh iya Mai. Semenjak kejadian waktu itu, trio itu gimana? Aku takut, suamiku akan bertindak diluar sepengetahuanku. Kamu sudah tahukan akan kegilaannya kalau sudah berurusan dengan dunianya, apalagi yang berusaha menyakiti orang-orang yang ia sayangi." Dengan menghela nafas, Ara menatap anaknya yang sedang lucu-lucunya.
" Sudahlah, ngapain sih mikirin orang yang sudah jahat sama kamu Ra. Lebih baik kamu fokus saja dulu sama ni anak, dan suami kamu. Kasian tu suami kamu, semenjak kamu nggak sadar. Dia selalu disisi kamu terus, ah romantisnya kalian Ra. Nggak nyangka deh kalau dia suami kamu, ngomong-ngomong. Masih ada nggak ya, stock pria kayak suami kamu? Kalua ada, aku maulah." Dengan penuh gurauan, Maia menghibur Ara.
" Kamu ada-ada saja Mai."
Dengan adanya perkataan dari Maia, membuat Ara merasa bangga dengan kehadiran seorang Elvan didalam hidupnya. Walaupun disaat yang lalu, ia belum bisa menerima seutuhnya seorang Elvan. Namun dengan demikian, sekarang ia sudah memiliki tempat tersendiri didalam hatinya.
" Sayang." Suara berat terdengar dari arah pintu.
Terlihatlah Elvan berjalan mendekati mereka yang sedang asik bercerita, Maia langsung mengambil sikap untuk menjauh dari pasangan itu. Dengan perlahan ia berjinjit menuju pintu keluar, namun baru saja ia akan menoleh kepada pasangan itu, terlihat Elvan yang bermesraan.
"Aish, dasar pasangan tidak tahu malu. Nggak sadar apa, aku masih ada disini." Maia mempercepat langkahnya untuk keluar.
Sedangkan Elvan masih asik bercumbu mesra dengan Ara, dalam keadaan tidak siap.
" Mmpp, mmpp." Tangan mungil itu memukul dada Elvan dengan cukup kuat, akan tetapi kekuatan itu tidak akan ada artinya bagi Elvan.
Semakin ingin Ara melepas cumbuan dari suaminya, maka semakin kuat Elvan menekan tekuk leher Ara agar tidak terlepas. Bagaikan ikan yang akan kehabisan oksigen untuk bernafas, dengan terpaksa Ara harus menggigit bibir Elvan.
" Ah. Kenapa digigit, sayang." Menyapu bibirnya yang sedikit memerah, Elvan tetap tersenyum saat melihat Ara yang menatapnya dengan tajam.
" Mesum!" Geram Ara dengan sikap Elvan padanya.
" Lebih baik mesum pada istri sendiri, daripada mesum pada wanita lain. Benarkan baby?! Lihat Mommy masih mempertajam pandangannya pada Daddy." Elvan mengambil tubuh anaknnya yang tergelak tawa melihat tingkah laku kedua orangtuanya.
" Coba saja kalau berani! Jika itu terjadi, maka kamu tidak akan pernah melihat aku dan baby lagi!" Kedua tangan Ara berlipat didepan tubuhnya, memalingkan mukanya dari hadapan kedua pria yang sangat berarti dalam hidupnya.
__ADS_1
" Hahaha, lihat nak. Mommy cemburu, hahaha." Tertawa dengan begitu puasnya Elvan menanggapi sikap Ara.
Tidak terima dikatakan cemburu, Ara menyeranh Elvan dengan menggelitik tubuhnya. Serangan tiba-tiba itu membuat Elvan harus menyeimbangkan kekuatannya, agar baby mereka tidak terjatuh.
" Sayang, stop. Nanti baby jatuh, akh."
" Siapa suruh nuduh yang nggak-nggak, hah! Aku tidak akan pernah cemburu, buat apa cemburu dengan pria mesum dan kejam sepertimu." Ara merebut baby dalam pelukan Elvan.
" Wanita manapun akan mau denganmu, yang kaya, tampan. Namun itu tidak akan berlaku, setelah mereka mengetahui sifat kejammu." Membawa baby menuju balkon kamarnya, Ara merasa kesal akan perkataan Elvan padanya.
Melupakan keberadaan Elvan yang masih berada didalam kamarnya, Ara lebih memilih untuk berdua bersama anaknya. Berharap jika Elvan akan membujuknya dan meminta maaf atas ucapannya, namun setelah menunggu sekian lamanya. Sosok Elvan tak kunjung menyusulnya, perasaan Ara mulai tidak menentu. Ia pun berjalan dengan mengendap-endap seperti seorang pencuri, ia mengintip dari balik pintu balkon yang terbuka.
Tidak ada! Kemana dia, apa dia marah dengan ucapanku tadi? Kalaupun ia tidak marah, pasti dia akan menyusulku tadi. Hem, lupakan saja. Nanti juga dia akan menghampiriku, awas saja jika tidak. Aku benar-benar akan membuatnya meminta maaf duluan, dasar mesum. Ara.
......................
Sebelumnya...
" Hem, ada apa?" Elvan menerima panggilan dari ponselnya.
" Maafkan saya tuan, Arion kabur." Jelas Dion melalui ponselnya yang tersambung kepada Elvan.
" Tunggu disana!" Pembicaraan mereka pun terputus.
Mendengar laporan Dion kepadanya, seketika membuat emosi Elvan menjadi meninggi. Awalnya ia ingin menyusul istri dan anaknya, kini ia berbelok menuju ke luar kamar dengan begitu cepat. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia langsung mengendarai laju mobilnya dengan begitu cepat menuju markas miliknya.
Setibanya disana, ia langsung keluar dari mobil dan menuju tempat yang sudah ingin ia tuju. Liam yang menyambut kedatangan tuannya, tidak bisa berkata apapun. Hanya bisa mengikuti langkahnya yang sangat cepat.
Brak!!
" Jelaskan!" Suara Elvan meninggi dan bergema didalam ruangan.
__ADS_1
" Maafkan kami tuan." Dion begitu ketakutan dengan berhadapan dengan tuannya.
Flashback on.
Seperti biasanya, Dion menghantarkan makanan kepada Arion. Hal itu biasanya dilakukan oleh Liam, namun kali ini di alihkan pada Dion. Karena Rara sedang bertamu dan ada sesuatu yang harus ia diskusikan kepada Liam.
" Ini makananmu hari ini, makanlah." Dion meletakkan tepak makanan itu pada tempat yang biasanya.
" Ya, terima kasih. Aku bisa minta tolong sesuatu?" Tanya Arion kepada Dion.
" Sepertinya tidak bisa, kau bisa membicarakannya pada Liam saja." Dion langsung berbalik badan dan berjalan bermaksud untuk meninggalkan tempat tersebut.
" Kau akan menyesal karena tidak mau membantuku, teman." Suara Arion penuh dengan penekanan.
Menganggap hal itu hanya sebagai hal yang biasa, Dion tetap melanjutkan langkahnya. Namun disaat ia akan menutup pintu ruangan, tiba-tiba saja terdengar suara yang sangat mencurigakan di telingganya.
Dugh!
Melihat ke arah sumber suara, Dion memasang kuda-kudanya untuk berjaga-jaga. Tampak matanya menangkap bayangan Arion yang sudah berdiri tegap didepannya dengan beberapa orang yang berdiri dibelakangnya dengan menodongkan senjata kepada Dion. Dalam sekejap, ruangan tersebut telah dipenuhi oleh asap putih yang membuat sakit indera penciuman dan juga penglihatan.
" Bre***ek !!! Kalian menjebakku!" Dion berusaha mencari pengamanan untuk dirinya dengan menutup hidungnya, namun apa daya. Asap itu berisi racun yang dapat mengakibatkan kehilangan kesadaran, Dion pun telah menghirupnya.
" Akh! " Dion meraba di dalam kepulan asap, mencari pintu keluar.
Akan tetapi, orang suruhan Arion telah terlebih dahulu merencakannya sehingga tubuh Dion perlahan mulai tumbang.
" Kalian bereskan dia, jangan sampai ada yang curiga. Cepat." Perintah Arion kepada orang-orangnya.
Flashback off.
⚘⚘⚘
__ADS_1
Mohon maaf atas ketidaknyamanannya dalam bab ini, outhor salah dalam penulisan nama tokohnya. Dimana Arion menjadi Carlos, mohon maaf ya🙏.