
Perbincangan ke empat pria tersebut berlangsung dengan begitu tegang, bagaimana tidak. Mereka mulai menitikkan beberapa informan dan juga alat pengawas lainnya, untuk mengetahui siapa di balik dalang peristiswa peneroran yang terjadi.
Dibantu oleh kedatangan Azura, dia merupakan pemimpin dari kelompok yang sangat licik dalam mencari bukti pergerakan musuh. Namun ia tidak akan bisa menembus dan tidak berani pada sistem yang digunakan oleh Elvan, jika itu terjadi. Maka musnahlah semua kerja kerasnnya selama ini, bahkan ia bisa di asingkan ke tempat yang tidak ada penghuninya sekalipun.
" Jangan terlalu membicarakan hal ini, nanti saja." Elvam menolak untuk terlalu lebih jauh membahas apa yang akan mereka rencanakan.
" Selalu saja, aku akan menurutimu tapi bawa aku menemui kakak ipar dan keponakanku ya. Ayolah Van, sampai kapan kau harus menyembunyikan kakak ipar dariku. Aku adalah sahabatmu, apa kau takut jika nanti kakak ipar lebih tertarik padaku?! " Dengan menggunakan gaya centilnya, Azura menggoda Elvan.
" Wajah tampan tuan saja sempat di tolak oleh nona, apalahi wajahmu yang pas-pasan begini. Jauh sekali khayalanmu itu, Zura." Jack pun tak ingin kalah untuk mencemooh tamunya yang sudah sangat percaya diri.
" Apa! Beneran tu Van? Wah, aku semakin penasaran dengan kakak iparku itu. Bagaimana dia bisa menakhlukan orang sepertimu ini, sungguh luar biasa."
Cletak!
" Oww... Kenapan kau melemparku?! Aih, turun wibawaku terkena lempar pulpenmu ini, kenapa tidak sekalian pakai senjata saja." Protes Azura atas perbuatan Elvan padanya.
" Mulutmu itu harusnya aku potong saja dari dulu, tidak berhenti mengomel. Jack, kau atur jadwal pria ini untuk membantumu di perusahaan. Jangan sampai identitasnya diketahui, kalau tidak kau berikan tugas dia untuk menjaga Chupa. Aku mau pulang, aturlah." Elvan berdiri dari kursinya dan beranjak meninggalkan ke tiga pria yang masih terdiam dengan ucapannya.
Setelah Bayangan Elvan menghilang, Azura baru bisa mengeluarkan ucapannya.
" Jack, Chupa?" Azura bermaksud menanyakan siapa yang bernama seperti yang dikatakan oleh Elvan.
" Hahaha, yakin kau mau tahu?" Ledek Jack dengan tertawa.
Anggukkan kepala Azuran dan juga Gael, memberikan tanda jika mereka benar-benar ingin tahu.
" Baiklah kalau kalian memaksa, bisa kalian cari di internet. Makluk hidup yang suka memakan daging dan memiliki bulu tebal serta berbadan besar, ia akan kebal dengan cuaca dingin. Itulah jawabannya, bye." Jack segera menyusul langkah tuannya yang sudah terlebih dahulu darinya.
Dengan cepat dan lincah, Gael maupun Azura segera mencarinya di internet melalui ponsel mereka. Betapa kagetnya mereka mendapati jika makhluk yang dimaksud oleh Jack itu adalah beruang, seakan tidak percaya. Mereka berdua saling berpandangan, bergidik ngeri lalu mereka berdua pun ikut menyusul Elvan.
Setibanya mereka di mansion utama milik Elvan, dengan semangatnya Azura dan Gael terlebih dahulu memasuki mansion daripada sang pemiliknya.
" Hei! " Melihat kedua sahabatnya itu, membuat Elvan menjadi geram.
Bagaimana mungkin ia akan merelakan istri dan anaknya bertemu dengan manusia menyebalkan seperti mereka berdua, dengan cepat ia menyusulnya dan mendahului mencari keberadaan istri serta anaknya. Saat itu, Ara yang sedang asik bermain bersama baby di ruang keluarga. Ditemani oleh Nany dan juga Elliza, mereka pun dikagetkan dengan kedatangan Elvan yang secara tiba-tiba.
" Sayang!" Memeluk Ara dari arah belakang dan menyapa baby melalu wajahnya.
__ADS_1
" Bee, ada apa? Tumben-tumbenan kamu pulang seperti ini." Ara mendapati Elvan dengan penampilan yang berantakan dan juga nafas yang juga terputus-putus.
" Hei anak nakal, kenapa kamu langsung memeluk istrimu? Bersih-bersih dulu sana, jangan sampai tangan kumanmu itu menyentuh anakmu. Bisa terkena virus dia nanti, lagian kenapa juga kau pulang dengan sikap seperti ini." Nany juga merasa ada keanehan dengan sikap Elvan.
" Nanti Nany juga akan mengetahui siapa yang sudah membuatku begini, paling juga nanti malah Nany yang akan menggerutu." Pungkas Elvan menjawab perkataan Nany.
Nampak terlihat jika Nany sedang berpikir akan perkataan dari Elvan.
" Kakak ipar, dimana kau?! Kakak ipar." Suara teriakan Azura terdengar sangat keras dan juga bergema di dalam mansion.
Semua yang berada disana menjadi kaget, mendengar suara yang begitu asing di telinga mereka. Akan tetapi, Nany sepertinya sudah mengetahui siapa pemilik dari suara tersebut.
" Elvan! Jangan sembunyikan kakak ipar dariku!"
" Bee, siapa itu?" Ara semakin dibuat penasaran dengan apa yang terjadi.
" Huh, ada sahabatku yang sudah tidak waras datang kemari. Namun mereka berdua benar-benar menyebalkan, sayang. Pokoknya kamu nggak boleh dekat-dekat dengan mereka berdua, bisa-bisa nanti malah ketularan sifat mereka."
Tak lama kemudian, Azura menemukan keberadaan orang yang sangat ingin ia temui.
" Kakak ipar!" Langsung saja ia menghampiri Ara yang sudah ada pawangnya.
Puk!
Puk!
" Jiaaa..." Erang keduanya.
" Rasakan kalian, siapa suruh membuat kegaduhan seperti ini." Celoteh Nany.
Dengan kejadian tersebut, baby yang berada di dalam dekapan Mommynya tertawa begitu keras. Karena hal itu, Nany kembali memukulkan tongkatnya.
" Heek hek hek hek." (anggap saja itu suara baby tertawa ya😁)
Serasa sudah cukup, Nany menghentikan tongkatnya. Namun baby menanggis saat Nany menghentikannya, karena keduanya juga berhenti dari sikapnya untuk menghindari tongkat sakti milik Nany.
" Eak! Eak! Emm mmm eak!" Ara dan Elvan pun bertugas mendiamkan baby.
__ADS_1
" Aaah, aduh sakit sekali. Nany! Kenapa memukulku, kan sakit. Mana malu lagi." Protes Azura kepada Nany.
" Ini lebih kejam daripada berperang bos, Nany dengan sekuat tenaga memukulnya. Tulangku rasanya ingin lepas semua." Gael pun ikut menambahi protes Azura.
Mendapati dirinya diprotes oleh kedua pria tersebut, dengan senang hati pula Nany kembali mengayunkan tongkat andalannya untuk memberikan pelajaran kembali.
" Ampun Nany, habis sudah karismaku terkena pukulanmu Nany!" Azura berteriak lantang.
" Siapa suruh kalian datang kemari dengam cara tidak sopan seperti ini, hah! Tidak ada sopan-sopannya."
" Nany! Aku rindu padamu, tapi aku ingi ln bertemua dengan kakak ipar dulu."
" Tidak pernah berubah, sopanlah sedikit jika bertamu kerumah orang. Aih, kalian ini."
Seakan tidak mengindahkan peringatan dari Nany, Azura yang sudah melihat Ara. Langsung saja menghampiranya, walaupun Elvan sudah memasang wajah dinginnya.
" Kakak ipar! Ah, benarkah ini kakak ipar? Aku sangat merindukanmu."
Plak!
Plak!
Elvan langsung memberikan hadiah pukulan pada kepala dan juga bahu Azura, disaat dia ingin menghampiri dan memeluk Ara bersama baby.
" Jiah! "
" Bee."
Biar saja sayang, aku paling tidak suka jika kamu disentuh oleh orang lain. Apalagi oleh manusia menyebalkan seperti mereka berdua, sana! Jangan sampai menyentuh istri dan anakku, kau itu membawa virus mematikan!"
Ara semakin tak bisa menaham tawanya, bersama Elliza yang juga sudah tertawa dengan kekocakan para pemain dari dunia bawah itu. Pada akhirnya, Ara menetralkan pertemuan mereka. Dengan kedatangan tamu yang juga sudah seperti keluarganya sendiri, Elvan pun harus selalu siaga dengan tingkah konyol yang diberikan Azura maupun Gael kepada istri dan anaknya. Ia tidak ingin keluarganya tertular virus menyebalkan dari mereka berdua, walaupun sebenarnya ia tidak mempermasalahkannya.
Mereka pun beradaptasi dengan cepat, sepertinya Ara dan baby menyukai kehadiran Azura serta Gael. Namun dibalik itu semua, ada Elvan yang mendengus kesal.
" Jika aku tahu begini jadinya, sudah aku tendang kalian berdua dari mansionku!" Dengan bersedekap, Elvan mulai kesal.
" Tidak baik berkata seperti itu Bee, mereka jugakan adalah keluarga kita. Lihat, baby sangat gembira." Ara memberikan pengertian kepada suaminya yang sedang dalam keadaan cemburu.
__ADS_1
Lagi dan lagi, Elvan harus mengalah dari kedua manusia menyebalkan.