
Keinginan Ara untuk bisa menyentuh si putih begitu besar, Elvan hampir putus asa dengan keinginannya kali ini. Pintu pembatas dari ruangan itu terbuka, semua orang yang berada disana sudah bersiap dan siaga dalam mengamankan situasi disana.
" Sayang!" Wajah Elvan begitu sangat panik.
Hanya senyuman dan wajah yang memelas ditempakkan Ara kepadanya, hal itu membuat Elvan seakan pasrah dengan keadaan. Mendorong kursi roda memasuki ruang tersebut, namun baru saja akan memasukinya. Si putih telah terlebih dahulu berjalan mendekati mereka, tidak ada rasa takut sedikitpun yang Ara tunjukkan. Akan tetapi, Elvan menatap tajam pada peliharaannya itu seakan mengatakan dari matanya untuk tidak menyentuh dan melukai istrinya.
" Aaum!" Si putih mengeluarkan suaranya, namun begitu halusnya.
Elvan dengan cepat menghalau menggunakan tubuhnya untuk melindungi Ara, ia tidak ingin peliharaannya itu akan menyerang istrinya. Namun semuanya itu tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan olehnya, Ara menyelipkan tangannya dari samping tubuh Elvan. Tanpa terduga, dan itu membuat semua mata yang berada disana menjadi terbelalak terbuka lebar bahkan ada yang sampai mulutnya terbuka lebar.
" Nona!" Teriak Liam yang melihat tangan Ara sudah bersentuhan dengan moncong dari si putih.
Hal itu membuat Elvan menggantikan perhatiannya, membalikkan tubuhnya untuk melihat keadaan isterinya.
" Sayang! "
Senyuman Ara kepada Elvan, membuat jantung Elvan seakan berhenti berdetak. Tangan Ara mengelus moncong dan bagian wajah hewan buas itu, bahkan si putih pun terlihat begitu nyaman mengeluskan kepalanya berulang kali.
" Bee, bisakah kamu mendekatkannya padaku? Aku ingin memeluknya, boleh?" Lagi-lagi Ara memberikan wajah memelasnya dan juga senyuman yang sangat meruntuhkan jiwa keegoisan seorang Elvan.
" Huh! Sayang, jangan membuatku menjadi seperti ini." Mengelus dadanya yang sedikit sesak, Elvan berharap tidak akan mendapatkan keinginan Ara yang lainnya. Cukup hal ini saja yang sudah membuatnya menggila.
" Boleh ya?"
" Hem."
Mendapatkan izin dari suaminya, Ara begitu antusias sekali untuk segera memeluk hewan buas tersebut. Namun Elvan mengatakan Ara untuk tetap berada pada kursi rodanya, lalu Elvan sendiri yang membawa hewan itu semakin mendekat.
" Sungguh kau sangat menggemaskan, terima kasih sudah membiarkan anakku untuk bermain denganmu. Maaf, aku tidak terlalu memahami bahasamu, tapi aku yakin kamu begitu bersahabat." Ara mengelus kepala si putih.
__ADS_1
Kenapa dia begitu menurut sekali kepada Ara? Bahkan kepadaku saja, butuh beberapa tahun agar bisa berdekatan. Istriku ini, hanya butuh hitungan menit dalam menakhlukkannya. Elvan.
" Wow! Nona Ara, aku semakin mengagumimu." Ucap Azura.
Plak!
" Sakit!"
" Sekali lagi kau memuji nona di hadapan tuan, akan aku pisahkan kepalamu itu. Dasar otak lemot!" Liam merasa geram dengan celotehan Azura yang tidak pernah berarti.
Melirikan matanya dengam tajam kepada Liam, Azura hanya berdiam diri dan tidak ingin mengeluarkan kata-kata lagi. Semuanya menaruh rasa kagum kepada istri dari tuan mereka, wanita biasa yang mereka anggap tidak mempunyai kelebihan. Akan tetapi, kini semuanya menjadi terpana dengan apa yang ada pada diri seorang Ara.
" Sayang, baby?" Elvan mengkhawatirkan kandungan Ara, ia takut jika terjadi sesuatu.
" Tidak terjadi apa-apa Bee."
" Bee, stop! Putih, jangan serang suamiku!" Ara melihat Elvan dan si putih saring menyerang.
Liam dan semuanya bergegas untuk mengamankan situasi yang begitu mencekam, mereka menarik kursi roda Ara untuk menjauh dari sana. Namun Ara menolaknya, ia bersikeras tidak mau.
" Nona, saya mohon. Ini demi keamanan nona." Dion berteriak karena situasi disana sudah begitu bising.
" Tidak! Biarkan aku disini, jangan coba-coba membawaku!" Ara turun dari kursi rodanya dan mendekati kerumunan yang sedang memisahkan Elvan dari si putih.
Putih sudah tidak terkendali menyerang Elvan, bahkan beberapa goresan dari cakarnya melukai tangan tuannya.
" Stop!" Teriak Ara dengan cukup keras dengan menahan kontraksi dari perutnya yang begitu menyakitkan.
" Akh! Sssshhh... Akh!" Ara menahan perutnya dengan berpegang pada dinding disampingnya.
__ADS_1
" Sayang! Minggir kau!"
Bugh! Dugh!
Menggunakan seluruh tenaga yang ia punya, Elvan menyingkirkan hewan buas yang besar itu dengan satu kali tendangan dari kakinya. Hingga si putih terpental dan membentur dinding.
" Sayang, kamu kenapa? Kita pergi dari sini!" Elvan meraih tubuh Ara yang bergetar menahan rasa sakit yang ada, namun ia menolak saat Elvan ingin membawanya pergi dengan menggelengkan kepalanya.
" Dengarkan aku, Ara! Cukup sudah dengan keinginanmu ini, disini sangat berbahaya untuk kalian! Turuti kataku, jangan membangkang!!" Teriakan Elvan benar-benar menggema pada bangunan itu, sepertinya sifat asli Elvna kini telah kembali lagi.
Mendapatkan teriakan dari suaminya, membuat tubuh Ara melemah. Dengan begitu mudahnya tubuh itu luruh jatuh, namun dengan sigap Elvan menangkapnya dengan sangat berhati-hati. Getaran dari tubuhnya dengan tangan menbekap mulutnya dan air mata pun telah mengalir begitu deras.
" Aaumm!" Putih dengan suaranya, menyerang semua orang yang mencoba menyingkirkan dirinya, bahkan anggota mereka telah siap dengan senjata untuk melumpuhkannya.
" Bee, ssshh. Ja jangan sa sakiti dia, di a ti dak akan menyerang kalian. Percayalah padaku, hentikan mereka Bee."
" Tidak! Lebih baik kita segera pergi dari sini, kalian urus dia. Bunuh saja jika menyulitkan kalian!" Elvan menggendong tubuh Ara untuk pergi dari sana.
Seakan keadaan sedang tidak berpihak, putih lolos dari jeratan yang menahannya dan tiba-tiba ia menyerang Elvan kembali saat membawa Ara.
" Aaum!!! Aaauumm!!!"
" Aakh!" Elvan merasakan punggungnya perih.
" Bee." Panik Ara saat Elvan meringgis.
Ara sangat kaget melihat wajah Elvan saat itu, seperti bukan Elvan yang ia kenal. Kemarahan dan jiwa gelapnya memenuhi seluruh wajah bahkan auranya.
Meletakkan Ara tanpa menatapnya, Elvan membalikkan tubuhnya. Ia mengerang dengan suara dari rahangnya yang beradu, hal itu membuat semuanya menjadi waspada dengan apa yang akan terjadi.
__ADS_1