
Hari pun berlalu , keadaan Ara kini sudah lebih membaik dari sebelumnya.
" Mom, adek dimana?" Ezra yang menghampiri Ara saat berjemur dengan sinar matahari pagi.
" Adikmu sedang bersama Daddy sayang, sini sama Mommy. Bagaimana dengan sekolahnya?" Ara menyambut Ezra ke dalam pangkuannya.
" Begitulah Mom, sangat membosankan."
Mengusap kepala Ezra dengan lembut, Ara merasa gemas dengan sikap anak sulungnya.
" Mom, apa Ezra boleh berbicara serius?" Membalikkan tubuhnya dan duduk disamping Ara, Ezra memegang telapak tangan Ara.
Memberikan senyuman sebagai tanda membolehkan, Ezra memanfaatkan keadaan dan situasi yang ada.
" Mom, ini." Ezra memberikan sebuah gambar melalui tablet mini milik sang Daddy yang ia pinjam sebelumnya.
Terlihat sebuah gambar yang menerangkan hasil pemeriksaan DNA milik dirinya dan seseorang dengan nama Rayyan, kemudian menampakan foto pasangan yang sangat mirip dengan dirinya.
"I i ni." Ara begitu tampak kaget dengan apa yang ia lihat.
" Maafkan Ezra Mom..." Ezra menjelaskan semuanya kepada Ara, mengenai kedua orangtuanya serta status Ara pada saat ini.
Ezra sudah mengantisipasi jika sesuatu terjadi pada Ara, bahkan ia sudah menyiapkan penjagaan dari kelompoknya tanpa sepengetahuan dari Elvan. Tentunya dengan kinerja Black yang cukup cepat dan rapi, begitulah Ezra.
Namun sangat disayangkan, ternyata Ara sudah lebih dahulu berdamai dengan kejadian tersebut.
" Terima kasih sayang, kamu adalah anak yang sangat baik. Mommy paham akan maksudmu nak, memang awalnya. Mommy begitu berat untuk mencernanya, akan tetapi. Mommy sangat beruntung memiliki Daddy dan juga dirimu sayang, Mommy sudah mengikhlaskan masa lalu. Dan masa depan Mommy adalah kalian, jika memang benar mereka merupakan kedua orangtua Mommy. Dalam artian, kamu mempunyai kakek dan nenek lagi." Ara mentoel hidung Ezra.
" Wah, Mommy Ezra sangatlah T O P B G T. Ezra sayang Mommy." Ezra pun memeluk Ara.
Sekeras apapun Ara untuk tidak menerima kenyataan yang ia alami saat ini, namun semuanya itu akan tetap terjadi. Kini ia harus menyiapkan jiwanya untuk tetap kuat.
" Sayang!" Suara keras Elvan mengangetkan mereka.
Dengan nafas yang memburu, Elvan langsung menyerahkan baby kepada Ara. Lalu Elvan melepaskan jas yang sudah ia kenakan untuk berangkat bekerja begitu saja, mengibas-ngibaskan tangannya dihadapan mukanya yang sudah memerah.
" Ada apa Bee, kenapa wajahmu seperti tomat begitu?" Ara sangat panik ketika melihat wajah Elvan.
__ADS_1
" Brruu bruu." Baby berceloteh dengan begitu semangat.
Elvan terus mengibaskan tangannya, namun Ezra sudah bisa menebak apa yang terjadi pada Daddynya itu. Lalu Ezra membisikan sesuatu di telinga Ara, hal itu membuat Ara tersenyum geli mendengarnya. Dengan kode dari sang anak, Ara menjauhkan dirinya bersama baby. Ezra kemudian mendekati Elvan yang masih belum fokus.
" Sepertinya, Daddy perlu tambahan udara segar." Senyum seringai Ezra kepada Elvan.
" Kau benar boy, baby membuat Daddy tidak bisa bernafas."
" Kalau begitu, Daddy mendekatlah padaku."
Tanpa menaruh rasa curiga, Elvan duduk berdampingan bersama Ezra.
" Dad, coba lihat kaki Ezra. Sepertinya ada sesuatu yang aneh."
Menundukkan sebagian tubuhnya, Elvan menuruti ucapan dari putranya itu. Namun ia tidak menemukan sesuatu yang aneh disana, baru saja ingin menaikan tubuhnya.
Ppruutt!!
" Ups! Sorry Dad, ini sungguh tidak tertahankan."
" Aargh!! Ezra!!!"
Suaran Elvan yang sangat kuat dan bergema, membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi merinding. Akan tetapi hal itu tidak berlaku untuk Ara dan Kedua putranya, mereka tertawa dengan sangat gembiranya. Karena Elvan yang sebelumnya membawa baby untuk berjalan sebentar di mansionnya itu mendadak pup, hal itu yang membuat Elvan menahan nafasnya. Baru saja terlepas dari baby, ia mendapatkan sambutan lagi dari Ezra. Tidak dapat terbayangkan wajah Elvan saat itu.
......................
Setelah pertemuan Bella dan Ray yang menyatakan status Ara adalah anaknya, saat ini Ray lebih fokus mengelola perusahaannya. Tentunya dengan semangat yang diberikan Bella, wanita yang selama ini telah mengisi jiwanya telah kembali. Hanya selangkah lagi, kebahagian mereka akan sempurna.
" Bell, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu." Ray menyapa Bella yang tengah menatap berbagai bunga fresh di tokonya.
" Hai Ray, mau bicara apa? Tidak biasanya kau meminta izin terlebih dulu padaku, dan sepertinya itu sangat serius." Bella berkata dengan membereskan pekerjaannya dan mempersilahkannya untuk duduk bersama.
Perasaan yang begitu campur aduk, sebelumnya keberanian itu sudah ia miliki. Namun secara tiba-tiba, keberanian itu hilang saat sudah berhadapan dengan Bella.
" Ray." Bella menyapa Ray yang termenung.
" Eh, iya."
__ADS_1
" Kau ingin mengatakan apa tadi?"
" Emm, se sebenarnya. Ini." Ray merubah duduknya dengan berlutut dihadapan Bella, sembari mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah.
" Apa ini, Ray?" Dengan kening yang berkerut, Bella kaget dengan sikap Ray yang secara tiba-tiba.
" Maafkan semua yang sudah aku lakukan selama ini padamu, Bella. Aku ingin memulai kembali semuanya dari awal bersamamu, dan juga anak kita. Maukah kau menikah denganku?" Ray membuka kotak kecil yang berisikan cincin berlian berwarna merah mudah, sangat menarik.
Bagaikan terkena semburan air, Bella langsung menatap wajah Ray.
" Ray, apa maksud semuanya ini?" Dengan terbata-bata, Bella menanggapi perkataan Ray.
" Will you marry me, Bella?" Ray mengulangi perkataannya.
Mata Bella sudah berkaca-kaca mendengar perkataan dari Ray kepadanya, seakan tidak percaya dengan semuanya.
" Ta tapi Ray, bagaimana dengan keluargamu?" Bella tidak bisa munafik, jika dirinya juga masih menyimpan rasa kepada Ray.
" Jika itu membuatku bahagia, mereka juga akan bahagia. Bagaimana, kau bersedia?"
Dalam keheningannya, Bella tampak merenungi setiap waktu yang kini akan menentukan kehidupannya dimasa depan.
" Tapi Ray, saat ini. Aku hanya terfokuskan dengan Ara, sebelum semuanya jelas. Aku belum bisa mengambil keputusan apapun, kuharap kamu bisa mengerti."
Ray pun dapat memahami perasaan Bella, ia pun masih memikirkan keputusan apa yang akan diberikan oleh anakknya kepada mereka berdua. Setelah sekian lama terpisahkan, kini berharap akan segera berkumpul kembali.
" Baiklah, aku menangih ucapanmu. Setelah keputusan itu diberikan, aku harap kau juga bisa memberikan untukku. Terima kasih, sudah menjadi wanita terbaik untukku dan anak kita." Senyuman Ray membuat Bella menjadi salah tingkah dihadapannya.
Namun jauh di negara tak bernama, seseorang sedang merencanakan sesuatu yang akan mereka lakukan.
" Bagaimana, apa semuanya sudah siap?"
" Semuanya sudah siap tuan, sebentar lagi kita akan beraksi."
Senyum seringai dari wajahnya, mengisyaratkan sesuatu yang tidak baik.
Kalian akan merasakan pembalasan dariku, bersiaplah untuk itu semua.
__ADS_1