
Sebelumnya...
" Nany, Oma. Mommy dimana? Jangan bohong sama Ezra." Setelah dari kamarnya, Ezra segera turun.
Ya ampun anak ini, benar-benar mewarisi akhlak Daddynya. Nany.
" Lebih baik kamu duduk dulu sayang, sini sama Oma." Elliza menepuk tempat disebelah ia duduk.
" Ayolah Oma, jika Oma dan Nany tidak mau memberitahukannya. Ezra akan mencari tahu sendiri." Wajah Ezra berubah menjadi sangat serius.
Elliza dan Nany saling bertatapan satu sama lain, mereka harus bagaimana untuk menyampaikan tentang keadaan Ara.
" Kau ini, selalu saja membuat kami berdua tidak bisa menyembunyikan suatu rahasia apapun. Baiklah, duduk dulu. Nany akan memberitahukannya kepadamu."
Berjalan dengan wajah datar dan dinginnya, Ezra kini telah duduk manis bersebelahan dengan Elliza.
" Mommymu sedang berada di rumah sakit, tapi tenang saja. Keadaannya ba..."
" Apa! Mommy di rumah sakit!"
" Is anak ini, jangam berteriak. Nany sudah tua, jantung ini sudah tidak kuat mendengar suaramu itu. " Protes Nany yang di iringi senyuman Elliza, memang benar-benar keturunan seorang Elvan.
__ADS_1
" Hei! Mau kemana?!" Kini Nany balik berteriak, saat mendapati Ezra yang beranjak darinya dengan cepat dan berlarian menuju pintu utama.
" Rumah sakit!" Balas Ezra singkat.
" Tunggu sayang! Aduh, sama siapa kamu mau kesananya? Ezra!" Elliza ikut berteriak kepada cucunya.
" Tenang saja Oma, Ezra bersama paman Dion!" Sambil berlalu melanjutkan langkahnya, Ezra melambaikan tangannya tanpa berbalik.
......................
" Mommy! Mommy tidak apa-apa kan?" Serang Ezra saat sudah berhadapan dengan kedua orang tuanya.
Melihat ke dua orang yang kini sangat berarti bagi hidupnya, Elvan tersenyum bahagia. Namun baru saja ia sadari, jika hal itu sudah membuatnya menjadi cemburu.
" Boy, kau tidak merindukan Daddy?" Ujar Elvan yang menatap Ezra dengan begitu penuh.
Bagi Ezra, sikap Elvan begitu padanya adalah hal yang biasa. Setiap kali ia sedang bersama sang Mommy, Elvan akan selalu berusaha menjauhkannya. Bukan Ezra jika tidak bisa mengalihkan semuanya itu, bahkan Elvan pum bisa ia buat tidak berdaya. Ia tetap mengabaikan Elvan yang terus merengek, agar dirinya menjauhi Ara.
" Boy, jangan sampai kesabaran Daddymu ini melayang. Oke!" Elvan mulai memberikan tekanan pada ucapannya.
" Bee, biarkan saja. Jangan terlalu seperti itu, jika mau. Ayo ikut gabung." Dengan senyuman anehnya, Ara melirik Elvan yang sudah sangat kepanasan melihat kedekatannya pada Ezra.
__ADS_1
" Sayang, ah kalian ini."
Mengacak-acak rambutnya dengan kuat, pada akhirnya Elvan harus mengakui kemenangan puteranya yang sudah sangat menguasai Mommynya. Ikut bergabung dalam pelukan keduanya, Elvan memberikan kecupan pada setiap puncak kepala Ezra dan Ara.
Aku berharap, kebahagian ini selamanya akan selalu terjaga sampai maut memisahkan. Terima kasih sayang, semenjak dirimu hadir di dalam hidupku. Bertemu denganmu, adalah takdirku yang menjadi teman hidupmu. Dengan berbagai peristiwa yang kita lalui bersama, sehingga kebahagian itu selalu hadir, hal itu pun semakin besar dengan kehadiran Ezra dalam hidup kita. Tetaplah disisiku sayang. Apapun yang akan terjadi, kau akan tetap menjadi milikku, Ara. Elvan.
" Dad, lepaskan. Ini membuatku tidak bisa bernafas!"
Disaat Elvan sedang berbincang dengan hatinya, dan itu pun membuatnya tersentuh. Dan kini semuanya buyar, hilang seketika oleh ulah Ezra. Elvan pun melepas pelukannya dari tubuh keduanya, akan tetapi itu hanya bersifaf sementara saja. Ketika tangan kekar itu terlepas dan Ezra berpindah tempat dengan segera, ia menatap Elvan sangat tajam.
" Daddy, nanti Mommy tidak bisa bernafas!" Ezra memprotes karena Elvan kembali memeluk Ara dan memamerkannya pada Ezra dengan tatapan yang menyindir.
Dengan menyaksikan tingkah laku kedua prianya, Ara menjadi tersenyum-senyum sendiri. Ezra menarik tangan Elvan agar menjauh dari Ara, sungguh indahnya pemandangan saat itu. Puas dengan aksi mereka, Elvan maupun Ara perlahan-lahan memberitahukan kepada Ezra tentang kehamilan itu. Awalnya Ezra hanya diam, mendengar perkataan kedua orang tuanya. Jika ia akan mempunyai adik lagi, diamnya Ezra membuat Ara dan Elvan menjadi bingung akan perasaan yang dirasakan oleh anaknya. Bahkan Ara sempat takut, bahwa Ezra akan menolak berita kehamilan dirinya.
" Boy."
Tatapan Ezra kini tertuju pada Ara dan Elvan, namun wajahnya belum memberikan arti apa-apa. Tiba-tiba saja, Ezra memeluk perut Ara dan menyingkirkan tubuh Daddynya.
" Benarkah disini ada adeknya Ezra? Kalau benar, adek jangan nakal dan membuat Mommy capek ya. Nanti biar kakak yang akan jagain adek, betul kan Mom Dad?"
Kaget dengan apa yang di ucapkan oleh Ezra, Ara langsung menganggukkan kepalanya dan disusul oleh Elvan. Kebahagian itu semakin bertambah, dengan adanya tanggapan positif dari Ezra.
__ADS_1