Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
104.


__ADS_3

Meletakkan Ara tanpa menatapnya, Elvan membalikkan tubuhnya. Ia mengerang dengan suara dari rahangnya yang beradu, hal itu membuat semuanya menjadi waspada dengan apa yang akan terjadi.


" Aku merawat dan membesarkanmu selama ini, dan kali ini kau menyerang istri dan tuanmu sendiri!! Lebih baik kau pergilah ke alam lain!!" Kemarahan Elva begitu tak terbendung, ia merampas senjata dari tangan anggotanya dan mengarahkannya kepada hewan buas itu.


" Bee, jangan! Bee." Ucap Ara dengan lirih saat melihat Elvan ingin menembak putih.


" Diam!!!"


" Aauumm" Putih mengaum dengan keras, seakan ia juga marah terhadap Elvan.


Bersiap untuk menerkam Elvan, Putih melompat ke arah Elvan. Akan tetapi, disaat ia baru saja akan melompat. Elvan melepaskan anak peluru dari senjata yang berada di tangannya.


Dor!


Dor!


Dor!


Dor!


" Tidak!!" Teriak Ara.


Empat anak peluru yang terlepas dengan begitu cepat dan menembus tubuh hewan berbulu warna putih itu, membuatnya tumbang seketika, bahkan Elvan akan melepaskan satu anak peluru lagi kepadanya.


" Ja jangan Bee, ku mohon." Ara menarik tangan Elvan dengan lemah.


Seakan tidak menggubris ucapan Ara, Elvan mengacuhkannya dan menghempaskan senjata dari tangannya dengan cukup keras.

__ADS_1


Brak!


" Aarkh!" Ara mencoba menahan sekuat tenaganya agar tidak berteriak, ia khawatir jika suaminya itu akan semakin murka.


Namun semuanya itu membuat tubuh Ara terhempas dengan cukup kuat, terdengar seperti sesuatu yang baru saja dilemparkan.


Bugh!


" Nona!" Teriakan hampir dari seluruh orang yang berada disana.


Begitupun pada Elvan, mendengar semuanya yang terjadi. Ia menatap tajam pada Ara yang sedang menahan rasa sakit, ingin rasanya ia menembak kepalanya dan menghukum dirinya atas kejadian tersebut.


Ada suatu peristiwa yang cukup membuat suasana begitu mencekam, putih yang sudah terkapar dan berlumuran dengan darah. Menyeret tubuhnya mendekati Ara yang merintih, tanpa disadari oleh Ara. Hewan buas itu mencium perut besarnya dan meletakkan kepalanya diatas kaki Ara yang lurus, seperti ingin berbicara melalui sorot matanya. Nafas si putih perlahan mulai teratur dan menghilang, tanggis Ara semakin menjadi akan tetapi semuanya itu terjadi dalam diamnya Ara yang secara mendadak. Tidak ada rintihan dan juga suara yang sedang menahan rasa sakit, Elvan menyingkirkan putih dari kaki Ara. Mengambil alih tubuh istrinya dan membawanya meninggalkan markas mereka, memasukan Ara ke dalam mobil dan ia bergegas menuju rumah sakit. Sambil melajukan kendaraannya dengan panik, Elvan menghubungi dokter kandungan Ara untuk segera datang dan menjelaskan bagaimana kondisi Ara saat ini.


Selama dalam perjalanan, Ara tidak mengeluarkan sepatah katapun. Bahkan tubuhnya seakan tidak bisa digerakan, hanya sorot matanya yang menatap ke luar jendela mobil disertai airmata yang terus mengalir.


Kecepatan laju mobil yang Elvan kendarai sudah seperti hembusan angin kencang, kepanikan Elvan semakim bertambah saat matanya menangkap aliran darah telah mengalir turun pada pergelangan kaki Ara.


" Sayang, ada darah pada kakimu. Kamu tidak apa-apa kan? Jawabalah, Ara! Argh!" Elvan berkali-kali menghantamkan kepalan tangannya pada kemudi dihadapannya, ia begitu menyesali hal ini terjadi.


Mempercepat perjalanan mereka untuk tiba di mansion, kini mobil itu telah berhenti tepat di depan ruangan yang bertuliskan Instalasi Gawat Darurat. Begitu cepat Elvan bergegas keluar dari mobilnya dan membuka pintu bagian sampingnya, kedua mata Ara tertutup.


" Sayang, sayang bangunlah! Sayang!" Menepuk-nepuk pipi Ara, tetapi tidak ada respon.


Dokter dan juga beberapa perawat telah bersiap dengan apa yang sudah diarahkan sebelumnya oleh sang dokter, keadaan Ara sudah tidak sadarkan diri dengan aliran darah yang terus mengalir terlihat pada kedua kakinya. Elvan hanya bisa menunggu dari luar, saat Ara telah masuk ke dalam ruangan.


Dalam keadaan yang begitu kalut, Elvan berjalan seperti setrikaan yang maju dan mundur dengan berulang kali didepan ruangan tersebut.

__ADS_1


" Tuan." Hugo dan beberapa anggota mereka baru saja tiba.


Kedatangan Hugo di acuhkan oleh Elvan, pikirannya ia hanya berfokus pada Ara untuk saat ini.


Klek!


Pintu ruangan tersebut terbuka, terlihat seorang dokter keluar dari sana dan menghampiri Elvan dengan bergegas.


" Tuan Elvan, keadaan istri anda saat ini begitu shock dan bayi yang berada dalam kandungannya sudah melemah. Mau tidak mau, operasi harus kita lakukan untuk menyelamatkan keduanya."


" A a apa?" Tubuh Elvan sedikit terhuyung, Hugo menahannya agar tidak terjatuh.


" Benar tuan, namun anda tidak perlu khawatir. Karena usia kandungan istri anda sudah memasuki bulannya, hanya saja untuk proses kelahirannya kita percepat. Khawatir dengan keadaan bayi yang melemah, pendarahan juga terus terjadi dengan kondisi ibunya yang seperti ini. Bagaimana tuan, persetujuan dari anda yang kami tunggu."


Keterdiaman Elvan kembali terjadi, Hugo berulang kali mencoba menyadarkan Elvan dari keterkejutannya atas keadaan nona mereka.


" Lakukan saja dokter, selamatkan Mommy dan adek. Lakukanlah!"


Suara tegas terdengar, ruapanya Ezra juga sudah berada disana.


Bugh!


Dugh!


Pukulan dan tendangan dari Ezra, akhirnya menyadarkan Elvan. Rasa sakit yang sangat luar biasa, dari kekuatan seorang anak kecil yang di luar nalar. Akhirnya Elvan menyetujui tindakan untuk mengoperasi istrinya.


" Akan kubuat perhitungan padamu Dad!"

__ADS_1


__ADS_2