
" Baby, ayo kita ke taman dulu. Sebelum sinar mataharinya semakin panas, oh iya Tami. Nanti jangan lupa ingatkan saya untuk menelfon Rara ya, sepertinya Mami sedang tidak enak badan."
" Baik nona, akan saya ingatkan nanti." Mereka pun berjalan menuju taman di samping mansion, yang biasa ia dan suaminya menghabiskan waktu di pagi dan sore hari pada saat akhir pekan.
Tami adalah bodyguard yang ditugaskan Elvan untuk menjaga Ara, ia merupakan lulusan terbaik di akademi dan juga sangat bertanggung jawab akan sesuatu yang diamanahkan kepada dirinya. Berpenampilan cukup menarik, bahkan orang yang melihatnya tidak akan percaya akan kepiawaiannya dalam seni bela diri.
Larut dalam kebahagian bersama sang buah hati, Ara melupakan seseorang yang telah menghubungi dirinya melalui ponsel miliknya secara berulang kali. Namun sayangnya, ponselnya berada di atas nakas tempat tidur. Masih mengamati dan menjaga nonanya, ponsel Tami bergetar. Ia pun bergegas untuk menerima panggilan tersebut, jika tidak tamatlah dia.
" Dimana istriku?!" Suara Elvan yang begitu sangat tinggi dan juga menyeramkan, terdengar dari balik ponsel milik Tami.
Aih! Telingaku bisa sakit kalau begini terus, dasar budak cinta. Hilanglah harga dirinya jika sudah berhadapan dengan nona, benar-benar dua sisi yang berdeda. Dihadapan istri menjadi anak kucing, sedangkan saat diluar seperti singa kelaparan, huh. Tami.
" Hei! Kau ingin mati, hah!" Suara teriakan Elvan menyadarkan Tami dari alam pikirannya.
" Eee iya tuan, nona sedang berada di taman."
" Berikan ponselmu padanya."
Tanpa menjawab, Tami segera berlari secepat mungkin mendekati nonanya dan menyerahkan ponsel tersebut kepadanya.
" Hallo Bee, ada apa?" Dengan begitu polosnya, Ara bertanya kepada Elvan.
" Sayang! Kamu dan baby nggak apa-apa kan? Tidak ada sesuatu yang aneh atau Tami tidak menjaga kalian? Kenapa telfonnya tidak dijawab." Nada ucapan Elvan begitu memelas, seperti ketakutan akan kehilangan.
Ara menyerahkan babynya kepada Tami untuk sementara, dengan malasnya ia harus menghadapi suaminya yang sedang dalam keadaan butuh perhatian.
__ADS_1
" Maaf Bee, ponselnya ketinggalan di kamar. Tadi buru-buru mau berjemur bersama baby, disini aman. Tenang saja, Tami juga selalu bersama kami." Begitu tenang, Ara menghadapi suaminya.
" Lain kali jangan di ulangi lagi sayang, tahu tidak. Karena hal ini, semua pekerjaan menjadi tertunda. "
" Hem, maafkan kami jika telah membuat pekerjanmu tertunda Bee." Ucapan Ara terdengar sangat sedih.
" Ah tidak sayang, jangan berpikiran yang tidak-tidak. Setelah mengetahui keadaan kalian, semangat itu kembali membara. Oh ya sayang, jangan kemana-mana tanpa Tami. Oke! Titip salam untuk baby, love you sayang." Elvan tidak ingin membuat Ara merasa sedih atas ucapan yang ia katakan padanya.
" Iya Bee, cepat pulang ya." Pembicaraan pun selesai, Ara kembali membawa baby untuk segera masuk ke dalam mansion, karena sinar matahari sudah lebih hangat daripada sebelumnya.
Setelah menghantarkan Ara kembali ke dalam kamarnya, Tami segera menghubungi Rara untuk datang. Sembari menunggu kedatangan Rara dan juga perintah yang lainnya. Tami berinisiatif untuk mengecek keadaan mansion, baik dari kamera pengawas dan juga mengelilingi sendiri. Di dalam rekaman kamera pengawas, tidak terjadi sesuatu yang mencurigakan. Dengan dibantu oleh Jefri, Tami mulai menyelusuri keadaan mansion.
" Bagaimana, apa ada sesuatu yang mencurigakan?" Tanya Jefri yang baru saja selesai dengan pengecekan lingkungan luar dari mansion.
" Seperti apa yang kau maksud?" Jefri meminta penjelasan yang lebih lengkap, agar ia juga bisa menyimpulkan.
" Aku masih menyelidikinya, semoga saja perkiraanku tidak meleset. Coba kau perhatikan gerak-gerik salah satu pelayan wanita disana, aku tidak tahu pasti siapa dan tujuannya. Aku harap tidak ada yang berani bermain kotor untuk mencelakai anggota mansion, terutama pada nona Ara dan babynya. "
Seperti sedang berpikir, Jefri tidak bisa membantah perkataan Tami. Hal itu memang benar adanya, sewaktu ada Friska. Dialah yang selalu mencari masalah dan kini ia sudah berada dalam keabadian, untuk kali ini. Jefri harus dengam sabar dan teliti untuk menemukan kecurigaan Tami dan ia sendiri, tentunya mereka tidak ingin membuat tuannya menjadi murka.
" Akan aku coba selidiki, bersikaplah normal seperti biasanya. Agar tidak mengundang perhatian banyak orang dan mengurangi rasa curiga, ya sudah. Lebih baik kita kembali pada posisi semula, akan aku hubungi jika menemukan sesuatu."
Lalu Jefri dan Tami berpencar, kembali pada tugas dan tanggung jawab mereka.
......................
__ADS_1
Keadaan dunia bawah sedang dalam tidak baik-baik saja, saat ini Liam dan juga Dion sedang mengatasi serangan melalui jaringan yang mereka miliki. Bagi Liam, dunia informasi dan tekhnologi adalah makanannya sehari-hari. Biasanya dengan sangat mudah ia akan menyelesaikan permasalah pada suatu jaringan, namun tidak dengan kali ini. Berbagai serangan dari berbagai bentuk sampai virus yang begitu kuat, berusaha merusak dan mencuri data-data penting yang dimiliki oleh kelompok mereka.
Begitupun pada perusahaan Blade Company, semua sistem database mereka terkena virus. Jack yang mulai kewalahan dalam menangani hal tersebut, berusaha dengan semaksimal mungkin untuk melindungi data mereka.
" Bagaimana Jack? " Elvan dengan wajah dinginnya, menatap layar datar dihadapannya dengan tajam.
" Mereka terus menyerang tuan, Liam juga mengabarkan jika jaringan markas juga ikut diserang!" Dengan mata yang masih menatap layar datar, Jack juga menyampaikan hal yang terjadi serupa.
" Akh! Temukan mereka, rupanya mau bermain-main denganku!" Erang Elvan yang masih menatap pekerjaan Jack.
Bagaikan kerja lembur, Jack semakin dibuat kewalahan oleh serangan tersebut. Gerakannya itu tak luput dari perhatian Elvan, namun untuk hasilnya masih jauh dari apa yang diharapkan.
" Minggir!" Elvan menarik bahu Jack untuk menyingkir dari tempatnya dengan sangat kuat, sehingga membuat Jack hampir saja terjerembab ke lantai.
Huf! Hampir saja, tuan benar-benar menyeramkan kalau sudah begini. Jack.
Tanpa diketahui oleh anggotanya, serangan itu sudah memasuki jaringan terpenting yang mereka miliki. Dan hal tersebut membuat Jack dan juga Liam semakin khawatir dengan apa yang mereka alami saat itu, seluruh karyawaan perusahaan juga ikut panik dengan pemberitahuan akan kejadian yang di alami oleh perusahaan mereka.
Dari salah satu bangunan yang cukup jauh, tampak seorang pria sedang tersenyum akan keberhasilan dari pekerjaannya.
" Heh, kali ini kau akan musnah Elvan. Tidak akan aku biarkan kau selalu bisa hidup dalam kenyamanan, lihat saja. Hanya dengan sentuhan halus orang kepercayaanku, perusahaan dan semua kerahasianmu akan berpindah kepadaku." Xavier dengan sangat percaya diri, berkeyakinan jika dirinya akan memenangkan serangan itu.
Merayakan kemenangan yang hampir ia dapatkan, dengan meminum beberapa gelas wine terbaik di dunia. Xavier mulai terlena dengan kebahagiannya, hingga saatnya ia tersedak akan perkataan dari Alan.
" Tidak! Bagaimana bisa seperti ini!"
__ADS_1